Cinta dan Pengaturan Waktu

08.54


Love is all a matter of timing. It's no good meeting the right person too soon or too late - Chow Mo Wan on 2046


Ada sebuah buku dari André Maurois berjudul Climats (Cuaca Selalu Berubah, dalam terjemahan Bahasa Indonesia) yang cukup menyentuh hati saya. Ceritanya sebetulnya sederhana: seorang lelaki bernama Phillipe Marcenat yang jatuh cinta dan menikahi seorang perempuan bernama Odile. Odile yang ceria dan riang menerangi hidup Phillipe yang selama ini sunyi dan hanya dipenuhi oleh buku. Namun belakangan Phillipe menyadari bahwa Odile tak bisa diatur dan sering menyakiti hatinya. Walaupun dia tetap berusaha untuk berpikir positif karena rasa cintanya pada Odile yang begitu besar.



Puncaknya, perkenalan Odile dengan seorang lelaki bernama Francois membuat Phillipe semakin tak bisa membendung ketidaknyamanan dalam hatinya. Mereka berdua pun memutuskan untuk bercerai, dan kemudian, Phillipe menikah lagi dengan perempuan bernama Isabelle yang mencintai Phillipe dengan cara yang sama seperti Phillipe mencintai Odile. Tapi dengan Isabelle, rasa cinta Phillipe tak tumbuh sebesar rasa cintanya pada Odile. Dia justru cenderung memperlakukan Isabelle sama seperti perlakuan Odile padanya dulu.


Cinta antar lelaki dan perempuan memang seringkali digunakan sebagai tema dalam sebuah karya. Namun cerita dalam novel ini cukup menyentuh saya. Pasalnya, ironis melihat tokoh Phillipe menjadi sesosok orang yang dulu membuatnya menderita. Kalau dia pernah merasakan hal yang menyakitkan karena Odile, mengapa dia tidak merasa simpatik terhadap Isabelle dan malah berlaku sama? Lagipula,bukankah Isabelle yang tulus adalah  sosok yang selama ini dia dambakan?


Tapi betul apa yang dikatakan oleh tokoh Chow Mo Wan dalam film 2047 karya sutradara ternama Wong-Kar Wai, bahwa cinta adalah pengaturan waktu. Mungkin kalau Phillipe jatuh cinta terlebih dahulu terhadap Isabelle, dia akan bahagia dan tak perlu menyakiti hati Isabelle. Sayangnya, Phillipe terlebih dahulu jatuh cinta kepada Odille. Dan cinta itu masih dia bawa hingga bertemu dengan Isabelle.



Laki-laki sebetulnya bukan makhluk yang mudah untuk melupakan. Maka dari itu, siapapun perempuan yang menjadi pelarian dari seorang lelaki yang masih tak bisa melupakan bayang-bayang masa lalunya adalah orang yang paling sial. Sebaik apapun dia, sulit bagi perempuan tersebut untuk menggantikan sosok yang lama. Dia hanya akan menjadi bayang-bayang di hati sang pria, walaupun dalam kenyataan, dialah yang kini menjadi kekasih sang pria.


Adalah hal yang hampir mustahil, dicintai secara utuh oleh seorang lelaki yang sejak awal memutuskan untuk menjalin hubungan dengan kita, lantaran dia ingin melupakan masa lalunya. Lelaki, setidaknya sebagian besar dari mereka, bukan seperti (sebagian besar) perempuan yang bisa belajar untuk melupakan sambil belajar untuk mencintai pria baru dalam hidupnya. Untuk bisa utuh mencintai seseorang, dia harus betul-betul lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Menyakitkan? Bukankah memang, bila cinta adalah sepotong coklat, separuh kandungannya adalah rasa getir yang tak enak?

Foto:
flickr.com
wikipedia.com
imdb.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe