Istri-Istri dan Cinta Kelewat Buta

09.49


Belum lama ini, saya habis membodoh-bodohi teman saya yang memaafkan suaminya yang berselingkuh. Saya bilang, dia tidak mencintai dirinya sendiri, karena bisa dengan mudah menerima kembali seseorang hanya karena dia terlihat menyesal. Padahal saya rasa, suaminya tidak berubah. Dia hanya takut tak bisa menemukan perempuan sebaik teman saya.



Tapi ternyata, level cinta dan pengorbanan teman saya itu belum ada apa-apanya ketimbang salah seorang istri teroris yang baru saja menyerahkan diri usai suaminya ditembak mati. Ialah Jumiatun, yang dikenal dengan sebutan Umi Delima, istri dari Abu Wardah Santoso, pemimpin kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) yang berlokasi di Poso, Sulawesi Tengah. Disinyalir, kelompok MIT ini berafiliasi dengan ISIS atau Islamic State Iraq and Syria, yang sudah kita kenal betul sebagai organisasi teroris paling dimusuhi saat ini



Santoso tewas terbunuh saat baku tembak dengan Satgas Tinombala di Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah pada Hari Senin, 18 Juli 2016 lalu. Istri Santoso tersebut kemudian melarikan diri. Namun karena tidak kuat, dia meninggalkan senjatanya, dan kemudian menyerahkan diri.


Saat menyerahkan diri, kondisi Umi Delima tengah dilanda lapar dan penyakit kulit. Melarikan diri di hutan, sendirian, jelas bukan hal yang mudah. Mungkin kalau saya, akan mengutuki suami yang sudah meninggal karena meninggalkan saya dalam keadaan seperti itu. Saya mendapatkan imbas dari perilaku dia. Sementara itu, suami saya berharap bertemu bidadari surga setelah meninggal. Bidadarinya bukan saya. Padahal saya ingin berada di surga bersamanya setelah mati nanti.





Saat kita menjadi suami istri, ada sebuah kompromi. Karena pernikahan adalah sebuah team work. Suami, dengan fisik yang lebih kuat, wajib mengayomi dan menafkahi istri. Sementara itu, istri, dengan keahlian multitasking, dan tentunya kepekaan lebih, wajib mengurus rumah tangga dan anak. Tak masalah kalau sambil bekerja, karena itu adalah pilihan. Namun keduanya mesti saling menghormati. Suami melindungi istri, istri mematuhi suami.



Tapi kepatuhan ini semestinya ada syaratnya. Tidak seharusnya kita mematuhi suami yang merugikan orang lain. Apalagi yang sepertinya sengaja meletakkan kita dalam bahaya. Contohnya ya, suami semacam teroris Santoso ini. Atau contoh lain, masih ingatkah dengan Ade Irma Suryani, perempuan yang membebaskan suaminya dari penjara dengan membawakan cadar? Suami yang telah memperkosa dan membunuh keponakannya sendiri.


Ya, cinta itu kadang irrasional. Meskipun begitu, banyak tindakan irrasional yang membuat saya begitu ingin kembali menyekolahkan banyak orang. Bayangkan saja. Mengingat mantan dari suami saja saya marah, bagaimana kalau suami saya meletakkan saya dalam keadaan bahaya di kelompok terorisnya, atau memperkosa orang? Mungkin suami saya akan tinggal nama.


Tapi perkara Umi Delima, mungkin cintanya terlalu buta hingga melumpuhkan ilmu dan otaknya. Segala kelakuan dan perkataan suaminya jadi semacam sabda sakti. Dia meyakini segala keyakinan suaminya sebagai jalan surga, bukan teroris.


Beginilah mungkin bila kita dididik secara salah dalam memperlakukan suami. Sekali lagi,suami memang wajib dipatuhi. Tapi ketika dia salah, adalah kewajiban istri untuk meluruskan. Bukannya hanya bisa menurut saja. Bagaimana mungkin orang yang tidak punya inisiatif bisa menjadi Ibu? Seorang Ibu mestilah tegas. Bukan berani pada suami, tidak. Tapi mematuhi dan memberikan yang terbaik kepada suami, termasuk nasehat.


Bukankah setiap agama juga mengajarkan begitu? Tapi kita seringkali tak mau belajar menafsirkan ajaran agama kita, dan hanya menelan bulat-bulat apa yang dikatakan orang lain.


Maka dari itu, bila kamu punya anak perempuan, ajarkanlah dia untuk menjadi tegas. Ajarkan dia bahwa kasih sayang bukanlah cinta buta. Ajarkanlah dia untuk menjadi penerang bagi orang yang menuntunnya, dan bukan seperti barang bawaan yang hanya menurut saja saat dibawa dan ditarik ke mana-mana. Ibu yang lemah akan melahirkan anak yang tak bisa apa-apa.


Ajarkanlah dia untuk mencintai secara manusiawi. Seperti kata Erich Fromm, seorang psikoanalis Jerman: Kalau kukatakan "Aku cinta padamu", sumpah yang kunyatakan, "Aku mencintai kemanusiaan yang ada padamu, semua kehidupan serta diriku yang ada dan hidup padamu. Cinta itu perkara mencintai kemanusiaan dan tentang bagaimana kita tetap hidup sebagai manusia, meskipun pikiran kita telah terikat pada sesosok manusia.

Sumber Foto:
dari berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe