Di Balik Pertanyaan "Kapan Punya Momongan?"

09.33


Ada sebuah kejadian yang sedikit menyebalkan saat saya ke minimarket kemarin siang. Saya melihat seorang Ibu, dengan tas Louis Vuitton yang entah asli atau palsu, tengah memarahi anaknya yang terlalu lama memilih roti. Anak tersebut sebetulnya tak terlalu banyak tingkah. Mengenakan seragam sekolah dan seperti layaknya anak-anak, suka dengan camilan.

Mengapa menyebalkan, adalah karena saya tahu mengapa Ibu itu menyuruh anaknya untuk cepat-cepat. Rupanya lantaran masalah taksi. "Kalau kamu kelamaan, taksinya nanti mahal!" ujarnya dengan nada suara setinggi Adiguna Sutowo saat konferensi pers bersama Piyu Padi, sambil menarik lengan anaknya yang kurus kecil. Keributan itu masih saja berlangsung hingga mereka naik taksi.

Saya jadi ingat tentang sebuah tradisi dalam masyarakat kita. Setiap kali ada pasangan yang baru menikah, orang-orang akan bertanya semacam ini: "Kapan nih mau punya momongan?". Contohnya seperti yang dialami oleh pasangan selebriti Irwansyah dan Zaskia Sungkar. Masyarakat kita menganggap bahwa pertanyaan tersebut adalah bentuk pertanyaan yang ramah dan bersahabat. Tanpa mereka ketahui, ada beban psikologis besar yang dirasakan oleh pasangan tersebut. Apalagi perempuan. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa ada tidaknya anak dalam sebuah masyarakat dipengaruhi oleh kesuburan perempuan saja. Padahal, it takes two to tango untuk menghasilkan keturunan.

Lagipula, misalnya pun sepasang suami istri belum memiliki anak dalam waktu yang lama, masyarakat tidak punya hak untuk mempertanyakan dan mencemooh hal tersebut. Toh memiliki anak bukanlah hal yang bisa direncanakan seperti mau sarapan apa kita pagi ini. Dan tentunya, butuh kesiapan finansial untuk memiliki seorang anak. Siapa yang tahu kalau sepasang suami istri memutuskan untuk menyelesaikan semua kredit yang mereka miliki misalnya, atau mengumpulkan uang dengan jumlah tertentu terlebih dahulu, baru merencanakan untuk memiliki anak? Supaya anak mereka bisa terurus dengan baik

Atau memangnya kenapa, kalau ada pasangan yang tidak ingin memiliki anak? Apakah itu salah? Setiap orang punya definisinya masing-masing tentang keluarga dan kebahagiaan. Selama tidak bertentangan dengan hukum alam dan tidak merugikan orang lain, kenapa harus dicemooh?

Ada sebuah aliran bernama determinisme yang menganggap bahwa sejak awal, semua yang dilakukan dan dipikirkan oleh manusia sudah ditentukan baik secara sosial ataupun biologis. Jadi, manusia sebetulnya tidaklah punya kehendak sendiri, karena ada rangsangan otak dan keadaan sosial yang mendorongnya untuk melakukan hal tertentu. Sebetulnya hal ini masih bisa diperdebatkan, terutama yang berkaitan dengan rangsangan otak. Karena kalau memang sudah ditentukan, lantas siapa yang mengendalikan rangsangan otak itu? Keputusan manusia? Atau sebaliknya? Ini sama halnya dengan membicarakan mana yang terlebih dahulu ada: ayam atau telur.

Namun keadaan sosial memang mau tak mau sering memaksa kita untuk melakukan banyak hal yang sebetulnya tak benar-benar kita inginkan. Contohnya ya soal memiliki anak. Banyak orang yang sebetulnya ingin menunda punya momongan karena beberapa pertimbangan. Sayangnya, pertanyaan orang lain tentang kapan dia akan punya anak membuatnya begitu ingin memiliki anak. Supaya tidak melulu mendengarkan pertanyaan yang sama. Supaya dapat membuktikan pada orang yang bertanya demikian kalau dia bisa memiliki anak.



Masalahnya, memang semua orang pantas punya anak?

Bukannya mau mendiskreditkan beberapa ibu dan ayah. Tapi memang ada orang-orang yang sebetulnya belum siap memiliki anak. Contohnya, mungkin, seperti ibu-ibu yang saya temui di minimarket kemarin siang. Apakah pantas seorang Ibu mempermalukan anaknya di depan umum hanya karena uang taksi yang mahal? Belum lagi ditambah dengan aksinya menarik lengan sang anak. Memangnya anak tidak trauma? Dia akan merasa takut dan tidak aman berada di dekat Ibunya sendiri. Ini mengerikan. Karena seharusnya, Ibu dan Ayah menjadi tempat bersandar bagi seorang anak, saat segala hal di dunia terasa berat baginya. Kalau Ibu dan Ayahnya saja sudah tak menawarkan kenyamanan, lantas ke mana dia akan pulang?

Untuk itu, pertanyaan "Kapan punya momongan?" bukan sekadar ekspresi keakraban yang bisa kita abaikan begitu saja. Pertanyaan "Kapan punya momongan?" dapat memberikan dampak yang lebih buruk dan besar: merusak keharmonisan pasangan dan melahirkan anak-anak dari para Ibu dan Ayah yang secara psikologis dan (mungkin) secara materi belum siap untuk mengurus orang lain.

You Might Also Like

1 komentar

Our Shop

Subscribe