Serupa Atas Nama Cinta

16:02


Kalimat "aku mencintai kamu" bukanlah kalimat yang penuh dengan ketulusan. Meskipun mitos mengatakan bahwa mencintai seseorang berarti menerima segala kekurangan dia. Mungkin memang masih ada yang seperti itu. Entah tapi hanya berapa persen saja yang masih menerapkannya. Pun masih ada, tetap saja sebetulnya bukan itu yang dia inginkan.

Saat kita mencintai seseorang,  baik lawan jenis, orangtua, maupun anak kita, ada kecenderungan bagi kita untuk menjadikan dia sebagai cerminan diri kita. Kita ingin dia memiliki kecenderungan yang sama dengan diri kita. Kita ingin dia bisa menyukai musik yang sama, film yang sama, dan pakaian yang sama. Kita ingin dia memiliki ideologi yang sama dengan kita. Dan tak berhenti sampai di situ, kita juga ingin dia mencintai kita dengan cara yang kita gunakan.

Apakah itu berarti egois? Entahlah. Pada dasarnya setiap manusia punya kehendak untuk berkuasa, termasuk kepada manusia. Saat kita mencintai orang, kita ingin dia selalu berdekatan dengan kita dan mendukung yang kita inginkan. Kita ingin dia menjadi milik kita, dan tidak berseberangan dengan kita. Maka tidak mengherankan bahwa pernikahan yang baik biasanya terjadi pada dua orang yang memiliki prinsip yang sama. Seseorang mungkin bisa berkata bahwa dia adalah orang yang toleran. Tetapi setoleran apapun, tak ada orang yang bisa hidup bersama dengan orang yang memiliki prinsip dan hal-hal lain yang jauh berbeda dengan dirinya.

Hal ini juga berlaku pada hubungan orangtua dan anak. Sedemokratis apapun, orangtua akan cenderung "memaksa" sang anak untuk mengikuti nilai-nilai yang mereka anut. Maka dari itu, banyak anak di usia remaja yang bertengkar dengan orangtua mereka. Karena di usia remaja, anak mulai banyak mencari tahu hal-hal yang dia temui dan mencari tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Ada ketertarikan besar terhadap dunia dalam diri seorang anak remaja.

Sebahian orangtua terkadang masih menganggap anak mereka sebagai anak bayi. Di mana seperti konsep yang diutarakan oleh Jacques Lacan, seorang bayi dalam usia 6-18 bulan tidak memiliki keterpisahan dengan sang ibu. Dia hanya menjadi seorang penerima yang di mana kebutuhannya dipenuhi orang lain. Banyak orangtua yang "terlena" dengan tahapan ini tanpa menyadari, seiring bertumbuhnya anak, dia akan menemukan bahwa dirinya adalah satu individu utuh yang terpisah dengan orang lain, termasuk orangtuanya.

Konsep cinta memang cenderung mengikat. Kita senantiasa ingin bersama dia yang kita cintai dan mencintai dia dengan cara yang kita inginkan. Kita ingin dia seperti kita karena menurut kita, kita punya pilihan dan cara yang tepat. Padahal isi kepala orang berbeda. Itulah yang seringkali menyebabkan dua orang yang saling mencintai: lelaki-perempuan, ibu-anak,dan sebagainya, saling marah dan bertengkar. Bukan karena kebencian, tapi justru karena cinta.

Foto: mysticalraven.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe