Hak Para Karyawan Untuk Tidak Diberi Harapan Palsu

15:02


Paul Lafargue, menantu Karl Marx pernah berkata kalau manusia memiliki hak untuk malas. Namun mungkin hal tersebut terlalu jauh untuk kita pikirkan saat ini.

Bagaimana tidak? Beberapa hak yang jelas tertera dalam Undang-Undang saja tidak kita suarakan. Contohnya saja perihal karyawan kontrak. Banyak lho, karyawan-karyawan yang masih berstatus kontrak, padahal telah bekerja lebih dari 3 tahun. Padahal menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, karyawan hanya bisa diikat dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu selama maksimal dua tahun, dan dapat diperpanjang satu kali untuk selama maksimal satu tahun.

Herannya, hal semacam ini banyak terjadi di perusahaan-perusahaan ternama: perbankan besar, BUMN, media, dan korporasi-korporasi besar lainnya. Maka tak mengherankan bila setiap tahun, selalu saja ada berita tentang demonstrasi pekerja yang menuntut untuk diangkat setelah pengabdian bertahun-tahun. 

Kemudian yang lebih memuakkan, banyak orang-orang baru, dengan masa kerja yang lebih sedikit dan pengalaman lebih minim, diangkat terlebih dahulu sebagai karyawan tetap. Perusahaan berdalih bahwa orang-orang ini diangkat sebagai karyawan tetap karena telah melewati seleksi ketat dan pendidikan singkat dari perusahaan, sehingga dianggap lebih mumpuni daripada karyawan yang telah lama bekerja dan berstatus kontrak. Hal semacam ini biasa terjadi di bank dan media. Dengan nama yang besar, tentunya. Dan anehnya lagi, para karyawan kontrak abadi ini punya kewajiban yang sama dengan karyawan yang telah diangkat sebagai karyawan tetap. Beban kerja dan waktu yang sama. Sayangnya, gaji, tunjangan, dan status yang berbeda.

Protes? Imun mereka kuat terhadap hal semacam ini. Perusahaan akan punya dalih semacam "kalau nggak suka ya cari perusahaan lain aja" saat karyawan mempertanyakan status mereka. Sudah hampir tidak ada bedanya dengan seorang perempuan yang bertanya mengapa dia tidak kunjung dilamar setelah melewati masa pacaran 8 tahun lamanya. Lalu seperti yang sebelum-sebelumnya, para karyawan yang jelas butuh uang, tak tahu harus membuka usaha apa, terpaksa menuruti aturan perusahaan, be good, berbaik-baik sikap, agar kontraknya tak diputus. Seperti orang yang tidak punya kesadaran.

Ya mau bagaimana lagi, kesadaran kita saat ini tak hanya ditentukan oleh kita sendiri. Seperti yang pernah dikatakan oleh Karl Marx, posisi sosial mereka juga menentukan kesadaran mereka. Keberadaan orang lain dan kefaktaan, kalau Sartre boleh menambahkan hal yang membatasi keberadaan kita sebagai manusia. Banyak orang yang mau jadi pengusaha. Yang punya ide brillian untuk membuka usaha. Atau punya ide lain selain bekerja dengan status karyawan kontrak dan bayaran tak seberapa. Tapi ini bukan masalah kerja keras dan inisiatif semata. Karena kesempatan baik tak datang ke semua orang, dan datang ataupun tidak, hak manusia sudah semestinya dipenuhi.


Sebetulnya, perusahaan memiliki hak untuk mempekerjakan siapa saja, memecat dan mengeluarkan siapa saja. Namun dengan syarat, perusahaan mematuhi Undang-Undang dan juga memenuhi hak mereka. Bukannya malah mempermainkan para karyawan, dengan sistem kerja yang licik dan licin. Seolah para perusahaan ini berani untuk menantang Undang-Undang, merasa posisi mereka setinggi gedung yang mereka gunakan untuk bekerja dan "mengerjai" orang setiap harinya.

Dan ini bukan perihal "orang kaya selalu menang dan orang miskin akan tertindas" serta yel-yel banal lain yang biasa didengungkan saat Hari Buruh, tetapi, setidaknya kita mesti menyadari, kalau sebagai manusia, kita punya hak untuk diperlakukan layaknya manusia. Meskipun itu hanya sebatas kontrak kerja semata.

Sumber: hukumonline.com
Paul Lafargue: The Right To Be Lazy

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe