Who to Know: Michel Foucault

07.55



Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata kekuasaan? Apakah tentang raja-raja hebat? Presiden? Atau orang yang mengerikan? Nyatanya, kekuasaan tidak melulu tentang jabatan atau mereka yang punya modal kapital besar saja. Setidaknya, begitulah yang digagas oleh seorang filsuf Prancis yang memiliki ciri khas rambut gundul dengan kacamata yang senantiasa bertengger di wajahnya, Michel Foucault.

Michel Foucault lahir di Poiters, Prancis pada tanggal 15 Oktober 1926. Ia merupakan salah satu filsuf pada era postmodernisme. Berbeda dengan filsuf Prancis lain, seperti Sartre ataupun Camas yang pemikirannya terfokus hanya pada satu bidang saja, Foucault menyumbangkan pikiran pada berbagai bidang, seperti sejarah orang gila dan narapidana, sistem wacana (épistème), seksualitas, pengetahuan, dan juga kekuasaan.

Ia lahir dari keluarga dokter. Ayahnya merupakan dokter ahli bedah, dan ibunya merupakan putri dari seorang dokter bedah. Ayah dan kakeknya berharap ia dapat mengikuti jejak mereka, tetapi Foucault lebih tertarik pada bahasa, filsafat, sejarah, dan psikologi sosial (Bertens, 2001).

Minat besarnya dalam hal-hal tersebut terlihat saat ia bersekolah di Lycée Henry IV dan College Saint Stanislas. Ia senantiasa mendapatkan nilai terbaik pada pelajaran bahasa dan sejarah. Bertolak belakang dengan nilai-nilainya pada bidang eksak seperti matematika atau ilmu ukur (Suyono, 2007). Namun minat besar pada sejarah dan bahasa ini mendorongnya masuk École Normal Superieur. Di sekolah tersebut, oleh kawan-kawannya, Foucault dikenal sebaga pribadi yang cerdas, tetapi aneh. Perilaku dan pemikirannya terkadang sulit dinalar, sehingga, ia tidak memiliki banyak teman. Namun dalam keadaan tersebut, ia mulai tertarik kepada psikologi

Semasa hidupnya, Foucault menghasilkan banyak karya, seperti Maladie mental et psychologie (1959), Folie et deration : Histoire de la folie à L’âge Classique (1961), Naissance de la clinique (1963), Les mots et les choses (1966), L’ordre du discours (1970), Surveiller et Punir (1975), serta Histoire de La Sexualité I (1975) yang dilanjutkan dengan Histoire de La Sexualité II dan III (1984). Karya-karyanya bertemakan kekuasaan, seksualitas, psikologi, dan sejarah. Foucault mengkaji tema-tema ini dengan sudut pandang yang berbeda. Misalnya, kekuasaan dengan bentuk yang tersebar dan bukannya terpusat, serta sejarah yang bukan sejarah orang besar, tetapi sejarah semacam narapidana atau orang gila.


Di tengah banyaknya karya yang dihasilkan, Foucault mengalami pergumulan dengan batinnya sendiri pada tahun 1975 saat pergi ke Amerika Serikat. Kendati ia telah menjadi homoseksual semenjak di Prancis, tetapi di Amerika Serikat, ia mulai berani terbuka mengenai keadaannya tersebut. Foucault meyakini bahwa menjadi pelaku homoseksual adalah sebuah kemungkinan untuk mendapatkan pengalaman tubuh yang lain di luar tubuh manusia Eropa yang telah dibatasi dimensi-dimensi ironisnya selama sekian ratus tahun.

Namun, pengembaraan hidup Foucault harus berakhir pada tahun 1984. Di musim gugur 1983 San Fransisco, ia mulai terserang berbagai macam penyakit. Setahun setelahnya, saat ia kembali ke Prancis, ia jatuh ambruk di apartemennya. Ia divonis meninggal karena mengidap penyakit AIDS. Kematiannya akibat AIDS, seperti yang dilansir oleh majalah Newsweek, merupakan suatu death wish, kematian yang memang dirindukannya.

Pemikiran Michel Foucault dipengaruhi oleh banyak filsuf, seperti Friedrich Nietzche, Karl Marx, Ferdinand de Saussure, Sigmund Freud, Friedrich Holderin, George Bataille, Marquis de Sade, Van Gogh, Raymond Roussel, Antonia Artaud, dan Charles Baudelaire. Namun kajian Foucault tentang kekuasaan berawal dari penilaiannya terhadap konsep kekuasaan Marx. Marx menempatkan kekuasaan dalam lingkaran perspektif makrostruktur. Sementara itu, Foucault berpikir bahwa kekuasaan sifatnya bisa makrostruktur, bisa pula mikrostruktur. Berdasarkan penilaiannya terhadap teori tersebut dan dunia sosial, Foucault mengatakan bahwa kekuasaan bukan menjadi milik kelompok tertentu saja (seperti istana atau pemerintahan), melainkan menyebar. Ia menyebutkan tiga ciri kekuasaan, yakni kekuasaan terletak di mana-mana(omnipresent), kekuasaan tidak bisa mutlak dimiliki, kekuasaan selalu ada dalam suatu matriks hubungan dengan kekuasaan yang lain, dan kekuasaan bukan saja bersifat negatif dan represif, melainkan bersifat produktif karena dapat menghasilkan suatu pengetahuan dalam jejaring yang dibangun.


Kekuasaan ini, menurut Foucault, terpilin dalam kesatuan tunggal. Tidak akan ada kekuasaan tanpa pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Untuk itu, ia mengambil kesimpulan bahwa kebenaran tidak terletak di luar, tetapi di dalam kekuasaan. Kebenaran merupakan produk dari kekuasaan. Contohnya adalah kebenaran mengenai wacana seksualitas yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Pada zaman Greco-Roman misalnya, seksualitas dianggap sesuatu yang agung, yang disesuaikan dengan epimeleia heautou (kewaspadaan terhadap diri sendiri). Sementara itu, pada Abad Pertengahan, kekuasaan terletak di tangan gereja, sehingga seks dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Pada masa modern ini, pengetahuan tentang seks dikuasai oleh para tenaga medis, sehingga seks sendiri ditinjau berdasarkan pandangan kesehatan.

Contoh yang lebih modern? Relasi antara guru dan murid. Guru dianggap lebih pandai dan berpengetahuan daripada muridnya, sehingga saat di kelas, gurulah yang memegang kendali pada muridnya. Selain berhak memberi tugas, guru pun berhak memberikan hukuman. Sadar kan, kamu, bahwa selama ini, saat belajar di kelas, sebetulnya kamu sedang dikuasai, lho.

Jadi pada dasarnya, Foucault menegaskan bahwa kekuasaan merupakan model strategis canggih dalam masyarakat tertentu, yang dibentuk dari kekuasaan-kekuasaan mikro yang terpisah-pisah. Relasi kuasa dapat terjadi antara satu individu dengan individu lain, individu terhadap satu kelompok, kelompok terhadap individu, ataupun kelompok terhadap kelompok, dan bukan hanya dari seseorang yang dianggap memiliki jabatan tertinggi saja.


Sumber:

Michel Foucault, L’Histoire de La Sexualite
Mudji Sutrisno dan Hendra Putranto, Teori-teori kebudayaan
Ampy Kali, Diskursus seksualitas Michel Foucault

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe