Chauvinisme dan Kampus Kebanggaan

22:34



Sebuah hal yang positif apabila kita bangga terhadap apa yang kita yakini, terhadap sesosok figur, atau dengan sebuah lembaga atau kelompok tempat kita bernaung. Tetapi kebanggaan yang berlebihan akan membuat kita menjadi seorang chauvinis. Yang berpikir dengan menggunakan paham chauvinisme.


Istilah Chauvinisme berasal dari figur fiktif bernama Nicolas Chauvin. Chauvin diceritakan sebagai tentara yang setia terhadap Napoleon Bonaparte. Meskipun Bonaparte telah kalah dan diasingkan ke St. Helena, tetapi Chauvin tetap setia. Meskipun tubuhnya pun sempat terluka parah karena membela Bonaparte.


Di masa modern pun, masih banyak kita temui para chauvinis. Seperti mereka yang terlampau bangga dengan almamaternya misalnya. Memang sebuah kebanggaan besar bisa masuk ke dalam sekolah atau kampus yang bergengsi.

Namun, bangga yang berlebihan, hingga membuat kita menjadi buta dan menolak segala kritik,itu bukan hal yang baik. Apalagi menganggap bahwa orang yang tidak berasal dari kampus/sekolah kita sebagai orang-orang yang intelektualitasnya tak sejajar dengan kita.


Hal semacam ini bisa ditemui di beberapa tempat kerja. Tak mengherankan jika ada beberapa kantor yang "rasis kampus" alias menerima pegawai karena berasal dari kampus yang sama, dan tidak mengindahkan kemampuan serta kepribadian mereka. Mereka begitu dibutakan oleh nama besar,merasa bahwa semua alumnus dari kampus tersebut hebat. Karena kalau mereka hebat, itu artinya kita juga ikut hebat, lantaran dididik oleh tempat yang sama.

Peringkat Kampus yang Menciptakan Kelas Atas Rasa Bangga

Sehubungan dengan adanya peringkat-peringkat kampus, rasa bangga ini pun semakin kentara saja. Entah dari 4icu, Niche, atau website lain yang bertugas untuk mengurutkan kampus-kampus berdasarkan peringkat tertentu. Ya memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada satu kampus yang lebih baik daripada kampus lain. Namun peringkat itu relatif. Peringkat almamater hanya diukur berdasarkan beberapa aspek saja. Bukan dari keseluruhan aspek. Jadi belum tentu kampus di peringkat 15 lebih buruk daripada kampus berperingkat 9. Sayangnya banyak alumni dan mahasiswa yang kemudian tidak mengindahkan hal tersebut dan bangga dengan pencapaian dalam bentuk angka. Sangat sempit dan menyedihkan



Lagipula, masuk ke sebuah almamater bergengsi tidak menjamin bahwa intelektualitasmu juga tinggi. Ada yang masuk kampus/sekolah tersebut karena memang cerdas. Ada juga yang sekadar untung-untungan saat tes. Ada pula yang tidak diterima di kampus/sekolah tersebut karena saat tes, tubuhnya tidak fit. Atau memang ada juga orang yang memilih untuk tidak masuk ke sana karena beberapa pertimbangan.

Sayangnya faktor-faktor eksternal yang menyebabkan seseorang lulus tes masuk perguruan tinggi bergengsi memang hampir tidak pernah diindahkan oleh kebanyakan orang. Orang-orang begitu memuja mereka yang lolos tes masuk perguruan tinggi bergengsi, terutama yang negeri. Dianggap keren, dianggap cerdas. Begitupun para pesertanya. Tak heran bila setiap tahun, ada saja anak yang menunda masuk kuliah hanya karena ingin masuk ke perguruan tinggi negeri. Alasannya kebanyakan bukan karena ekonomi. Mereka sangat mampu membayar kuliah ke perguruan tinggi swasta. Namun mereka gengsi, sehingga mereka pun rela merogoh kocek lebih dalam untuk les intensif setahun penuh, agar tahun depannya bisa masuk almamater negeri bergengsi yang membanggakan.


Dan setelah masuk, biasanya mereka akan menjadi chauvinis kampus yang bangga akan identitas kampusnya.

Mencintai almamater secara berlebihan akan membuat kita seperti seseorang yang tak punya kualitas pribadi yang bisa dibanggakan. Semestinya, kalau kamu bangga dan bahagia dengan dirimu, kamu tak perlu menyombongkan almamatermu.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe