Yakin, Kalau Kamu Tidak Pernah Korupsi?

17.46


Masyarakat Indonesia termasuk masyarakat yang benci dengan perilaku korupsi. Berdasarkan data BPS pada tahun 2015, Indeks Perilaku Anti Korupsi masyarakat Indonesia mencapai angka 3,59 dari skala 0 sampai 5. Semakin mendekati angka 5, semakin menunjukkan bahwa masyarakat semakin berperilaku anti korupsi. Indeks ini disusun berdasarkan dua faktor. Yang pertama adalah persepsi masyarakat terhadap korupsi, dan yang kedua adalah pengalaman masyarakat terhadap korupsi. Tercatat bahwa persepsi masyarakat terhadap korupsi semakin buruk dari tahun ke tahun, tetapi berdasarkan pengalaman, makin banyak masyarakat yang melakukan tindak korupsi dalam keseharian. Ini sebuah hal yang kurang sinkron. Korupsi dianggap sebagai sebuah bumbu penyedap, layaknya tokoh antagonis dalam sinetron, yang menyenangkan untuk disalahkan dan dibicarakan berlarut-larut. Tapi toh, dalam kehidupan nyata, mereka juga sering berlaku seperti para antagonis tersebut. Hanya bedanya, mereka tak mendapatkan sorotan. Maka dari itu, tak mengherankan kalau berbagai berita penyalahgunaan keuangan selalu dikaitkan dengan tindak korupsi. Mulai dari Panama Papers hingga permasalahan Gubernur Basuki dengan BPK. 

Padahal tidak semua kesalahan keuangan identik dengan korupsi. Namun persepsi ini tak bisa dilepaskan dari peran media massa. Media massa memiliki peran dalam mengarahkan persepsi masyarakat. Apalagi masyarakat yang tidak paham betul bagaimana cara kerja media dan dapat memfilter pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh media. Banyak media massa yang terus menerus memojokkan mereka yang terkena permasalahan keuangan dan pajak. Padahal mereka pun belum ditetapkan sebagai pelaku tindak korupsi. Semacam memberikan pesan subliminal kepada masyarakat bahwa orang-orang itu memang koruptor. (Kalian tahu tentang Panama Papers? Tidak semua yang terkait dengan Panama Papers melarikan diri dari pajak. Seperti ilustrasi dari Vox ini. 


Tetapi media massa memberikan pesan pada masyarakat bahwa mereka adalah gerombolan pengemplang pajak. Meminjam istilah yang dikemukakan oleh Baudrillard, ada sebuah realita dari media massa yang diciptakan untuk masyarakat. Hipperealitas. Masyarakat pun menganggap realita tersebut adalah hal paling nyata. Padahal realita itu semu. Tak hanya terkait masalah korupsi, tetapi juga menyangkut hal lain. Media massa negara kita yang kini sudah serupa pabrik-pabrik pada revolusi industri abad-19 masuk ke ranah pribadi kita, masuk ke kantor kita, ke jalanan yang kita lewati, menawarkan opini yang dibalut oleh gula-gula manis bertajuk fakta. Membungkus diri dengan profesionalisme semu. Di dunia ini tak ada sesuatu yang obyektif. Termasuk media massa dan jurnalis-jurnalis mereka sebetulnya. 

Namun yang paling mengerikan adalah oknum-oknum yang mengaku obyektif padahal mereka sendiri tahu bahwa mereka punya maksud lain dengan mengatasnamakan obyektifitas itu sendiri. Itu mengerikan. Maka tak mengherankan kalau masyarakat kita begitu mudah menghakimi sesuatu tanpa terlebih dahulu berpikir lebih dalam dan melihat sisi lain dari suatu masalah. Ya mau bagaimana lagi, di setiap televisi, spanduk, ponsel, dan lain sebagainya, kita "diberi pesan" untuk melakukan hal tersebut, kok.

Sumber:
www.vox.com


You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe