Masyarakat Muda "Ala-ala"

21:00


Dalam novel berjudul "Kaze no uta o kike" yang diterjemahkan menjadi "Dengarlah Nyanyian Angin", Haruki Murakami menggambarkan sosok pemuda-pemudi Jepang pasca Perang Dunia II yang terbawa arus budaya Amerika. Pemuda-pemudi itu digambarkan sebagai pribadi yang tak terlalu peduli dengan masa depan, doyan mabuk dan berhubungan seks bebas. Intinya, semacam mendobrak tradisi dan norma yang ada.


Saya tidak akan bersikap sok moralis dengan membahas anak-anak muda yang tidak lagi menghormati norma yang ada di Indonesia, karena hal itu sifatnya relatif. Tapi saya melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang begitu bangga saat mereka berpenampilan layaknya masyarakat negara lain. Serupa dengan tokoh Aku di novel tersebut. Bahkan seringkali mereka menganggap dirinya bukan Orang Indonesia. Atau menyesal dilahirkan sebagai Orang Indonesia.

Ya memang tidak salah sih, mengagumi negara lain. Misalnya kamu berpura-pura menjadi orang Amerika Serikat, yang dalam keseharian berbahasa Inggris Amerika, mengonsumsi budaya populer Amerika Serikat, dan bergaya ala remaja Amerika Serikat. Atau kamu berpura-pura jadi anime. Berdandan layaknya anggota band Korea Selatan. Tetapi ketika kemudian kamu menjelek-jelekkan negara kamu, dan berpikir kalau menjadi "terlalu Indonesia" adalah hal yang ketinggalan jaman, mungkin ada yang salah dari pikiran kamu.


Mungkin budaya negara lain terlihat lebih maju dan menggiurkan. Apalagi dengan nuansa yang dinamis, dan berwarna. Di pikiranmu, mungkin jauh berbeda dengan batik Indonesia yang super formal. Tidak keren, tidak anak muda banget. Juga soal musik. Musik yang diimpor dari negara-negara maju, sebutlah Little Mix, Laruku, Suju, dianggap lebih keren dan menyenangkan untuk dinyanyikan. Lebih terlihat gaul, begitulah. Karena toh radio memutarkannya hampir setiap saat, semacam alarm bangun tidur untukmu.


Budaya-budaya pop negara maju memang seolah menawarkan konsep yang lebih dinamis dan bisa mengakomodir gerak anak muda yang penuh dengan gejolak. Musik-musik keroncong, lagu The PanasDalam Bank, dan juga musik-musik daerah tidak punya gejolak itu. Kasarannya, tidak bisa dijadikan latar untuk joget-joget di pub sampai jackpot. Makanya tidak banyak pendengarnya. Paling juga anak muda yang "beda" dan bukan anak muda mainstream pada umumnya.


Maka dari itu, banyak di antara kamu yang lebih suka mengidentifikasi diri dengan masyarakat luar negeri. Berpura-pura jadi orang luar padahal KTP mu masih ada lambang garudanya. Juga kalaupun kamu berpindah kewarganegaraan, belum tentu juga kamu akan lebih diterima. Pasalnya menjadi warga negara asing tidaklah sama dengan apa yang kita lihat di film-film dan video klip. Kamu tidak akan bisa hidup dan makan dengan konsep YOLO-mu yang kamu biasa lihat di Youtube.


Mengagumi negara luar bukanlah hal yang salah. Lagipula di era digital semacam ini, siapa yang bisa membendung pengaruh dari berbagai macam negara? Namun akan lebih baik kalau kamu sekadar mengambil hal-hal yang baik dari mereka, yang produktif lah misalnya. Bukannya malah menjadi sasaran empuk dari produk mereka. Ya sebagai manusia sebetulnya kamu berhak pakai kostum Harajuku di jalan sambil menyanyikan lagunya Rihanna yang punya repetisi kata maksimal itu, kan manusia punya hak untuk mengekspresikan diri. Tapi kalau dengan cara itu kamu menganggap takdirmu sebagai Orang Indonesia adalah sebuah kesialan, mungkin kamu harus coba jadi imigran. Yakin, enak?

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe