Teman Ahok yang Dianggap Bak The Avengers?

09.12



Kebanyakan Rakyat Indonesia memiliki masalah dalam hal kepercayaan. Bukan berarti mereka sulit mempercayai orang, tetapi karena begitu mudahnya mempercayai orang. Apalagi orang-orang yang ada di dunia maya.


Contohlah permasalahan Teman Ahok. Teman Ahok muncul sebagai pahlawan, bak The Avengers, dengan misi mengusung Gubernur Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon independen Gubernur Jakarta pada tahun 2017. Gubernur Basuki, atau yang akrab disapa Ahok, adalah orang yang cukup berintegritas. Meskipun perkataannya terdengar kasar, tetapi cara dia memerintah Jakarta cukup tegas. Dia pun terbukti tidak melakukan tindak korupsi dalam kasus Sumber Waras.  Hanya saja, orang semacam itu bisa dimanfaatkan bukan oleh berbagai pihak? Termasuk oleh orang yang (mengaku) mendukungnya dengan ikhlas


Sebetulnya mudah saja mengetahui siapa yang berada di belakang Teman Ahok. Kebanyakan orang yang menjadi "relawan" Teman Ahok adalah mereka yang berada dalam lingkaran Cyrus Network, sebuah konsultan politik dan lembaga survey di Jakarta. Jadi, bisa saja disimpulkan bahwa Teman Ahok adalah salah satu proyek Cyrus Network, meskipun kita tidak tahu apa maksud di balik proyek tersebut. Entah benar-benar ingin memperbaiki Jakarta, atau ada maksud lain yang lebih bersifat politis.


Namun menjadi naif dan menganggap kalau niat mereka murni untuk membangun Jakarta adalah kesalahan besar. Tentu saja, peribahasa there is nothing such a free lunch bukanlah sekadar peribahasa skeptis yang digunakan oleh orang-orang hobi "nyinyir". Ayolah, dunia ini sudah sangat tua dan semakin kompleks. Bahkan para pahlawan dalam film-film Marvel pun juga punya sisi buruk.



Pada hari Rabu, 22 Juni 2016, beberapa media memberitakan tentang ex-Teman Ahok yang mengakui bahwa mereka pernah memanipulasi KTP karena membutuhkan uang. Dalam Tempo edisi terbaru, ada berita tentang dugaan dana reklamasi yang mengalir ke dalam kantong Teman Ahok. Memang sih, banyak berita di media yang asal tulis dan dibuat hanya untuk mengejar kuota. Tapi saat media-media tersebut mengangkat isu positif tentang Teman Ahok, banyak orang yang memuji. Dan bodohnya, saat isu yang ditampilkan adalah isu sebaliknya, banyak orang yang menganggap bahwa media-media tersebut hendak melakukan fitnah terhadap Teman Ahok. Semacam standar ganda yang tidak rasional. Padahal rasionalitas adalah satu-satunya senjata alami yang seharusnya digunakan oleh manusia dalam hidup ini, bila mereka masih ingin disebut manusia.





Fitnah terhadap Teman Ahok beberapa waktu lalu, seperti isu jilbab palsu pada salah satu relawan memperkuat rasa simpati masyarakat. Pihak yang difitnah adalah pihak yang selalu baik. Lagi-lagi, sama seperti pahlawan dalam film-film action. Padahal belum tentu juga. Orang baik ataupun jahat bisa sama-sama difitnah. Politik itu tajam di segala sisi. Orang baik maupun jahat bisa saja terkena goresannya. Dan terluka.


Hanya saja pembelaan kepada Teman Ahok, meskipun hampir dipastikan bahwa mereka punya agenda tertentu selain mendukung Ahok dan menyelamatkan Jakarta, sebetulnya dapat kita pahami. Masyarakat kita butuh sosok pahlawan. Sosok yang tulus mengabdi pada negeri. Tapi bukankah ketulusan itu cuma sekadar mitos? Manusia selalu punya tujuan dalam berbuat kebaikan. Entah untuk uang, kekuasaan, pahala, kepuasan diri, ataupun simpatik karena kita sama-sama makhluk hidup di muka Bumi ini.

Sumber Foto:
temanahok.org
detik.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe