Di Antara Masyarakat yang Kelewat Latah

11.27



Dulu, saya berpikir kalau orang bodoh semestinya dididik. Tapi lama kelamaan saya menyadari kalau banyak di antara mereka yang memang tidak mau dididik.

Contohnya, permasalahan razia warung makan yang belum lama ini terjadi di Serang. Saya tidak setuju dengan Peraturan Daerah yang melarang bukanya warung makan saat puasa, karena Perda itu sangat tidak bijak dan menghilangkan esensi puasa. Tapi mau bagaimana lagi. Setiap daerah di Indonesia memiliki otonomi untuk membuat peraturan.

Yang juga membuat saya kesal adalah tentang penggalangan donasi yang latah. Jelas tidak salah membantu orang lain. Tapi soal donasi, bukankah masih banyak orang lain yang membutuhkan? Yang lebih tidak punya pilihan dalam mencari nafkah?Mengapa tidak bijak dalam memberikan donasi?

Kasihan memang melihat raut wajah Ibu pemilik warung yang makanannya disita. Tapi peraturan daerahnya memang sudah begitu. Sebagai masyarakat, ada dua hal yang bisa kita pilih untuk tetap bertahan dengan peraturan yang ada: melawan, atau berdamai dengan keadaan. Melawan, yakni kucing-kucingan dengan Satpol PP, yang resikonya adalah dirazia. Berdamai, ya dengan cara mengubah waktu jualan.

Banyak pedagang yang berjualan pada waktu berbuka serta usai terawih, dan dagangan mereka lebih laris dari hari biasa. Karena pada saat berbuka, makanan menjadi primadona. Omzetnya besar. Makanya itu alasan mengapa banyak penjual takjil dadakan. Karena pemasukannya banyak.

Terkadang, saya ingin mengajak banyak orang belajar berpikir dengan cara yang benar. Dengan prinsip deduktif misalnya. Dalam hal ini, katakanlah premis mayornya berbunyi seperti ini:

"Semua peraturan harus dipatuhi oleh warga."

Lalu premis minornya adalah: "Ibu penjual warung adalah warga"

Dan kesimpulannya adalah "Ibu penjual warung harus mematuhi peraturan".

Tapi kalau saya berkata begini, banyak orang yang akan bilang kalau saya tidak punya hati. Hanya saja, saya merasa bingung bagaimana orang yang tidak pakai otak bisa menjamin kalau mereka bisa punya "hati"? Bagaimana bisa kita merasa simpatik dengan cara yang benar kalau otak saja tidak mau kita gunakan dengan baik?

Memang benar di dunia ini, yang baik bukanlah menjadi orang baik, tapi menjadi orang yang bijak. Bijak untuk menyaring segala informasi dan bijak untuk mengambil tindakan.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe