Saat Keperjakaan Lelaki Dipertanyakan

21:38


Kamu punya integritas penuh terhadap tubuhmu. Orang-orang, terutama mereka yang (katanya) menghargai kebebasan, sering berkata begitu. Jadi, tak usah hiraukan mereka yang menghujat tubuhmu dan mengatur apa yang harus kamu kenakan. Apalagi mereka yang membatasi kebebasan tubuhmu dengan norma-norma tertentu.

Wacana kebebasan tubuh memang sudah jadi pembahasan sejak lama. Sebagian orang menganggap bahwa ada beberapa ajaran yang membatasi tubuh manusia untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Seperti agama, ajaran-ajaran lampau, dan norma-norma hukum.

Pada masa Yunani Kuno, penganut aliran Epicurus mempercayai bahwa kebahagiaan tubuh memang baik, tetapi masih lebih utama kebahagiaan mental. Aliran Orpheus pun menyatakan bahwa tubuh adalah kuburan bagi jiwa (the body is the tomb of the soul). Jadi,tubuh dianggap sebagai sesuatu yang tak sesuci jiwa.



Dalam agama tertentu, juga dijelaskan aturan tentang tubuh. Tentang bagaimana tubuh harus disucikan sebelum beribadah, tentang bagian tubuh yang sebaiknya tak diumbar misalnya. Juga tentang larangan melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Sementara itu, hukum pun juga mengatur cara berpakaian kita. Contohnya dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang mengatur tentang natas-batas bagian tubuh yang bisa ditampilkan di muka umum, serta dalam Pasal 284 KUHP yang mengatur tentang perzinahan.
Untuk itu, banyak orang yang kemudian ingin mendobrak peraturan-peraturan tersebut. Dengan dasar "tubuhku, hakku" mereka kemudian keluar dari nilai-nilai yang ada, baik yang telah tertulis dalam hukum maupun hadir secara sosial. Saya sebetulnya tak bisa menyalahkan hal itu. Tetapi kemudian, terutama dalam kehidupan masyarakat kota besar, beberapa orang kemudian menganggap bahwa minimnya pengalaman kita dalam seks menandakan betapa lugu dan bodohnya kita. Singkatnya, seperti anak yang tidak gaul.

Seorang lelaki yang belum pernah melakukan aktivitas seksual yang “jauh”, dianggap tidak punya keberanian sebagai lelaki. Bahkan terkadang juga, dianggap memiliki orientasi seksual yang menyimpang. “Maho lo”, adalah salah satu sindiran yang akan dia terima. Walaupun mungkin hanya gurauan, tetapi tetap saja ini menjadi masalah yang serius.



Ya bagaimana? Mereka bilang kalau kita punya hak untuk memperlakukan tubuh kita sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan menghujat orang-orang yang melarang perzinahan serta sebagainya. Tetapi mengapa saat kita memutuskan untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, lantas kita disebut sebagai orang-orang yang lugu, yang bodoh, yang munafik? Bukankah hal itu seperti, menelan ludah sendiri?

Lagipula, memangnya keperkasaan dan kejantanan seorang lelaki hanya bisa dinilai dari aktifnya dia dalam berhubungan seksual? Dari seberapa panjang dan lengkap Curriculum Vitae yang dimiliki oleh penisnya? Lelaki memang makhluk yang cenderung menilai segala hal secara visual, tetapi, menjaga dirinya dari aktivitas seksual tidak lantas menghilangkan nilai kelaki-lakian dalam diri kita. Masyarakat sakit inilah yang kemudian menganalogikannya dengan LGBT lah, lelaki cengeng lah, nggak bisa penetrasi, tidak punya alat kelamin, dan sebagainya. Setiap orang punya nilai dan punya kekuasaan atas tubuhnya sendiri. Termasuk untuk menjaga keperjakaan hingga pernikahan. Dan itu jelas bukan tanda kalau alat kelaminnya tak bisa berdiri tegak: itu tanda kalau dia bisa mengontrol alat kelaminnya.

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe