What to Know: Komunisme

16:55


Mendengar kata Komunisme, yang terbayang di benak sebagian besar masyarakat Indonesia adalah sebuah aliran yang mengerikan, kejam, dan tak bertuhan. Tentunya hal itu tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa ini. Tapi sebetulnya, komunisme sendiri adalah sebuah aliran atau sistem sosio-ekonomi yang berdasarkan pada kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, sehingga, dalam komunisme tidak ada pasar.


Komunisme menekankan pada sistem "setiap orang dengan kemampuannya masing-masing, membagi kepada setiap orang yang memiliki kebutuhan". Begitu juga sebaliknya. Jadi tidak ada persaingan modal. Tidak ada perusahaan yang berlomba-lomba untuk mencari keuntungan.


Maka dari itu, komunisme meniadakan keberadaan kelas. Karena dalam ajaran komunisme tidak ada kesenjangan sosial. Tidak ada orang yang boleh berkuasa melebihi orang lainnya. Sama rata sama rasa.


Namun mengapa paham ini seringkali diartikan sebagai paham yang atheis, tidak mengakui Tuhan?


Sebetulnya tak ada hubungan langsung antara komunisme dan atheisme. Karena komunisme sendiri lebih berhubungan dengan sistem ekonomi dan tatanan masyarakat. Tapi dalam komunisme, Tuhan memang tidak diindahkan. Karena dengan keberadaan Tuhan, manusia tidak akan patuh sepenuhnya pada doktrin negara. Manusia yang beragama akan berpikir bahwa ada entitas yang lebih tinggi daripada negara.

Lalu, adakah tempat bagi ajaran semacam komunisme di masa kini? Di negara kita, Indonesia?

Kita tahu bahwa komunisme tidak diperbolehkan di Indonesia. Tetapi apakah bisa diterapkan di Indonesia? Seperti pada Uni Sovyet, yang kita tahu justru hancur bukan karena komunisme itu sendiri, tapi karena mereka mulai berangsur-angsur meninggalkan komunisme dan menjadi negara yang lebih terbuka.


Setiap negara memiliki karakteristiknya masing-masing. Termasuk Indonesia. Meskipun komunisme seolah menawarkan sebuah dunia yang lebih teratur dan tanpa kesenjangan sosial, tetapi sulit untuk diterapkan di Indonesia. Pasalnya, keteraturan yang ditawarkan oleh komunisme itu semacam bom waktu. Tak ada bedanya dengan seorang anak yang dikekang oleh ibunya. Dia menjadi teratur dan tidak nakal bukan karena dia anak yang baik, tetapi karena dia takut dengan ibunya. Masyarakat dengan ideologi komunisme takut dengan negaranya.


Indonesia juga sebuah negara dengan penduduk beragam. Berbeda budaya, berbeda pemikiran. Komunisme hanya akan menyeragamkan kita dan itu bukan hal yang bijak. Lagipula, bukannya setiap manusia itu berbeda?


Pun, komunisme tengah sekarat di tengah dunia yang terbuka dan modern ini. Segala sesuatu ada dalam genggaman, persebaran informasi begitu cepat, dan negara yang tidak bisa beradaptasi dengan hal tersebut akan mati sendirian. Bahkan Republik Rakyat Cina pun secara ekonomi sudah mulai terbuka terhadap investor. Tidak lagi murni komunis seperti dulu.


Meletakkan negara dengan masyarakat yang beraneka ragam seperti Indonesia di atas pangkuan komunisme, tak ubahnya dengan menempatkan seorang guru yang kaku, killer, dan menyebalkan ke dalam kelas dengan karakteristik murid-murid layaknya film Entre Les Murs. Dia tidak akan bertahan lama dan akan kalah oleh keberagaman mereka.


Yah, mau bagaimana lagi. Sistem kelas yang dibentuk sendiri oleh masyarakat memang sangat menyebalkan. Terutama bila kita berada di kelas terbawah. Tapi ya akui saja, pihak-pihak yang merindukan komunisme hanyalah mereka yang tidak mau bersaing. Lemah dan kalah. Pihak-pihak yang tidak mau menerima bahwa seleksi alam itu ada.

Foto: newstalk

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe