Saat Corat-Coret Seragam Pasca UAN Menjadi Simbol Kehendak Berkuasa

18:14


Kegiatan corat-coret seragam pasca Ujian Nasional memang memiliki konotasi yang buruk. Banyak orang yang menganggap hal tersebut mubazir, dan mengarah pada perbuatan lain yang tak patuh hukum, seperti kerusuhan di jalan, kebut-kebutan, dan lain sebagainya.

Saya pribadi sebetulnya tak suka dengan tradisi tersebut. Selain banal dan tak berguna, orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut adalah orang bodoh yang menurut saya kelewat cepat bersenang-senang. Iya, dong. Ada rintangan yang panjang dan lebih terjal, yang harus kita lewati usai Ujian Nasional. Yang pertama, pengumuman kelulusan. Yang kedua, perkara masa depan. Apakah kamu mau kuliah, bekerja, atau buka usaha. Dan ketiganya jauh lebih sulit untuk diselesaikan ketimbang Ujian Nasional yang jelas punya lima pilihan jawaban. Karena ya itu, hidup tidak punya bocoran jawaban. Bahkan terlalu bias perkara benar-salah dalam kehidupan nyata ini.

Tapi ada satu hal unik yang ada dalam tradisi corat-coret baju. Tentang mengapa sebagian besar pelajar memutuskan untuk mencorat-coret baju pasca kelulusan. Selain perayaan terhadap kelulusan (yang sebetulnya juga belum pasti), ada sebuah perayaan yang mereka adakan untuk dunia, setidaknya dunia kita sendiri.

Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, pernah membahas tentang perayaan ini. Secara optimis dia menentang beberapa pemikiran filsafat seperti kehendak bebas, substansi, dan pemikiran tradisional lain dalam filsafat. Menurutnya, satu-satunya hal yang ada dalam diri manusia adalah kehendak untuk berkuasa. Kehendak untuk berkuasa ini bukan sekadar kehendak untuk jadi yang terhebat. Tetapi juga merayakan segala hal di dunia dengan penafsiran manusia sendiri. Manusia adalah subyek bagi dunia ini. Tentunya, subyek juga bagi dirinya.


Manusia, menurut Nietzsche, bukanlah makhluk yang rasional. Dengan kehendak untuk berkuasa itu, tidak sekadar rasionalitas yang ada pada dirinya. Tetapi juga rasa. Yang mendorong manusia untuk menciptakan dunia sesuai kehendaknya.

Berbagai macam hal di dunia ini seringkali merepresi kehendak manusia. Yang kemudian membuat manusia jadi berpikir bahwa dirinya adalah obyek dari berbagai hal, termasuk orang lain. Manusia jadi tak bisa hidup sesuai kehendaknya. Proses pendidikan pun juga dapat menjauhkan manusia dari kehendaknya, apalagi bil pendidikan itu dia jalani semata karena tradisi. Tradisi bahwa untuk menjadi manusia yang dapat diterima oleh masyarakat, kita haruslah punya pendidikan formal.


Selain kebiasaan, corat-coret seragam, dilakukan sebagai "tanda" bahwa mereka telah menguasai pendidikan menengah atas. Seragam merupakan simbol dari pendidikan, berbagai peraturan yang mengikat para pelajar, serta relasi kuasa dari lembaga sekolah dan para guru terhadap pelajar. Mencorat-coret seragam merupakan hal yang dilakukan para pelajar untuk menciderai hal tersebut. Untuk menunjukkan bahwa mereka berkuasa atas seragam tersebut.

Sayangnya, mereka lupa bahwa ada satu hal di dunia ini yang dapat membatasi kehendak untuk berkuasa: keberadaan orang lain. Kita boleh melakukan banyak hal: menari-nari di jalan, berteriak, konvoi, dan lain sebagainya. Namun saat hal tersebut mengganggu kepentingan dan kenyamanan orang lain, maka hal tersebut tak dapat kita lakukan. Kebebasan kita akan selalu berbenturan dengan kebebasan orang lain, seperti yang pernah dikatakan oleh Sartre, filsuf eksistensialis Prancis yang juga terinspirasi dari Nietzche, perihal kefaktaan yang dapat membatasi kebebasan kita.

Contoh nyatanya? Masih ingat bukan kasus Sonya Depari, siswi SMU yang pada akhirnya dibully banyak orang akibat mengancam polwan saat konvoi? Mungkin kalau dunia ini hanya milik Sonya, tak mengapa dia melakukan konvoi. Namun dunia ini punya banyak orang. Dan semua orang memiliki kebebasan untuk nyaman dan selamat berkendara di jalan raya. Polwan yang bersangkutan pun juga punya hak untuk memberi hukuman pada pelanggar peraturan jalan raya, karena peraturan tersebut telah menjadi kesepakatan di Indonesia. Kalau kamu masih mau jadi Warga Negara Indonesia, ya jangan melanggar kesepakatan.

Jadi, usai Ujian Nasional usai, betulkah kita benar-benar punya kehendak bebas untuk berkuasa?

You Might Also Like

1 komentar

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Our Shop

Subscribe