Saat Manusia Berevolusi dan Berubah Total

10.28


Manusia itu lucu. Beberapa tahun yang lalu dia mencerca sesuatu. Namun saat ini, dia kemudian membelanya bahkan menjadi sesuatu yang sebelumnya dia hina mati-matian. Begitulah.

Kehidupan, memang selalu berubah. Termasuk segala hal di dalamnya. Bahkan ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa yang tak pernah berubah dalam hidup ini adalah perubahan. Manusia pun berubah. Hal itu sangatlah wajar. Tetapi sayangnya banyak yang tak menyadari kalau suatu saat, kita akan berubah. Terlalu pongah untuk menyadari hal tersebut.

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan berita mengenai reshuffle kabinet: pergantian beberapa menteri. Hal tersebut sontak menimbulkan banyak komentar dan perdebatan. Ya wajar saja, mengingat pemerintah kan memang bertanggung jawab terhadap kita. Tetapi saya gerah saja melihat banyak orang yang sok tau terhadap keputusan presiden, dan sok memahami perkara reshuffle ini.

Perilaku sok ini kebanyakan saya temukan pada mahasiswa. Memang sih, mahasiswa itu gudangnya kritik. Maklum, mereka masih mencari jati diri dan belum banyak tahu dunia. Saya pun jadi ingat tentang teman saya yang ketika masih mahasiswa, dia menjadi orang yang selalu berkomentar pedas mengenai pemerintah. Setelah dia lulus, justru dia "merapat" pada pemerintah: menjadi bagian dari mereka, menjilat beberapa politikus yang dulu dia hina-hina, dan mengkritik mereka yang menghina pemerintah.



Dalam masalah reshuffle kabinet ini, di saat beberapa teman saya yang sudah lulus mengkritik kebijakan Presiden yang sarat akan nuansa politik, dia mati-matian membela. Saya tidak perlu menyebutkan di mana posisinya dalam pemerintahan dan politik saat ini, tapi dia berada pada pihak yang diuntungkan oleh pemerintah dan partai politik yang mengusung pemerintah itu. Padahal dulu doa selalu mengkritik pemerintahan Indonesia. Mengkritik partai-partai politik.

Ada pula, yang saat masih mahasiswa, begitu membela pemerintah yang saat ini dan sangat getol mempromosikannya pada Pilpres 2014. Saat ini, dia sudah lulus, dan kemudian malah berbalik mengkritik pedas pemerintahan. Katanya, pemerintah saat ini tidak punya taji. Memilih menteri bukan karena kemampuan, tapi karena bagi-bagi jatah. Padahal masih ingat saya dengan betapa arogannya dia membela pilihannya pada saat Pilpres dua tahun lalu.

Lantas, mengapa mereka berubah?




Yah, mungkin seperti yang pernah dikatakan oleh Friedrich Nietzsche, manusia punya kehendak untuk berkuasa, meskipun banyak di antara manusia yang menyangkal hal tersebut. Ketika kita masih berstatus mahasiswa, sikap kritis seolah menjadi sebuah hal yang dapat mengukuhkan eksistensi dan "kekuasaan" kita. Seperti yang kita lihat, mahasiswa yang vokal cenderung lebih dikenal dan mendapatkan panggung. Namun ketika kita sudah lulus dan dihadapkan pada kenyataan hidup, kita pun menyadari bahwa uang menjadi elemen yang sangat penting. Banyak di antara kita yang kemudian memutuskan untuk mengejar hal tersebut dan melepas idealisme-idealisme yang dulu melekat pada kita saat masih menjadi mahasiswa.

Kita tidak bisa memaksa orang untuk tetap berjalan di jalur yang dulu pernah dia tapaki. Toh memang manusia berubah. Manusia beradaptasi dengan keadaan. Tapi ya siap-siap saja berhadapan dengan rasa malu, bila dulu kita begitu percaya diri dan membela mati-matian jalan yang kita pilih, kemudian sekarang malah "berkhianat" pada jalur tersebut.

Pelajaran yang bisa diambil? Jangan terlalu mati-matian membela sesuatu di hari sekarang. Jangan terlalu banyak bicara tentang apa yang kita bela dan kita yakini, karena kita tidak tahu kapan kita akan berubah, dan bagaimana cara kita berubah.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe