Saat Atheisme Sekadar Menjadi Tren

16.38



Di tengah dunia yang rasional, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang irrasional, karena tidak bisa dibuktikan dengan panca indera. Namun sebetulnya, ada banyak hal di dunia ini yang tidak hanya bisa dibuktikan dengan panca indera saja. Pasalnya jangkauan terjauh alam semesta yang dapat diamati oleh manusia hanyalah sejauh kurang lebih 14 milyar tahun cahaya.

Memperdebatkan agama adalah hal yang wajar. Bahkan, dalam beragama kita mesti kritis agar dapat memahami dan mentafsirkan apa yang kita yakini dengan baik. Namun mencibir mereka yang beragama, menurut saya adalah hal yang kekanak-kanakkan.

Di media, kita sering mendengar kekerasan dan pemaksaan kaum beragama kepada kaum lain yang tidak beragama. Juga sindiran-sindiran pedas kepada mereka yang tak rajin beribadah. Tak mengherankan bila kaum beragama dianggap sebagai sekumpulan orang berpikiran sempit dan tidak toleran. Padaha di sisi lain, banyak juga kaum tak beragama yang tidak toleran terhadap kaum beragama.

Misalnya, mendiskreditkan mereka yang rajin melakukan ibadah. Orang yang rajin ibadah dianggap kaku dan tidak fleksibel. Ini tak hanya terjadi di media sosial, tetapi di kehidupan nyata. Terutama di kota-kota besar macam Jakarta.

Bagi saya, untuk beragama atau tidak, keduanya adalah hak asasi manusia. Orang lain tak berhak mencampuri apa yang kita percayai dan bagaimana cara kita mempercayai sebuah agama. Entah untuk pahala, atau untuk keseimbangan semesta. Selama kaum beragama dan yang tidak beragama saling memahami hal ini, tak perlu sebetulnya ada keributan. Sayangnya keduanya tak mampu toleran. Dan kaum yang seolah-olah toleran, ternyata hanya mampu bertoleransi terhadap apa yang mereka percayai.

Ada banyak orang yang seringkali mencibir agama dan penganutnya, menganggap mereka kuno, irrasional, dan lain sebagainya, dan dengan bangga mengaku bahwa mereka tak percaya dengan agama. Tapi pada saat hari raya, mereka juga ikut merayakan. Ikut Sholat Idul Fitri. Ikut misa. Mencitrakan diri sebagai orang yang saleh. Dan lain sebagainya. Bukankah ini tidak konsisten? Bagi saya,kalau memang tidak percaya, ya sudah, jadilah total dalam ketidakpercayaan itu. Jangan hanya percaya saat perayaan saja. Cukuplah percaya di KTP saja, karena memang negara ini mengakui keberadaan agama.

Lucu sekali saat melihat mereka yang sehari-harinya mencibir entitas Tuhan, mencibir orang relijius, mencibir berbagai ritual ibadah, ternyata mengunggah foto dirinya tengah beribadah saat Hari Raya. Ini tidak ubahnya seperti orang-orang yang hanya membanggakan Indonesia saat 17 Agustus-an, dan di lain waktu, dia menjelek-jelekkan negara ini, menyesal terlahir sebagai Warga Negara Indonesia.  Kalau memang begitu, bukankah atheisme yang mereka banggakan itu hanyalah sekadar hiasan bagi mereka? Digunakan karena tak percaya dengan Tuhan adalah hal yang keren. Dan mempercayai agama adalah hal yang ketinggalan jaman, tidak cerdas, tidak muda, irrasional

Mungkin memang benar, mengapa istilah agama diambil dari Bahasa Jawa ageman, atau busana. Karena layaknya busana, beragama dan tidak beragama semacam menjadi identitas untuk dapat diterima di kaum dan masa tertentu.

Sumber foto: cartoonstock.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe