Kenyataan Semu Pokémon Go

15.51


Sudah tahu tren permainan Pokémon Go? Kamu pasti tahu bahwa banyak orang yang hampir melupakan dunia nyatanya karena permainan ini. Pasalnya, Pokémon Go merupakan permainan yang menggabungkan dunia nyata dan dunia maya. Semacam Augmented Reality.


Kita diharuskan untuk menempuh jarak beberapa kilometer untuk menetaskan telur Pokémon, berjalan kaki untuk
menemukan Pokéstop atau Gym Pokémon terdekat, juga mencari Pokémon. Pokémon bisa muncul kapan saja, dan saat ditangkap, apabila kita menggunakan mode Augmented Reality,maka handphone kita akan menyalakan kamera dan seolah Pokémon tersebut tertangkap oleh kamera, tengah berada di depan kita. 

Uniknya, beberapa tempat seolah menjadi habitat bagi Pokémon-Pokémon tertentu. Saat kita berada di dekat sungai misalnya, kita bisa menemukan Pokémon Staryu (Bintang laut), atau Pokémon Magikarp (Ikan). Semakin banyak mengumpulkan Pokémon, maka kekuatan kita semakin besar, dan bisa mengalahkan pemain lain di gym lawan.


Permainan tersebut, seolah menelusup ke dunia nyata kita, bukan? Tak heran bila hampir semua muda-mudi di Indonesia menggemarinya. Di kota-kota besar, bila kita tengah berada di taman atau tempat publik lain, niscaya kita akan menemukan orang-orang yang tengah bermain Pokémon Go, mencari Pokémon seolah-olah Pokémon-Pokémon tersebut betul-betul ada dan berharga.

Selain masalah teknologi dan kenangan, tren ini tak bisa dilepaskan dari kecintaan muda-mudi yan kini telah beranjak dewasa ini dari Pokémon yang sempat memeriahkan hidup mereka di masa kecil dulu. Saat kecil dulu, hampir semua anak-anak bermimpi menjadi Ash Ketchum, sang Pokémon trainer andalan kita semua yang punya kekhasan topi warna putih-merah. Mereka berharap Pokémon benar-benar ada dan bisa ditangkap. Karena Pokémon bukan hewan peliharaan biasa. 

Seperti Pikachu, misalnya. Selain imut, Pokémon spesies tikus ini bisa mengeluarkan listrik, bisa memahami perasaan kita walaupun hanya mampu berucap "Pika-pika" dan juga bisa berevolusi! Seperti halnya Pokémon lain. Juga tentunya, bisa ditandingkan dan menjadi "penjaga".


Keberadaan Pokémon Go! dengan konsep Augmented Reality ini seolah mewujudkan mimpi tersebut.


Jean Baudrillard, seorang filsuf sosial Prancis pernah membuat teori bernama Simulacra. Simulacra adalah dunia yang dibentuk mirip dengan dunia asli. Mirip di sini bukan berarti sesuai dengan kenyataan, tetapi dunia tersebut menjelma seperti dunia baru yang dapat "dihidupi" oleh banyak orang. 

Saat bermain video game, orang-orang menjadi lupa sejenak dengan dunia nyatanya, karena video game adalah ruang yang dibentuk oleh Simulacra. Dunia yang baru, yang berada di atas realitas, atau biasa disebut hiperrealitas (semacam kenyataan yang dilebih-lebihkan).



Dalam batas waktu dan cara yang wajar, tak apa sebetulnya mengalihkan perhatian dari dunia nyata ke dunia simulasi ini, karena game dapat mengatasi jenuh dan menyegarkan otak. Namun bila kita terlalu ketagihan pada dunia simulasi yang diberikan oleh game, melupakan dunia nyata, bahkan membahayakan dunia nyata itu sendiri, hal tersebut menjadi masalah besar. 

Misalnya, kita terlalu ketagihan dengan Pokémon Go,hingga menghabiskan waktu untuk menatap layar ponsel, atau begitu ingin menangkap Pokémon langka tanpa mempedulikan bahwa kita tengah menyeberang jalan. Ada yang perlu ditanyakan dari kewarasan kita bila kita sudah sampai pada tahap tersebut.


Kamu sendiri, apakah dunia nyatamu tersita oleh dunia simulasi semacam Pokémon Go?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe