Diskon Jelang Lebaran dan Kemenangan Utopis

14.06



Great Sale. Tulisan itulah yang tertera dengan gagahnya di setiap reklame dan spanduk-spanduk gedung menjelang lebaran. Semua barang, terutama yang berkaitan dengan fesyen, banting harga. Semua merk. Mulai dari lokal hingga merk internasional.


Ramai? Tentu saja. Apalagi saat midnight sale di mall-mall kota besar. Malam larut dan rasa kantuk tak menghalangi sebagian besar masyarakat untuk menyemut di mall, mengerubungi keranjang-keranjang dengan potongan harga besar, dan mengantre di kasir. Pasalnya, potongan harganya tak main-main: bisa sampai 80 %. Ini cukup menggiurkan.


Salah satu mall yang padat pengunjung saat midnight sale beberapa waktu lalu adalah Grand Indonesia. Beberapa toko memberi peraturan bagi pengunjung untuk masuk bergantian karena ruang toko tak cukup untuk menampung mereka. Mirip dengan antrian sembako. Bedanya, orang-orang di sana adalah mereka yang antri dengan anggun, menggunakan heels dan sepatu-sepatu kulit, sambil menenteng tas-tas manis.


Terbayang bukan minat besar masyarakat terhadap barang sandang jelang Ramadhan? Maklum, selain maaf-maafan, punya baju baru kan juga tradisi lebaran. Rasanya kok tidak afdol saja memakai baju yang lama. Padahal, dalam Idulfitri sebetulnya diajarkan nilai-nilai kebersamaan dan kesederhanaan. Ingat kan dengan petikan lirik lagu kanak-kanak berjudul "Baju Baru?" Buat apa berpesta-pesta, kalau kalah puasanya.


Lagipula, diskon besar-besaran membuat pembeli merasa menang. Mereka merasa untung besar, karena bisa membeli barang tertentu dengan harga separuhnya saja. Mereka merasa bahwa produsen rugi dan mereka berada di atas awan. Mereka merasa tindakan membeli barang diskon adalah bentuk penghematan. Ini adalah salah satu ciri masyarakat konsumeris: membeli barang yang sebetulnya tak mereka butuhkan.


Padahal, di balik layar, produksi akan bernafas lega. Semua barang produksinya akhirnya habis. Meskipun tidak dengan harga tinggi, setidaknya mereka tak rugi. Dan masyarakat tak tahu bahwa barang obralan pun, harganya masih di atas harga produksi dan harga bahan baku suatu barang.


Dalam acara-acara "sale", harga murah memang menjadi daya tarik. Tetapi sebetulnya bukan itu yang paling membuat pembeli tertarik. Pembeli tertarik pada label diskon. Maka dari itu banyak toko online yang pura-pura mendiskon barangnya agar terlihat lebih murah. Padahal, mereka tidak pernah melakukan korting harga. Mereka hanya mencoret harga-harga yang sebetulnya tak mereka pasang. Tujuannya, ya seperti yang sebelumnya sudah disebutkan: membuat pembeli merasa menang dan untung.


Merasa dibodohi? Seharusnya. Tetapi toh lata "diskon", "sale", dan kawan-kawannya bak mantra sihir Hogwarts yang punya daya hipnotis terhadap para pembeli: membuat mereka tak menyadari bahwa dalam diskon yang terbesar sekalipun, terdapat keuntungan produsen, meskipun dengan margin yang tidak tinggi.

Foto: @aristian97

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe