Who to Know: Tan Malaka

10.38



Modal bisa memenjarakan manusia, membuat manusia bekerja tanpa henti dari jam 5 subuh sampai jam 8 malam untuk kekayaan orang lain



Kita mungkin sering mendengar nama Tan Malaka. Tetapi tidak banyak yang tahu tentang pemikirannya. Kalaupun iya, biasanya banyak yang kemudian menghubungkannya dengan komunisme dan pemberontakan saja. Atau belum lama ini, menghubungkannya dengan kontroversi status Tere-Liye (yang tidak akan kita bahas lebih lanjut karena sudah dihapus pemiliknya sendiri)



Tan Malaka, yang lahir dengan nama Ibrahim dan diberi gelar Datuk Sutan Malaka, Sumatra Barat, memang memberontak terhadap setiap penguasa. Tak heran dia pindah dari satu penjara hingga penjara lain, di masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan Indonesia. Tapi itu dia lakukan lantaran merasa geram dengan penjajah dan penguasa yang semena-mena dan hanya menjadikan rakyat sebagai mesin proletar semata.

Namun betapa cintanya dia terhadap perjuangan rakyat, toh namanya tidak setenar pahlawan nasional lain. Bahkan banyak yang mengonotasikan dirinya dengan sesuatu yang negatif. Kiri. Pasalnya dia terkenal sebagai seseorang yang menganut paham komunis. Paham yang oleh masyarakat kita dianggap sesat

Pada dasarnya, komunisme sendiri merupakan paham atau ideologi (dl bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, dan hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yg dikontrol oleh negara (KBBI). Namun negara yang menganut paham ini biasanya tidak mementingkan konsep Tuhan. Bahkan Karl Marx sendiri, menganggap bahwa agama adalah candu.

Mengapa candu? Karena biasanya mereka yang berpaham komunisme meniadakan Tuhan, karena konsep ketuhanan dinilai membuat manusia tidak taat penguasa, dan tidak bekerja keras karena menganggap bahwa harapan kepada Tuhan membuat manusia tidak berusaha dengan maksimal. Tapi Tan Malaka berpikir bahwa antara komunisme dan agama bisalah berjalan beriringan. Menurutnya, jika Pan Islamisme (paham yang bertujuan untuk mempersatukan umat Islam di bawah kekhilafahan) dan komunisme berjalan beriringan, maka hal tersebut dapat menghancurkan kolonialisme dan imperialisme.

Sayangnya, pemikirannya tersebut justru membuat dirinya dikucilkan di mana-mana. Termasuk oleh mereka yang menganut paham komunis. Dan kita lihat sendiri betapa banyaknya simpang siur beredar tentang sosok Tan Malaka. Padahal, dia adalah seorang pemikir yang memiliki buah pikiran menarik. Salah satunya adalah Madilog, yang juga menjadi judul dari salah satu buku yang ditulisnya.

Madilog sendiri merupakan sistem jembatan keledai, -tahu 'kan, konsep menghafal dengan singkatan seperti yang diajarkan saat sekolah dulu?-. Madilog, yang terdiri atas materialisme, dialektika, dan logika, adalah cara berpikir untuk keluar dari pemikiran-pemikiran gaib, mistis, yang tidak sahih, yang tanpa bukti. Logika mistika seperti misalnya percaya pada dukun, dan sebagainya, bagi Tan Malaka haruslah dihilangkan apabila bangsa Indonesia ingin lepas dari penjajahan, dan juga segala hal yang membentuk mereka menjadi mesin proletar.

Seolah nuansa pemikirannnya soal materialisme dan dialektika ini sangat berbau Friedrich Engels. Bersama Karl Marx, filsuf sosialisme ini, menyatakan bahwa bila tesis (kapitalis) melawan anti-tesis (kaum proletar), maka akan dihasilkan sistesis, yakni masyarakat sosialisme. Sosialisme sendiri merupakan paham yang menyatakan bahwa kepemilikan alat produksi dan konsumsi semestinya dibagi rata terhadap semua individu. Namun pemikiran Tan Malaka bukanlah duplikasi dari pemikiran Engels. Melalui pemikirannya, Tan Malaka tidak bermaksud membuat sebuah bentuk pemerintahan sama rata sama rasa, yang tunduk pada kekuasaan, tapi mengembalikan individu sebagaimana kodratnya, yang bebas, tidak dijajah oleh kolonialisme dan feodalisme. Menggunakan materialisme untuk memahami konsep bukti, melepaskan dari logika gaib, juga dialektika untuk berargumentasi dan beralasan lewat proses dialog, dan logika, berfokus pada prinsip alasan logis, struktur proposisi, metode, dan pengujian secara deduktif.


Selain itu, terkait hukum bukti, di mana segala sesuatu haruslah ada buktinya, Tan Malaka menyatakan bahwa hal tersebut hanya terbatas pada hukum alam, apa yang ada di alam semesta. Kita tidak bisa mengutak -atik konsep Yang Maha Kuasa dengan menggunakan materialisme, karena Yang Maha Kuasa sifatnya jauh, tak terjangkau oleh kita, tak terjangkau oleh hukum alam.

Pada dasarnya, menyimak pemikiran Tan Malaka tak seperti menyimak Marx, Engels, atau rasa komunis yang lain. Bahkan, pada Kongres Komunis Internasional yang digelar di tahun 1922, Tan Malaka menyatakan begini dalam pidatonya: Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim - ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!

Sumber:
Tan Malaka, Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog)
https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe