Bagaimana Bila Fauzi Bowo dan Bukan Basuki Tjahaja Purnama?

14:09


Pagi ini, saya membaca beberapa berita terkait relokasi Pasar Ikan ke Rumah Susun. Karena saya adalah orang awam terkait tata kota, maka saya rasa ide untuk merelokasi penduduk warga Pasar Ikan ke rumah susun adalah hal yang bagus. Tapi perkataan saya ini tidak dilandasi dengan pengetahuan tentang bagaimana mereka membayar uang sewa rumah susun dan pekerjaan apa yang bisa mereka lakukan di rumah susun. Perkataan saya pun tidak dilandasi dengan pengetahuan tentang surat-surat kepemilikan lahan, dan tentang bagaimana rumitnya pemindahan warga ke rumah susun.


Lagipula, bukan itu fokus saya dalam tulisan ini. Karena pada saat membaca artikel-artikel tentang Pasar Ikan, dan membaca ratusan komentar di bawahnya (yang entah dibuat oleh pembaca betulan atau "pembaca kloningan" -seperti yang pernah saya tulis di artikel ini-), saya mendadak berimajinasi: bagaimana kalau saat ini Gubernurnya masih Bapak Fauzi Bowo dan bukannya Bapak Basuki Tjahaja Purnama? Apakah kolom komentar masih dipenuhi oleh nuansa dukungan terhadap Gubernur?


Sejak dulu memang rakyat kita selalu terlihat berpihak pada rakyat kecil. Terlihat lho ya, karena prakteknya belum tentu begitu. Jadi setiap hal yang merugikan rakyat kecil, terlepas dari salah tidaknya mereka, akan selalu diserang mati-matian. Pemerintah vs rakyat, rakyatlah yang benar. Tapi saya rasa tren ini agak berubah semenjak Presiden kita adalah Bapak Joko Widodo dan Gubernur Jakarta adalah Bapak Basuki.


Ya bagus kalau memang kenyataannya rakyat sudah mulai paham bila pekerjaan pemerintah tidak mudah. Tapi saya rasa bukan itu yang membuat mereka mendukung pemerintah. Maka dari itu saya berpikir lagi, kalau yang diwawancara adalah Fauzi Bowo dan bukannya Basuki, kalau Susilo Bambang Yudhoyono dan bukan Joko Widodo, di saat dan di kolom komentar yang sama, masihkah rakyat netizen ini berpihak pada pemerintah?


Saya pun jadi teringat dengan perkataan teman saya tentang banyaknya "sindikat" di internet. Yap, kebetulan teman saya tengah membantu kampanye sebuah partai di dunia maya, dan saya pun jadi tahu bagaimana pola kampanye suatu partai atau calon. Dan begitu membuka mata saat tahu bahwa aspirasi-aspirasi baik di dunia nyata maupun di dunia maya tak sepenuhnya aspirasi betulan. Di dunia maya contohnya, banyak kelompok yang melalui forum-forum dan kolom komentar, mencoba untuk menggiring opini pembaca tentang suatu sosok ataupun pemberitaan. Di dunia nyata? Banyak tokoh-tokoh pendukung suatu calon atau partai yang pura-pura jadi agen perubahan,padahal cuma ingin minta jatah.


Saya tahu kalau Bapak Basuki, Bapak Joko Widodo, dan Bapak Ibu lain di pemerintahan punya beban kerja yang berat. Jangankan mengatur rakyat. Mengatur anak-anak di rumah saja susahnya bukan main. Tapi saya kecewa saat masyarakat punya standar ganda tentang siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh dikritik. Padahal kritik sendiri beda artinya dengan benci. Tidak tahu bedanya? Beli Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau unduh saja, ada di Play Store dan App Store. Tapi mau bagaimana lagi. Masyarakat mudah didorong oleh selera yang sedang nge-trend. Iya, didorong. Bukan selera mereka sendiri, karena seperti kata Pierre Bourdieu, selera tidaklah netral.


Atau kalau kamu memang malas membaca kamus dan memahami kalau kata-kata dalam Bahasa Indonesia ada banyak dan punya beragam makna, lebih baik kamu berhenti baca berita. Di sana bukan tempat untuk orang yang belajar baca. Karena yang menulis berita pun terkadang tidak tahu apa yang dia tulis.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe