Djan Faridz: Kekuasaan Sampai Mati

19.54



Banyak hal yang dikejar oleh manusia di dunia ini. Yang paling sering adalah uang dan kekuasaan. Untuk yang kedua, uang pun bahkan sering dikorbankan untuk mendapatkannya. Dan bukan hanya uang, waktu pun juga dikorbankan.

Kalau kita rajin mengikuti berita, pasti kita paham permasalahan apa yang terjadi pada Djan Faridz, mantan Menteri Perumahan Rakyat pada Kabinet Indonesia Bersatu II sekaligus orang yang pernah menjadi "penguasa" Blok A Tanah Abang (sebelum akhirnya blok tersebut diserahkan kembali kepada Pemerintah DKI Jakarta). Sudah sejak lama dia hanya menghiasi layar kaca lantaran perebutan kursi sebagai ketua umum Partai Persatuan Pembangunan dengan Romahurmuziy (Romi). Dan belum lama ini, dia kembali "marah-marah" di layar kaca dan semua jenis pemberitaan, usai Muktamar ke VII PPP yang digelar di Pondok Gede beberapa waktu lalu, menetapkan Romi sebagai ketua umum yang sah. Menurut Djan, muktamar tersebut adalah acara yang ilegal dan hanya dihadiri oleh para pembelot. Hal tersebut pun ditegaskan oleh wakil ketua PPP dari kubu Djan Faridz, Humphrey Djemat. Dia bahkan akan membawa permasalahan ini ke jalur hukum.

Secara hukum, permasalahan tersebut mungkin masih bias dan belum usai. Tapi dari sini, bisa kita lihat bagaimana besarnya keinginan manusia untuk berkuasa. Keinginan itu bahkan menembus batas segalanya. Mungkin juga ketenangan.

Saya tidak tahu apa tujuan hidup dari Djan Faridz dan rekannya, Humphrey Djemat. Tapi yang saya tahu, usia Djan Faridz pada 2016 ini adalah 65 tahun. Sedangkan usia Humphrey Djemat adalah 60 tahun. Keduanya pun jelas tidak hidup kekurangan. Menurut pemikiran sederhana saya, dengan usia yang sudah senja, dan dengan hidup yang berkelimpahan harta, sudah saatnya bagi mereka untuk menikmati hidup sebagaimana adanya hidup dan tak perlu lagi mengejar jabatan apapun. Tapi entah apa yang ada di pikiran mereka. Sejujurnya, sama herannya saya seperti saat menyaksikan kehidupan satu-satunya perempuan di Indonesia yang pernah jadi presiden itu. Meski usianya sudah senja, dia tetap berkeinginan untuk menjadi presiden di Indonesia.

Tapi memang kata Friedrich Nietzsche, sama seperti yang pernah dibahas di artikel ini, kehendak untuk berkuasa memang mengendap dalam diri manusia. Manusia selalu ingin menjadi subyek. Tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang dan hal lain. Kalau bisa sih, untuk seluruh dunia ini. Masalahnya adalah banyak manusia yang tak bisa merepresi kehendak berkuasa yang seringkali berlebihan. Ketidakmampuan untuk merepresi ini sebetulnya juga dipengaruhi oleh penyangkalan.

Jelas, bahwa banyak pelaku politik di negara ini yang menyangkal bahwa dirinya ingin berkuasa. Awalnya, mereka sendiri hanya melakukan pencitraan untuk orang lain, bahwa dirinya tidak haus kekuasaan. Lama-lama, mereka melakukan pencitraan terhadap diri sendiri. Mereka menganggap kalau mereka tidak ingin berkuasa, padahal jauh di dalam alam bawah sadar, mereka ingin berkuasa. Mereka membohongi diri sendiri.

Segala cinta, kerendahan hati, dan hal-hal lain yang lembut hanya dijadikan sampul dari will to power, kehendak untuk berkuasa. Alih-alih menikmati kehidupan, mereka justru terjebak pada keinginan untuk menguasai kehidupan. Dan ini bisa berlangsung hingga kematian mereka.

Dalam bukunya yang berjudul Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche pernah mengatakan bahwa manusia adalah jembatan bagi binatang dan manusia unggul (Man is a rope stretched between the animal and the Übermensch/ Superman). Manusia semestinya menjadi seunggul-unggulnya, menjadi Superman. Karena berbeda dengan hewan, meski sama-sama punya keinginan untuk menang, tetapi manusia punya rasio dan rasa untuk mengendalikan hal tersebut. Sayangnya, banyak yang kemudian telah mati rasa.

Mungkin, alih-alih hanya berkata bahwa "Tuhan Telah Mati", Nietzsche juga perlu menambahkan bahwa rasa manusia juga telah mati. Mati terlebih dahulu ketimbang raga mereka sendiri.

Sumber:
http://www.kompasiana.com/taurahida/nietzsche-bilang-tuhan-telah-mati-trus-manusia-mau-ngapain_550fe811813311d238bc6059
https://rumahfilsafat.com/2011/12/19/kekuasaan-kemunafikan-dan-kehidupan/
http://m.tempo.com
Friedrich Nietzche: Thus Spoke Zarathustra

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe