Untuk Selingkuhan Jaman Sekarang yang Semakin Percaya Diri dan Percaya "Sugar Daddy"

12:01


Tidak ada yang lebih dibenci perempuan ketimbang istri simpanan, atau yang kadang suka disebut sebagai pelakor -perebut laki orang-. Tidak percaya? Coba main ke forum-forum gosip yang didominasi oleh perempuan. Orang yang dikabarkan sebagai perempuan kedua, atau perusak rumah tangga orang, pasti akan habis-habisan dibicarakan, dihina-hina, sampai dikuliti aib-aibnya.

Contohnya? Perceraian Ahmad Dhani - Maia Estianty. Perceraian Cathy Sharon dan Eka, suaminya. Kedua pasangan tersebut dikabarkan bercerai lantaran kehadiran perempuan ketiga (kalau yang Ahmad Dhani sih sudah jadi rahasia umum, siapa perempuan ketiganya. Sampai sekarangpun orang itu masih saja mendapatkan hinaan di berbagai sosial medianya). Dan di forum-forum gosip, jangan ditanya tingkat kepedasan hinaan para anggota perempuan terhadap perempuan-perempuan yang menjadi orang ketiga itu. Mulai dari hinaan semacam "jual di toko bekas" hingga hinaan yang menyeret-nyeret istilah prostitusi. Hinaan ini pun juga tidak diutarakan di belakang perempuan ketiga ini. Bahkan instagram istrinya Ahmad Dhani yang sekarang itu tuh, dipenuhi dengan makian dan tuduhan. Sampai dia mengunci Instagramnya lho.

Sebetulnya sih yang seperti itu tidak bisa disalahkan. Siapa sih yang nggak gemes dengan perempuan penelusup rumah tangga yang telah dibangun bertahun-tahun, berbelas-belas tahun? Yang telah melewati berbagai macam fase, mulai dari senang-senang ala bulan madu, hingga susah yang dibagi berdua?

Nah, yang memutuskan untuk menceraikan istrinya demi perempuan lain saja mendapat cercaan habis-habisan. Apalagi penelusup yang masih saja masuk di rumah tangga yang masih utuh, alias, jadi selingkuhan. Alias, jadi simpanan. Alias, pelakor


Kalau yang jadi simpanan begini, sih, biasanya perempuan. Agak jarang ya, istri yang menyimpan lelaki. Ya kalaupun ada jumlahnya tak banyak. Karena apa? Ya karena banyak perempuan yang butuh uang dan banyak lelaki yang butuh kehangatan lebih (catat ya, kebanyakan. Bukan semuanya). Maka dari itu, kenapa kalau mendengar kata simpanan a.k.a selingkuhan, pikiran kita akan menuju kepada perempuan yang pacaran sama pria beristri.


Floyd Dell, seorang kritikus sastra pada awal abad ke-20, dalam buku Anatomi Cinta oleh A.M Krich mengatakan bahwa dalam rezim patriarki Victorian, konsep "kesucian" menyebabkan seksualitas menjadi sesuatu yang dipandang menjijikkan, tidak agung, dan bahkan terbawa hingga ke pernikahan. Baik laki-laki dan perempuan yang terhormat menganggap bahwa hubungan seksual antara keduanya adalah sesuatu yang menjijikkan, dapat merusak cinta agung terhadap pasangannya. Maka dari itu, banyak lelaki yang kemudian melepas hasrat seksualnya yang paling liar kepada para pelacur, atau perempuan dengan kasta sosial di bawahnya. Sementara itu, tidak semudah itu bagi perempuan. Mereka tidak mungkin memenuhi hasrat semudah itu, lantaran nilai-nilai yang mengatur tentang bagaimana seharusnya perempuan terhormat bertindak. Akhirnya, beralihlah mereka pada karya-karya fiksi yang bercerita tentang perilaku liar seksualitas yang mampu memenuhi fantasi mereka.

Dari sini pun, sebetulnya bisa terlihat mengapa istilah "simpanan" banyak merujuk ke perempuan saat ini. Sudah tradisi, sih.

Kembali ke masalah simpanan, sebetulnya alasannya mudah. Tidak perlu kita menyelami makna cinta hingga ke dasar Palung Mariana, kalau memang cinta itu seluas dan sedalam samudra. Tidak ada perempuan terhormat yang mau jadi simpanan (frontal bo, tapi ini nyata). Kebanyakan perempuan jadi simpanan karena dua alasan: yang pertama, karena cintanya buta (kalau tidak mau dibilang bodoh lahir batin) dan yang kedua, ya tentu saja uang. Jelas dong. Mana mau hidup kucing-kucingan tanpa bayaran mahal.


Dan anehnya jaman sekarang, semakin banyak saja loh, perempuan yang bangga dengan statusnya sebagai simpanan itu. Asli, deh. Padahal kalau dunia ini tidak punya sekat, perempuan macam itu akan diserang persatuan ibu-ibu dunia: ditonjok bertubi-tubi, ditendang dan dipotong rambutnya seperti Malena (ini film 17+, anyway). Maka dari itu, saya juga setuju dengan kalimat yang sering beredar di internet saat ini: sekarang tuh jaman di mana bini muda lebih galak daripada bini tua.

Mengapa ada pergeseran nilai semacam itu? Jawabannya ya, karena masyarakat kita makin kompleks. Permasalahannya juga. Apalagi di kota besar. Perselingkuhan hanya dianggap sebagai fenomena biasa dan bukannya aib.Dan di sebuah buku tentang arisan, ada pula loh, ternyata, arisan istri kedua. Iya, mereka dengan bangganya membentuk sebuah perkumpulan dan seolah dengan lantang menyebut identitas diri mereka sebagai istri kedua. Tentunya sih, tidak lupa sambil membawa LV, Gucci, dan Hermes Birkin kesayangan yang baru dibelikan oleh papa-gula seminggu yang lalu. Kalau jaman dulu sih, mana berani si pelakor berbuat semacam ini.

Selain itu juga, media sosial membuat kita mudah menjangkau kehidupan banyak orang, termasuk perempuan model ini. Saya sempat menemukan sebuah akun yang berisi perubahan fantastis para perempuan simpanan karena operasi plastik. Dan di akun-akun pribadi mereka pun, mereka seolah tidak menutupi fakta kalau mereka adalah perempuan simpanan, atau perempuan bayaran...


Coba, bayangkan, bagaimana para istri jadi tidak merasa insecure? Lha wong jaman sekarang, perempuan lenjeh berani terang-terangan kok.

Sebetulnya tidak adil kalau kita bilang, mau dijaga seperti apa, suatu saat pria akan bosan. Tidak begitu konsepnya. Yang saya lihat kebanyakan, pernikahan jadi membosankan karena dari awal, kedua belah pihak tidak jujur. Pertama, ya, tidak jujur kepada calon pasangannya. Si perempuan bertingkah seolah dia adalah perempuan manis lemah lembut sopan seperti Disney Princess, dan yang lelaki bertingkah seolah dia mampu menjamin keamanan finansial si perempuan. Dan yang kedua, tidak jujur pada diri mereka sendiri. Semestinya baik perempuan maupun lelaki sudah tahu, mengapa mereka memutuskan untuk bersama seseorang.

Banyak yang kemudian berbohong pada diri sendiri dengan berkata kalau mereka menikah dengan pasangannya karena cocok satu sama lain. Padahal, mereka menikah mungkin ya karena hal-hal yang sifatnya fisik seperti, si ini kan cantik, si ini kan kerja di sini, si ini kan gaul, si ini kan suka musik ini, dan lain sebagainya, serta mengesampingkan sebuah hal yang bernama kenyamanan. Kenyamanan ini tidak sekadar "aku kalau sama dia bisa tenang kok, aku kalau sama dia bisa ngupil tanpa takut dia ilfil", tapi juga kenyamanan dalam berkomunikasi, berbagi ide dan juga kesamaan prinsip hidup.  Kenyamanan ini, nantinya akan menjadi perekat saat hasrat seksual tak lagi berapi-api, dan tulang sudah terlalu ringkih untuk berhubungan seksual.

Dan ketika kenyamanan itu tidak ada dalam landasan pernikahan, maka ya, akan terjadi hal-hal semacam ini: pernikahan hambar, yang berujung pada perselingkuhan. Iya dong. Saat istri sudah mulai tua, berkulit kendur dan tidak selihai dulu, juga tidak semanis dan sesantun saat pacaran dulu, ya tanpa adanya ketertarikan lain yang sifatnya psikis, tanpa adanya komunikasi yang asyik dengan istri, tanpa prinsip yang sama, lantas laki-laki mungkin berpikir: ngapain gue masih di rumah?


Perempuan pun, juga akan berpikir begitu, sih. Tapi bedanya, otak perempuan lebih kompleks. Saat akan selingkuh, banyak hal yang mereka pikirkan. Ya anak, ya reputasi, ya cinta. Takut kalau selingkuh, lantas bawa perasaan. Bahasa kerennya baper. Baper sama selingkuhan dan malah jatuh cinta betulan.

Intinya sih, perempuan simpanan, perempuan lain, perempuan selingkuhan, perebut laki orang, memang virus berbahaya dan mesti diberantas hingga ke akarnya. Lebih bahaya dari penyakit batuk pilek jamur kutu air karena obatnya sulit diresepkan. Tapi, pernikahan yang dibangun dengan pondasi kenyamanan kuat adalah salah satu imunisasi melawan perebut laki orang, dan juga, perebut bini orang.

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe