Apakah Menjadi Ibu Tidak Cukup Merepresentasikan Kekuatan Wanita?

20.40



Sebetulnya, saya bangga melihat perempuan-perempuan yang mendapatkan penghargaan. Atau mencapai puncak karir. Sebuah hal yang hebat dan tidak mudah dilakukan, tidak peduli kamu adalah perempuan ataupun lelaki.

Dan di Hari Kartini ini, perempuan-perempuan hebat itu, yang sering kita lihat di layar kaca dan lembaran majalah, akan semakin mendapat sorotan. Kita pun tentunya akan semakin termotivasi untuk menjadi mereka. Menjadi Sri Mulyani yang baru. Menjadi Dian Sastrowardoyo. Menjadi siapapun yang sangat tenar. Tak masalah sebenarnya. Mereka memang perempuan-perempuan hebat.

Namun entah mengapa, tak banyak orang dan media massa yang menyorot perihal profesi ibu rumah tangga. Seolah menjadi kartini modern hanyalah tentang menjadi wanita karir. Seakan emansipasi hanya sebatas menjadi wanita yang bisa berkarir hingga memiliki jabatan tinggi atau wanita yang memiliki usaha. Betapa miris saat kita mengkonotasikan wanita kuat dengan wanita yang semacam itu.


Entahlah, profesi ibu rumah tangga dianggap oleh banyak orang tidak merepresentasikan wanita kuat. Tidak sesuai dengan semangat emansipasi. Padahal, profesi Ibu rumah tangga adalah profesi yang berat. Begini alasannya. Saat kamu berusaha untuk meningkatkan karir kamu, kamu hanya perlu berusaha keras untuk mengubah diri kamu menjadi lebih rajin, dan sebagainya. Sementara itu, saat menjadi Ibu, it takes two to tango. Kamu tidak sekadar berurusan dengan dirimu, mimpimu dan ambisimu saja. Tetapi juga dengan orang lain: anakmu. Dan tentu saja, dia sedang tumbuh dan berkembang. Perlu lebih dari kepintaran dan pengetahuan luas dari kamu untuk dapat membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang dapat diandalkan.

Sayangnya sih, profesi Ibu Rumah Tangga dianggap tidak keren dan tidak mandiri. Bahkan banyak yang berkata seperti ini: sudah capek-capek kuliah, kenapa ujung-ujungnya jadi Ibu Rumah Tangga? Ada pula yang mencibir para wanita yang memutuskan untuk berhenti bekerja untuk mengurus anak.

Hal ini terutama dilakukan oleh mereka yang salah memahami makna feminisme. Feminisme sendiri dianggap sebagai aliran yang mengharuskan perempuan untuk menjadi wanita karir hebat, mendapatkan gaji besar, melampaui laki-laki dalam urusan pekerjaan. Padahal feminisme adalah tentang menjadi apapun yang kita mau. Termasuk menjadi Ibu Rumah Tangga. Selama hal tersebut berguna bagi masyarakat dan membuat diri kita tenang.

Lagipula, untuk apa berambisi untuk menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan kita, hanya demi memuaskan keinginan kita untuk menjadi wanita yang dianggap kuat?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe