Ada Apa Dengan (Akting) Cinta?

08.55


Waktu Ada Apa Dengan Cinta (AADC) jilid 1 tayang di bioskop pada tahun 2002, saya masih berusia 10 tahun. Saat itu saya merasa kalau filmnya bagus sekali. Lalu saya ingin menjadi remaja di Jakarta dan menemukan lelaki penyuka sastra macam Rangga.

Beberapa tahun setelah itu, saat saya sudah tumbuh dewasa, saya kembali menonton AADC di televisi. Filmnya masih bagus. Ceritanya natural, walaupun saya bingung kenapa anak SMA bisa menembus pengamanan Bandara Soekarno Hatta. Tapi tak masalah, kejanggalan itu ditutupi dengan akting-akting para pemain yang natural, juga skenario Jujur Prananto yang tidak terlalu drama seperti layaknya film cinta jaman sekarang.

Lalu beberapa tahun kemudian, Rangga dan Cinta kembali muncul lewat Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2). Entah film tersebut dibuat karena iklan Line reuni, atau malah iklan Line reuni sebetulnya adalah bagian dari promosi film ini. Melihat teaser yang ada, berikut iklan-iklan dan meme yang muncul di internet terkait Cinta Rangga dan Geng Mading, saya merasa kalau film ini tidak akan sebagus AADC1. Entahlah, film ini semacam dibuat hanya untuk memuaskan masyarakat yang ingin Cinta-Rangga bersatu.

Tapi ternyata, film tersebut lebih dari itu.

Saya bilang lebih, karena film ini menjejalkan banyak hal manis jadi satu. Seperti kalau kamu memasukkan red velvet cookies, kue lidah kucing, dan permen eclair dalam satu toples. Masih kurang manis? Tambahkan gula batu. Bagaimana tidak? New York ada. Kafe di New York. Musim dingin. Buku jurnal tempat Rangga menulis puisi yang semacam Moleskine. Yogyakarta. Sate Klathak. Kafe di Yogyakarta. Pantai. Papermoon Theater. Punthuk Setumbu. Villa. Semuanya hal-hal indah itu disatukan dalam sebuah film berdurasi dua jam.


Manis? Iya. Tapi kamu akan merasa ingin muntah saat kebanyakan makan kue-kue manis. Diabetes juga, kalau jadi kebiasaan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Cinta. Kalau tidak salah sih, Cinta digambarkan sebagai pemilik galeri seni dengan para pegawai hipster. Seharusnya, dengan profesi semacam itu, yang diobrolkan oleh Cinta dan Gengnya lebih dari sekadar "persahabatan unyu-unyu". Lagipula, mereka sudah bersahabat dari 2002. Hingga 2016. Totalnya 14 tahun. Apa ada persahabatan 14 tahun yang masih menggunakan bahasa dan obrolan "unyu-unyu" seperti: kita bakal travelling bareng asyik, kita sudah beliin kamu tiket, gue cuma pengen yang terbaik buat lo. Apalagi ini Jakarta. Dan Geng Mading bukanlah geng ibu-ibu sosialita atau geng cewek manis yang kerjanya hanya beli Celine atau Hermes.

Yang namanya sahabat, biasanya sih saling ejek dan bersikap apa adanya. Tapi dalam waktu tertentu, mereka juga bisa menjadi tempatmu untuk curhat. Hanya saja Geng Mading ini terlalu manis. Semacam antara mereka ada jarak dan modalitas kesopanan. Yap, modalitas kesopanan adalah kuncinya. Kamu tidak mungkin kan sopan-sopan sama sahabatmu yang sudah kamu kenal selama 14 tahun.

Namun kalau memang Geng Mading adalah Geng anak terpuji sekaligus Geng Hipster yang dekat dengan kesenian dan gaya hidup sehat, mungkin tidak perlu kita pikirkan modalitas kesopanan di antara mereka dan juga pembicaraan mereka yang manis dan kaku. Lalu, apakah masalah selesai sampai di situ? Belum. Selain masalah Rangga dan Cinta yang belum selesai sejak 2006, banyak masalah yang ada dalam film ini.

Pertama, tentang Rangga. Premis kalau Rangga adalah seorang lelaki hipster yang ke mana-mana membawa jurnal (serupa) Moleskine dan kamera Fujifilm Xt-10 serta punya kedai kopi di New York memang bukan premis yang aneh. Tidak seaneh film Azrax yang di mana Aa Gatot bisa melepas lampu taman untuk memukul musuh. Tetapi saya hanya ingin menemui pembuat skenario dan bertanya "Nggak ada yang lain, coy? Kamu hanya membuat Rangga seperti Gary Stu". Mengapa lelaki hipster harus identik dengan kafe? Dengan puisi? Dengan fotografi? Ya tidak masalah sih. Cuma, mengapa harus bikin buku? Sekadar membuat buku fotografi yang bercerita? Bukankah untuk ukuran Rangga yang dianggap beda cerdas muda dan langka, ide seperti itu terlalu biasa? Kenapa Rangga tidak membuat apa lah, blog fotografi dengan menampilkan sisi lain New York yang sunyi, atau yang morbid seperti hati Rangga. Iya, blog. Ini 2016. Namun ya sudah, mungkin Rangga tipikal lelaki yang suka dengan hal manis.


Lalu yang kedua, hubungan segitiga Cinta-Rangga-Trian. Ya mungkin Trian memang pengusaha yang tidak tahu seni. Tidak nyambung sama Cinta yang suka dengan segala keindahan dan filosofi hidup, karena yang Trian pikirkan hanya karir dan ambisinya. Sudah tahu begini, kenapa baru ditinggalkan setelah ada Rangga? Yayaya saya tahu betul kalau di dunia ini masih ada yang namanya pelarian. Tapi sekali lagi, ini premis FTV yang biasa kita tonton saat jam 10 pagi. Kamu habis dilamar pacarmu. Kamu bahagia. Tapi masih ingat mantan. Tapi ya mau bagaimana lagi mantanmu brengsek. Lalu kamu liburan ke Jogja dengan teman se-geng. Kamu bahagia. Namun mantanmu datang lagi. Mantanmu yang ke Jogja karena ingin bertemu Ibunya menjelaskan kalau dulu dia masih cinta tapi terpaksa meninggalkan karena minder dengan keluargamu. Kamu percaya. Lalu kamu diajak jalan-jalan dari pagi sampai pagi. Kamu mau. Lalu kamu bimbang. Dia menyusul ke Jakarta. Kamu lebih galau. Tapi akhirnya kamu menyusul dia ke New York dan melihat dia berpelukan dengan perempuan lain yang ternyata hanya pelukan terima kasih karena gajinya dinaikkan. Lalu kamu baikkan. Jadian. End of story. Seperti ada deus-ex-machina yang berfungsi dengan sangat baik. Dan kalau sebuah film sudah sarat dengan peran deus-ex-machina, rasanya kita tidak butuh penulis skenario.


Ketiga, obrolan Cinta dan Rangga. Cinta adalah pemilik galeri seni. Rangga adalah pemilik kafe yang suka dengan puisi, suka fotografi dengan kamera lumayan mahal, dan juga sudah baca Sjumandjaya waktu SMA. Seharusnya saat bertemu, obrolan mereka tak seperti anak SMA yang role-modelnya Aliando dan Steven William. Obrolannya mesti lebih dari sekadar "saya pernah pacaran sama seseorang. Saya kira orangnya kayak kamu ternyata bukan" atau "Pacar saya ambisius tapi dalam artian positif" atau "Saya baru tahu bedanya travelling dan liburan". Apa ya? Itu kan banal sekali. Banal banal banal. Saya tadinya berpikir kalau pertemuan Rangga dan Cinta akan diisi dialog semacam Before Sunrise Before Sunset dan Before Midnight yang manis tapi berisi. Ini apa? Saya merasa lebih baik kembali ke rumah dan mendengarkan dialog FTV berlatar Kota Solo yang ibu-ibunya digambarkan masih menggunakan sanggul di kehidupan sehari-hari.

Kalau memang Cinta dan Rangga adalah pecinta seni kelas berat, tidak bisakah membicarakan hal lain seputar itu? Rembrandt kek. Makna cakrawala merah dan kegelisahan eksistensial lukisan The Scream-nya Edvard Munch lah. Karikaturnya Basuki Resobowo, atau setidaknya instalasi seni yang semalam baru dihadiri Cinta dan geng-nya. Mengapa sih, Rangga? Ada apa dengan kamu, Cinta?

Keempat, Rangga dan adiknya. Ternyata selama ini Rangga punya adik tiri yang saat bertemu Kakaknya mengaku terharu tapi raut mukanya biasa saja. Ya ini mungkin lantaran New York sedang dingin-dinginnya dan kulit adik Rangga,Sukma, menjadi kaku karena paparan salju.

Namun bukannya tidak ada sisi menarik dari film ini. Saya mengakui bahwa sinematografinya indah sekali. Salut dengan pengambilan gambarnya, sangat menarik. Lalu juga akting Adinia Wirasti sebagai Karmen yang sangat natural. Tidak berlebihan. Sangat cantik. Juga Sissy Priscillia yang masih bisa terlihat "telmi". Oh, dan Rangga yang sangat menjiwai perannya sebagai lelaki hipster pecinta sejati yang langka. Walaupun saya tidak tahu apakah memang Nicholas Saputra adalah orang yang begitu di dunia nyata, ataukah memang dia masih mampu menjiwai karakter Rangga. Kalau Cinta? Saya tidak tahu mengapa akting Dian Sastrowardoyo yang dulu jauh lebih menarik dan alami. Meskipun ya memang Dian Sastrowardoyo sekarang lebih cantik daripada yang dulu.

Saya rasa, mungkin AADC2 tidak semestinya ada. Atau kalaupun ada, tidak seperti ini seharusnya cerita mengalir. Kalau memang seperti ini, ya sudah seharusnya Geng Mading dan Rangga balik ke masa di mana Kwitang belum digusur dan PAS Band masih bikin konser besar.

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

3 komentar

  1. Hehe indeed. Udah 9 tahun ketemu harusnya dialog/konflik-nya lebih berat. Alih2 malah subtle sekali. Tapi yah, nice ending sih. Most people love that :p

    Oh ya, +1 khususnya buat acting Nicholas Saputra. Disini terasa lebih beremosi, gak datar2 pas di AADC 1...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sweet ending ya, bener,sayangnya dari awal uda dicekokin yang manis2 jadi eneg wkwkw.

      Iya banget nih, uda 9 taun kan otomatis uda dewasa yak, masa waktu nggak mengubah perasaan dan kepribadian sih? Haha anyway jempol sih buat sinematografi sama akting Karmen+Nicsap:D

      Hapus
  2. Omg ternyata bukan hanya aku yang merasa seperti ini. Bahwa percakapan antara cinta dan rangga di aadc2 kok dangkal banget.Gila aja 9 thn pasti byk yg mau diomongin gtu loohh. Ini film mau jadi before sunrise+before sunset tapi tapi gagal. Terlalu byk meaningless lines kuciwa deeh

    BalasHapus

Our Shop

Subscribe