Saat Orangtua Mendambakan Anak yang Religius

19.20



Setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk pendidikan agama, bagi sebagian keluarga. Maka dari itu, tak mengherankan bila sekolah berbasis agama begitu laris manis. Bahkan banyak di antaranya yang memasang biaya mahal per semester. Dengan iming-iming fasilitas nomor satu serta pengajaran berbasis agama yang berkualitas.

Tidak ada salahnya memberikan pendidikan agama terbaik bagi anak. Namun pendidikan bukanlah satu-satunya hal yang dapat membentuk seorang anak. Pendidikan dari orangtualah yang terpenting bagi seorang anak.

Sayangnya, banyak orangtua yang tak memperhatikan hal tersebut. Mereka memasukkan anak ke sekolah berbasis agama, memastikan sang anak menerapkan agama dalam keseharian mereka, tetapi tidak mencontohkan hal tersebut. Saya tidak tahu apakah ini bentuk kasih sayang atau egoisme.

Sempat saya berpikir bahwa itu kasih sayang, karena mungkin saja, orangtua berpikir bahwa "tidak apa-apa saya mengalami hal buruk/menjadi sesuatu yang buruk, yang penting anak saya tidak", maka dari itu, mereka kemudian menyuruh anaknya untuk menjadi religius, meskipun mereka tidak seperti itu. Tapi misalnya itu adalah sebentuk kasih sayang, bukankah itu bentuk kasih sayang yang egois?

Lagipula, menurut Maughn Gregory, penulis buku Philosophy for Children, pengalaman anak-anak dipenuhi dengan nuansa filosofis. Anak-anak adalah filsuf yang murni, dan orangtua semestinya menjadi pendamping dalam pencarian anak-anak di masa tumbuh dan berkembang. Jika orangtua menampilkan perilaku yang bertolak belakang, anak-anak akan menjadi bingung dan kehilangan kepercayaan.


Anak-anak yang kehilangan kepercayaan pada orangtua tidak akan mengikuti nasehat orangtuanya. Mereka akan menjadi pribadi yang tidak sesuai dengan keinginan orangtuanya. Dalam hal pendidikan berbasis keagamaan, anak-anak akan mempertanyakan tentang mengapa orangtua tidak bersikap relijius sementara mereka harus mempelajari banyak hal yang religius.

Anak memang bukan cermin kita, sehingga kita tidak dapat menyamakan dirinya dengan kita. Namun, anak juga bukan saham di mana kalian dapat menginvestasikan segala mimpi dan cita-cita kalian yang tidak bisa kalian raih ke dalam dirinya. Termasuk bila kalian menginginkan anak menjadi pribadi yang sholeh/sholehah, yang mampu menjadi ladang pahala bagi kalian. Atau minimal, menjadi anak yang bisa mengirimkan pahala kepada kalian usai kalian meninggal, lewat doa. 

Foto: Zulfikar Aristianto

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe