What to Know: Ojo Dumeh, Ojo Gumunan, Ojo Kagetan

20.36



Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk membanggakan dirinya sendiri. Namun sebetulnya, kita mesti memahami bahwa di dunia ini, masih banyak yang lebih baik daripada kita. Dan di alam semesta ini, kita hanyalah sekeping bagian yang amat kecil dan hanya punya waktu hidup sebentar dibandingkan usia alam semesta.


Untuk itu, dalam filsafat jawa, ada tiga istilah yang dapat dijadikan pegangan hidup.  Yang pertama adalah "ojo dumeh". Ojo dumeh adalah larangan bagi kita untuk pamer, menyombongkan diri kepada orang lain. Sifat pamer membuat kita mudah lupa diri dan tidak mau belajar lagi, karena kita menganggap bahwa diri kita adalah pusat alam semesta, di mana orang lain semestinya juga menganggap bahwa kita adalah orang yang hebat, yang paling penting. Hidup, menurut ajaran Jawa, semestinya harus Andhap Asor atau rendah hati.


Yang kedua adalah "ojo gumunan" atau jangan mudah kagum. Kata "kagum" memang bagi kita merupakan kata sifat yang berkonotasi positif. Tapi terlalu mudah kagum membuat kita gampang dibodohi oleh orang ataupun hal di sekitar kita, terutama yang sifatnya materi. Terlalu kagum membuat kita menjadi tidak kritis dan tidak mau mencari tahu lebih lanjut. Padahal sebagai manusia, kita mesti terus menerus belajar dan mencari tahu agar dapat memahami segala hal di dunia ini dengan bijak.


Yang ketiga adalah "ojo kagetan" atau jangan mudah kaget. Orang Jawa diajarkan untuk tetap mawas diri dan siap menghadapi perubahan di dunia. Kita tak boleh kaget terhadap hal tersebut, harus 'eling lan waspada', karena satu-satunya hal yang tak akan berubah di dunia ini adalah perubahan. Semestinya kita harus memahami bahwa tidak ada yang abadi, baik hal positif maupun negatif.


Filsafat Jawa memang identik dengan kepasrahan. Terkadang banyak orang, terutama mereka yang masih muda, yang merasa bahwa filsafat Jawa tidak sesuai dengan jiwa mereka yang masih bersemangat dan begitu ingin tahu terhadap banyak hal. Namun filsafat Jawa tidak hanya berisi tentang kepasrahan. Filsafat Jawa, contohnya melalui ketiga hal di atas, mengajarkan kita untum memahami hidup secara bijak, dan menyeimbangkan hidup agar kita dapat menikmati hidup yang hanya sekali ini dengan tenang, dan tidak berlebihan.

Foto: flickr.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe