Memanfaatkan Kesamaan Untuk Menjadi Teroris

22:16




War and marketing have many similarities - Al Ries
Sebetulnya tak sulit untuk mengakui bahwa kita, manusia, menyukai persamaan. Kita bisa saja punya toleransi terhadap orang yang berbeda prinsip dengan kita. Tetapi akan sulit bagi kita untuk menyukainya dan hidup bersamanya dalam jangka waktu lama.


Saya jadi ingat akan sebuah hal yang saya temui sewaktu berada di Jenewa, Swiss. Waktu itu saya baru saja bertolak dari Paris dan merasa kesal dengan kota tersebut. Pasalnya, di sebuah stasiun di Prancis ada seseorang (nampak seperti orang urakan) yang mengatai saya dengan sebutan "mauvais musulman" (muslim jelek). Hal tersebut cukup menimbulkan trauma dan membuat saya sedikit kesal.


Namun beberapa hal di Jenewa kemudian menghibur saya. Selain udara yang sejuk, kota yang cerah dengan lansekap sederhana, nuansa yang tenang dan aktivitas yang ramah, saya mendapatkan coklat dan beberapa souvenir gratis saat membeli coklat karena si pemilik toko adalah orang muslim. Dia merasa senang karena saya beragama sama dengan dia. Begitupun saya, usai mendapatkan pengalaman traumatis di Paris tersebut, saya merasa lebih "diterima" dan seperti berkumpul bersama "keluarga".


Bom di Bandara Ataturk, diambil dari Okezone
Kita cenderung bersahabat terhadap mereka yang punya banyak kesamaan. Salah satunya adalah agama. Maka dari itu, banyak teroris yang menjual nama agama untuk menarik minat orang-orang. Seperti ISIS misalnya. ISIS menggunakan agama Islam untuk merekrut anggota-anggota baru. Mereka yang berminat untuk membela Agama Islam, tapi sebetulnya tak paham apa yang harus dibela dan bagaimana caranya. Jadilah mereka merasa cara kekerasan yang dilakukan ISIS sebagai bentuk jihad yang tepat. Pendekatan ISIS dengan membawa tameng Islam mampu menarik banyak orang awam yang menganggap bahwa kini, Islam tengah dimusuhi banyak pihak.


Toh nyatanya, ISIS tak cuma mengincar negara-negara dengan mayoritas masyarakat beragama selain Islam. ISIS pernah melancarkan serangan bom di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan belum lama ini ada pula serangan bom di Bandara Ataturk, yang diduga dilancarkan oleh ISIS. Meskipun ISIS sendiri belum mengonfirmasikan hal tersebut, tetapi apabila benar, maka prinsip dari ISIS bukanlah sekadar agama.

Tapi menjadikan agama sebagai alat pemasaran, terbukti dapat menggencarkan proses rekruitmen, bukan? Karena melalui kesamaan agama, orang mudah sekali untuk percaya satu sama lain. Begitulah manusia. Meskipun mereka mengaku kalau perbedaan tak jadi masalah, tetap saja kesamaan adalah hal yang membuat mereka betul-betul nyaman.


Update: Menjelang Idulfitri 2016, ledakkan bom kembali terjadi, kali ini di tiga kota Arab Saudi (Qatif, Jeddah, Madinah), dan juga di Surakarta. Begitulah cara kerja teroris: memanfaatkan rasa simpatik atas persamaan, untuk kemudian diubah menjadi permusuhan.

Foto:
Flickr.com
Okezone.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe