Post-Power Syndrome Si Tangan Tuhan

17:26




Bagi kita, Diego Maradona adalah pemain bola terkenal. Bagi Argentina, dia pernah menjadi lebih dari sekadar itu. Dengan berbagai gelar juara yang didapatkannya saat bermain untuk Argentina, Maradona adalah pahlawan.


Tapi tidak selamanya bintang bersinar. Bagi seorang atlet, usia yang bertambah merupakan petunjuk untuk saatnya mundur dari lapangan. Dan kemudian digantikan oleh bibit-bibit baru yang lebih muda. Maka, usai Diego Maradona gantung sepatu, kita mengenal "legenda" lain dari Argentina: Lionel Messi. Lionel Messi dikenal sebagai pencetak gol terbanyak Barcelona, dan telah beberapa kali memenangkan Ballon d'Or, sebuah penghargaan dari FIFA. Banyak orang yang menganggap Lionel Messi sebagai pengganti Diego Maradona. Meskipun mungkin kekalahan Argentina dalam Copa America 2016 dan keputusan Messi untuk pensiun dari Timnas Argentina membuat beberapa pihak kecewa, tapi Messi tetap digandrungi dan dipuja banyak orang.



Namun tampaknya, Diego Maradona tidak ingin ada pengganti dirinya di kancah persepakbolaan Argentina. Kemungkinan ini terlihat dari berbagai kritik yang dilontarkan oleh Maradona kepada Messi. Seperti beberapa waktu lalu, di mana Messi dianggap tidak punya kepribadian sebagai pemimpin di lapangan, dan tidak bisa membanggakan Argentina.


Sebagai pemain bola yang berasal dari satu negara yang sama, seharusnya Maradona tidak mengkritik Messi. Pasalnya, mereka pun juga bukan lawan di lapangan. Semestinya Diego Maradona mendukung Messi sebagai "versi dirinya yang muda". Sayangnya, kemungkinan besar ada perasaan tak rela dalam hati Maradona bila dirinya digantikan.



Perasaan semacam ini biasa disebut sebagai post-power syndrome , sebuah kondisi di mana seseorang tak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang kejayaannya di masa lalu. Orang dengan sindrom ini akan sulit menerima kenyataan bahwa sudah saatnya untuk dia mundur dari panggung kehidupan dan digantikan oleh orang-orang baru yang lebih muda. Alih-alih membimbing bibit-bibit baru tersebut, dia akan menganggap mereka sebagai saingan yang harus dilawan. Tak ubahnya Maradona yang punya sentimen terhadap Messi (meskipun belakangan dia meralat kritiknya terhadap Messi).


Kita tahu bahwa Maradona adalah tipikal lelaki alfa yang haus akan wanita dan juga pujaan. Tapi saat ini, dia bahkan sudah tidak berlaga lagi di lapangan. Kalaupun dia masih berlaga, performanya tidak akan sebagus dulu. Dia harus merelakan tempatnya tergantikan oleh bibit-bibit baru. Toh, meskipun sekarang orang (mungkin) lebih menggandrungi Messi, tetap saja semuanya akan mengingat Maradona sebagai salah satu pemain hebat. Internet merekam, buku-buku dan data FIFA pun mencatat. Jadi, entah apa alasannya dia begitu getol untuk mengkritik Messi seolah takut untuk tergantikan.


Mungkin yang dia butuhkan bukan sekadar dikenang orang-orang, tapi juga sorak sorai para suporter yang meneriakkan namanya di lapangan.

Foto: 
Onefootball.com
Omarmomani.blogspot.com
flickr.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe