Apakah Eksistensimu Hanya Berada Pada Seragam Kerjamu?

09.41


Ada kenalan saya yang bekerja di sebuah perusahaan media besar, yang mewajibkan karyawannya menggunakan seragam setiap hari. Beberapa kali di media sosial, saya menemukan bahwa dia merasa begitu hebat tiap kali menggunakan seragam kantornya. Merasa bahwa eksistensinya menjadi lebih baik dan lebih terhormat dengan seragam tersebut. Mendewakan bos pemberi seragam, menganggap perusahaannya bak nirwana.

Yang kemudian tidak dia sadari adalah, bahwa bos besar perusahaannya kemungkinan bahkan tidak menyadari eksistensinya di dalam kantor. Ya tentu saja. Perusahaan besar, yang telah menggurita, tentunya memiliki banyak karyawan. Dan bagi bos besar, bukan hal yang penting mengingat satu per satu nama karyawannya. Apalagi yang posisinya jauh di bawah dirinya. Sebuah hal yang naif saat seorang manusia begitu memuja  manusia lain, terlebih saat yang dipuja adalah orang yang tidak mementingkan kehadirannya. Atau malah, tidak menyadari kehadirannya di dunia.

Lagipula, saya tahu betul bahwa bayaran yang diterima oleh teman saya itu tak seberapa besarnya. Jauh deh, kalau dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkan oleh bos besar tercintanya itu. Dan, teman saya sering sekali diminta untuk bekerja melebihi jam kerja normal. Dengan gaji standar. Sangat standar terutama di kota besar macam Jakarta.

Tapi mau bagaimana lagi, toh itu pilihan hidup dia. Dia memilih bereksistensi dengan menjadi bagian dari sebuah hal yang oleh banyak masyarakat dianggap keren.


Terkait cara bereksistensi, ada sebuah hal yang pernah dikemukakan oleh Søren Kierkegaard, seorang filsuf eksistensialis dari Jerman: tingkatan eksistensi manusia. Yang pertama adalah tahap estetis. Pada tahap ini, seorang manusia dipengaruhi oleh dorongan inderawi dan nafsu. Individu melakukan segala hal berdasarkan konsep kesenangan, kebanggaan, dan konsep lain yang sangat duniawi dan bersifat fisik. Contohnya, ya seperti teman saya itu. Dia begitu membanggakan sesuatu yang bersifat ragawi. Bekerja karena seragam dan bukannya karena menyukai pekerjaan tersebut. Menurut Kierkegaard, dalam tahapan ini, pada suatu saat manusia akan merasa bosan dan jenuh.

Yang kedua adalah tahap etis, saat seorang individu mulai membuat pilihan murni berdasarkan apa yang dia inginkan dan tidak dipengaruhi oleh pandangan orang lain. Pada saat itu, dia melakukan apa yang disebut lompatan eksistensial. Dia melakukan pilihan secara matang berdasarkan rasio. Namun dalam tahap ini, manusia belum bisa terlepas dari yang namanya "diri sendiri". Karena dia bertindak hanya berdasarkan rasio, maka dia tidak akan memahami apa yang dinamakan dosa.

Sementara itu, yang terakhir adalah tahap relijius. Pada tahap ini, manusia tak lagi bertindak sesuai dengan keinginan dirinya. Manusia telah mencapai titik di mana yang diperbuatnya hanya untuk mendekatkan diri ada yang kuasa. Dia telah menyadari bahwa hidup ini adalah sesuatu yang fana dan kenikmatan tertinggi adalah bila dirinya dekat dengan Zat Maha Agung yang jauh melampaui segala hal di dunia ini.


Manusia, terkadang menganggap kebahagiaan adalah bila kita dianggap ada dan berharga oleh orang lain. Padahal, kebahagiaan bukanlah berdasarkan pandangan orang. Apalagi pengakuan bila kita orang hebat. Itu bukanlah kebahagiaan, karena itu hanya kesenangan semu yang sifatnya sesaat. Toh orang lain tak akan terus menerus mengingat kita. Kalaupun dia memuji, paling-paling sekadar bertahan beberapa waktu saja.

Dan masih soal masalah seragam dan tempat kita bekerja, saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan dekat. Dulunya, kami berdua betul-betul ingin bekerja di perusahaan yang terkenal, apalagi yang punya tanda pengenal khusus seperti seragam atau kartu. Kami merasa bahwa berkenalan dengan orang seraya menyebutkan tempat kami bekerja yang terkenal itu akan sangat keren sekali.

Tapi seiring berjalannya waktu, kami sadar kalau kesenangan itu tidaklah betul-betul menenangkan. Pada akhirnya, setelah kami berdua bekerja di perusahaan besar nan terkenal, kami keluar dan menyadari hal ini: kerjaan keren, kartu nama keren, seragam keren, itu mah cuma asyik dipamerin pas reuni doang. Habis itu mah yaudah gitu aja. Orang-orang pada lupa.

Barangkali memang, kita mesti mulai mengukur kebahagiaan kita bukan dengan mata orang lain.

Foto: flightlesshag.blogspot.com, pixabay.com, dan telegraph.co.uk

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe