Relasi Kuasa Dosen Killer-Mahasiswa

18:21



Belum lama ini ada kasus bunuh diri mahasiswa UI berinisial VB yang didasari oleh keadaan depresi. Kabarnya, nilai yang menurun dan dosen yang kurang mendukung menjadi alasan mengapa dia kemudian bunuh diri di kamar kos-kosannya.


Kita jelas tidak dapat menjadikan hal tersebut sebagai sebuah teladan. Karena bunuh diri berarti menyerah dari keadaan. Dari absurditas hidup, meminjam istilah Albert Camus. Lagipula,pihak polisi pun belum dapat memastikan bahwa alasan bunuh diri VB adalah karena stress berkuliah.


Namun permasalahan antara mahasiswa dan kampus bukanlah masalah kecil, meskipun perkara itu sudah biasa terjadi dalam kehidupan kita. Pasalnya, hubungan tersebut melibatkan sebuah konsep relasi kuasa, yang seringkali menyebabkan mahasiswa merasa terintimidasi. Padahal, kalau dipikir, mereka yang membayar untuk bisa belajar di sebuah kampus.


Bicara soal pembayaran, saya jadi teringat pada cerita tentang Kaum Sophis yang hidup pada masa Socrates (pertengahan hingga akhir abad ke 5 SM). Kaum ini mengajarkan pengetahuan filsafat kepada orang-orang dengan meminta bayaran. Kaum sophis yang dijuluki sebagai filosof keliling ini, kebanyakan agnostik dan berfokus pada manusia, lantaran mereka menganggap bahwa misteri alam tak bisa dipecahkan.


Kegiatan kaum sophis ini kemudian mempelopori keberadaan sekolah dan universitas. Tentu saja, tidak ada ilmu yang gratis bukan di lembaga pendidikan? Kecuali kalau kamu mendapatkan beasiswa.


Maka dari itu, ada yang agak salah dalam relasi dosen dan mahasiswa. Memang sih, ilmu itu investasi dan bukannya konsumsi. Ilmu tak bisa ditakar harganya dengan uang, karena ilmu dalam otak kita tak hanya memuaskan "dahaga pengetahuan" sesaat saja, tapi bisa digunakan untuk berbagai hal di masa depan. Tetapi tetap saja, perilaku dosen yang berlebihan, yang terlalu keras terhadap para mahasiswa harus lebih diperhatikan.


Saat berkuliah dulu, saya pernah begitu membenci seorang dosen karena dia berlaku subyektif, dan bisa dengan mudahnya meremehkan seseorang. Apalagi kalau orang itu bukan orang yang sering menyibukkan diri dalam kegiatan jurusan. Selain itu, dia juga sering memberlakukan standar ganda. Tidak segan pula mempermalukan mahasiswanya. Meskipun dia memang memberi ilmu, sebuah hal yang sangat berharga, tapi perlakuan buruk tersebut membuat saya dan beberapa kawan lain merasa kesal. Kami berpikir kalau kami yang membayar gajinya, tapi mengapa dia berlaku semena-mena?


Relasi antara dosen dan mahasiswa tidak semestinya berbentuk relasi kuasa di mana salah satu pihak mendominasi. Toh tanpa mahasiswa, dosen tak bisa dibayar dan juga menyalurkan ilmunya. Dan tanpa dosen, mahasiswa juga tak bisa mendapatkan ilmu. Relasi antara keduanya semestinya lebih lunak, di mana dosen dapat bertindak sebagai rekan yang tegas dan membangun, serta memberikan saran seobyektif mungkin. Sayangnya kebanyakan relasi antara dosen dan mahasiswa adalah relasi kekuasaan yang kejam, seperti raja dengan rakyatnya dalam pemerintahan monarki di masa lalu. Apalagi di masa-masa skripsi, banyak dosen yang seperti mempersulit mahasiswanya untuk melakukan bimbingan. Tak ubahnya seperti masa "pedekate" di mana salah satu pihak melakukan tarik-ulur.


Kalau semua dosen bertindak layaknya rekan, dan bisa tegas di saat-saat yang diperlukan dan bukan untuk menunjukkan kehebatannya, saya rasa tidak akan ada lagi mahasiswa yang kemudian bermasalah dengan kampusnya, hingga kemudian tidak lulus tepat waktu, demotivasi, bahkan merasa trauma untuk berkuliah lagi.

Foto: pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe