Euro 2016 dan Nasionalisme

11.54



Sebetulnya tidak masalah memiliki kekaguman terhadap negara lain. Juga tidak ada larangan untuk menyukai negara selain negara kita sendiri. Tapi entahlah, saya masih merasa geli saja terhadap penonton Indonesia yang begitu membela beberapa negara di Euro 2016 dengan cara yang berlebihan. Seolah-olah negara-negara tersebut adalah tanah airnya sendiri.



Fenomena ini kebanyakan terjadi pada mereka yang tidak betul-betul memahami sepakbola. Biasanya mereka adalah fans negara tertentu di Eropa, yang kemudian menonton Euro karena negara favoritnya bertanding di sana. Di linimasa pun beberapa di antara mereka merasa bangga mendengarkan lagu kebangsaan negara lain diputar sebelum pertandingan.


Wajar bila kita sedikit terharu saat melihat para pemain bola menghayati lagu kebangsaan yang diputar sebelum pertandingan. Mengingatkan kita bahwa sepakbola tidak hanya perkara mencetak gol saja, tetapi ada pula nilai kerjasama dan persatuan di dalamnya. Tapi terlalu kagum dan merasa terlibat secara emosional dengan negara tersebut, sementara itu kita tidak pernah menjadi bagian dari negara lain selain Indonesia, sepertinya hal yang konyol.


Dan menjadi semakin menggelikan ketika tetnyata banyak pemain yang justru enggan menyanyikan lagu kebangsaannya. Contohlah Mesut Özil, pemain Jerman yang enggan menyanyikan Das Lied der Deutschen. Atau Karim Benzema yang tidak pernah mau ikut mendendangkan La Marseillaise. Özil adalah warga negara Jerman, dan Benzema, yang tidak mengikuti perhelatan Euro 2016 dikarenakan kasus pelecehan seksualnya, juga Warga Negara Prancis. Namun keduanya berasal dari orangtua dan kakek-nenek yang merupakan imigran di kedua negara tersebut. Meskipun mereka tidak mengatakan alasan mengapa mereka enggan menyanyikan lagu kebangsaan, tetapi masalah "keturunan" nampaknya menjadi salah satu faktor.


Otto Bauer, seorang pemikir Austro-Marxist yang sempat menjadi Menteri Luar Negeri Austria pada tahun 1918 mengatakan bahwa bangsa merupakan suatu kesatuan perangai yang muncul karena adanya persatuan nasib. Jadi, bangsa merupakan kelompok manusia yang mempunyai persamaan karakter dan tumbuh karena adanya persamaan nasib. Barangkali saja kedua pemain sepakbola tersebut merasa memiliki karakter yang berbeda dengan penduduk negara yang mereka bela, sehingga mereka tidak terlalu menghayati konsep kebangsaan saat lagu-lagu tersebut diputar sebelum kick-off.


Untuk itu sangat mengherankan, ketika kita, orang-orang yang tidak memahami kondisi negara lain, yang bahkan mungkin tak tahu betul bagaimana kehidupan di negara tersebut, merasa begitu cinta terhadap negara lain. Semacam skizofrenia nasionalisme, mungkin? Yang mirip dengan konsep saat kita mengidolakan sesuatu atau seseorang: dalam benak kita hanya ada imajinasi tentang hal-hal baik saja. 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe