What to Know: Epistemologi

19.45



Saat membaca atau membicarakan apapun yang berkaitan dengan filsafat, kita sering mendengar tentang epistemologi. Tapi mungkin banyak di antara kita yang merasa asing sekali dengan istilah tersebut. Karena di dalam ilmu filsafat, banyak sekali ditemukan istilah-istilah, yang maknanya tidak mudah untuk dipahami begitu saja. Termasuk epistemologi ini. Tak efektif rasanya jika membahas tentang makna etimologi hanya dengan satu kalimat saja

Epistemologi sendiri berasal dari Bahasa Yunani: episteme, yang berarti  pengetahuan, dan logos, yang artinya ilmu/kata/pengetahuan. Jadi, epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari sumber, struktur, validitas dan metode sebuah pengetahuan. Dalam epistemologi, kodrat-kodrat ilmu pengetahuan dikupas hingga kita memahami dasar dari ilmu pengetahuan itu. Seperti layaknya buah, yang mesti kita kupas hingga ke bijinya untuk memahami setiap strukturnya, mengetahui bagian-bagian buah tersebut, dan mengecap rasanya.

Bila ontologi terbatas pada "apa", maka epistemologi membahas dengan menggunakan "mengapa". Mengapa gula itu manis? Mengapa manusia menangis? Mengapa matahari dapat membakar kulit? Pertanyaan "mengapa" adalah pisau dalam epistemologi yang berusaha membedah ilmu pengetahuan tersebut.

Berilmu pengetahuan tak sekadar memiliki makna tahu banyak hal. Berilmu pengetahuan berarti juga mampu menjelaskan kenapa ada banyak hal, dan apakah yang kita ketahui itu benar adanya.

Contohnya, saat kita membahas mengenai kecepatan. Kita tahu bahwa unit dari kecepatan adalah m/s, km/h, dan unit lain yang setara. Tetapi dari manakah m/s tersebut berasal? Di sinilah peran epistemologi. Membedah bahwa m/s, atau meter per second, atau meter per detik, adalah jarak (dalam satuan meter) yang dapat ditempuh per detiknya oleh sebuah benda. Inilah asal dari unit kecepatan. Tanpa membedah hal tersebut, kita tak akan tahu mengapa unit yang digunakan harus sekian meter per detik, dan bukannya sekian detik per meter, atau sekian liter per meter, dan sebagainya.

Seorang filsuf Amerika-Armenia William S. Sahakian menyatakan bahwa epistemologi berfokus pada beberapa hal. Seperti proses pencarian ilmu,seperti apa sumber-sumber pengetahuan, apa hakikat ilmu pengetahuan dan sejauh mana pengetahuan yang dapat dijangkau oleh manusia. Epistemologi memiliki sifat yang dinamis, mengajak kita untuk terus berkembang dan tak berhenti untuk berpikir.

Dengan begitu, epistemologi mengajarkan kita untuk tak hanya berpengetahuan, tetapi juga mempertanyakan makna dari pengetahuan itu sendiri, dan apakah pengetahuan itu benar-benar sahih. Epistemologi ibarat hal yang menjadi penumbuh bibit-bibit pengetahuan baru di masa mendatang, sekaligus penyempurna pengetahuan-pengetahuan yang ada di masa kini. Epistemologi pun mendorong manusia untuk kembali pada fitrahnya sebagai manusia: untuk berpikir.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe