Agama dan Ideologi Negara Indonesia

19.53



Sewaktu kuliah dulu, saya sempat membaca pengumuman rekrutmen suatu organisasi di kampus saya. Organisasi tersebut memberi sejumlah syarat untuk calon anggotanya. Yang pertama syaratnya adalah bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.


Selang beberapa hari, saya melihat "nyinyiran" seorang mahasiswa di media sosial perihal hal tersebut. Mungkin saja dia menganggap bahwa ketakwaan tidak berbanding lurus terhadap integritas seseorang dalam berorganisasi. Sebetulnya yang dia pikirkan bukan hal yang salah. Hanya saja, dalam Pancasila tertera sila Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi, segala aktivitas yang ada di Indonesia secara otomatis berpegang pada Pancasila sebagai ideologi negara.


Dewasa ini, banyak orang Indonesia yang mulai skeptis terhadap konsep agama. Beberapa bahkan mempertanyakan mengapa negara mengatur agama seseorang, seperti dalam pernikahan misalnya, atau mengapa KTP harus memiliki kolom agama (suatu pertanyaan yang pernah menggantung di benak saya dulu). Tapi ya ideologi negara adalah identitas dari negara tersebut. Menghilangkan konsep beragama dari negara ini, berarti tidak berpegang pada identitas yang terkandung dalam Pancasila. Meskipun percaya atau tidak pada Tuhan adalah urusan pribadi, tetap saja sebuah negara yang menjunjung Ketuhanan punya hak untuk "mengharuskan" warga negaranya beragama dalam urusan kenegaraan. Ya kalau urusan dijalankan atau tidak, itu memang urusan pribadi. Negara tidak berhak ikut campur.


Dan membahas rasa skeptis pada agama, sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari beberapa faktor. Pertama, fanatisme dari pemeluk agama itu sendiri. Tidak semua orang mengkaji kitab-kitab agama, dan filsafat dari agama tersebut, sehingga mereka hanya dapat menilai dari para pemeluk agama tersebut. Sayang sekali banyak tokoh-tokoh agama yang alih-alih memaknai agama dengan bijak, malah menyampaikan wahyu tentang sebuah agama hanya dari sisi pahala dan dosa saja. Padahal di setiap agama, pemeluknya selalu diajarkan untuk berpikir.


Kedua, agama dianggap sebagai sesuatu yang tidak realistis. Yang ini tergantung bagaimana kita memandang agama. Apakah kita memandang agama sebagai dongeng, sebagai aturan, atau sebagai falsafah hidup. Segala hal yang tertera pada kitab-kitab agama sebetulnya tak bisa dimaknai secara harfiah. Toh juga saat membaca buku-buku fiksi, kita tak memahaminya secara harfiah, bukan? Misalnya saat membaca Lord of The Ring. Apakah kita lantas mempercayai kalau mata Sauron betul-betul ada? Bukankah ada makna yang bisa kita saring dari buku tersebut?


Yang ketiga, agama dianggap mengekang. Dalam agama memang betul tertera banyak aturan. Maka dari itu, banyak orang yang merasa tak bebas dengan beragama. Agama seperti mengatur manusia untuk tak menjadi dirinya sendiri.


Meski begitu, memaksa ketiadaan agama di negara Indonesia adalah sebuah kebodohan. Karena ya itu. Keberadaan Tuhan sudah jelas tertera dalam sila pertama di Pancasila. Ideologi sebuah negara tak akan mungkin dikhianati oleh negara itu sendiri. Jadi, kalau masih banyak orang yang mempertanyakan mengapa segala urusan kenegaraan di Indonesia harus berkaitan dengan agama, mungkin dia harus memahami esensi pembentukan sebuah negara dan tentunya, ideologi sebagai jantung dari sebuah negara. Tapi ya tenang saja, karena toh negara tidak punya andil untuk mengatur apa yang ada dalam pikiran masyarakatnya. Jadi, di dalam pikiranmu, kamu masih bebas untuk percaya ataupun tidak pada Tuhan, asal kamu tidak perlu beritahu kencang-kencang pada negaramu.


Foto: flickr.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe