Tolak Uber, Tolak Kreativitas Kapitalis?

12.52



Hari Senin, 14 Maret 2016 tak sekadar dibuka dengan kemacetan orang kantoran, tetapi juga demonstrasi taksi dan angkutan umum seperti kopaja dan metromini untuk menolak keberadaan Grab Car dan Uber. Keduanya dianggap menurunkan jumlah pendapatan angkutan umum. Ya itu sudah tentu, karena baik Grab Car dan Uber tak sekadar menawarkan kenyamanan, tetapi juga pemesanan yang mudah -tinggal klik-, dan juga harga yang terjangkau (tarif tetap serta telah diketahui sebelumnya oleh pelanggan). Siapa yang kemudian tidak tertarik?



Bahkan saya pun merasa, bahwa Jakarta menjadi lebih ramah dengan adanya transportasi berbasis aplikasi online ini.

Tapi kalau misalnya isu ini dilempar pada mereka yang (mengaku) anti-kapitalis, pastilah hal semacam Uber dan Grab Car menjadi sesuatu yang harus diberantas. Soalnya pemerintah tidak tegas. Pemerintah tidak peduli pada rakyatnya. Kapitalisme harus diberangus. Juga karena Uber dan Grab melanggar undang-undang (ini alasan yang bentuknya serupa sugar-coat sebenarnya, karena yang sebetulnya mereka maksud ya masalah ekonomi itu) Begitulah nyanyian mereka kemudian. Ya mau bagaimana lagi. Memang di masa sekarang, siapa yang lebih kreatif dan paham celah, dialah yang menang.


Mungkin juga, kalau Friedrich Engels, kawan Karl Marx asal Jerman yang seia sekata dalam pemikiran komunisme modern ini masih hidup, dia akan membuat sebuku pemikiran yang membahas tentang kesemena-menaan kompetisi. Seperti yang pernah dituliskannya dalam The Housing Question: Competition permits the capitalist to deduct from the price of labour power that which the family earns from its own little garden or field; the workers are compelled to accept any piece wages offered to them, because otherwise they would get nothing at all, and they could not live from the products of their small-scale agriculture alone, and because, on the other hand, it is just this agriculture and landownership which chains them to the spot and prevents them from looking around for other employment.

Intinya, kompetisi adalah trik yang dilakukan kapitalis kepada para buruh agar mereka percaya bahwa mereka tak bisa lagi menghasilkan uang dari ladang mereka sendiri. Hasil ladang dihargai sangat murah, dan mau tidak mau mereka harus masuk ke dalam lingkaran "pekerja": bekerja di bawah naungan para kapitalis, menerima upah, dan mengikuti peraturan. Tidak salah memang, para kapitalis bukan sekadar kumpulan orang yang punya kapital ekonomi, tetapi juga punya trik. Seperti joke yang ada di bawah ini:


Lalu siapa yang harus disalahkan? Kapitalis yang kelewat kreatif? Kaum buruh yang tertindas tapi tak mampu berpikir out of the box? Atau pemerintah? Indonesia adalah negara besar dengan kompleksitas tinggi. Kita bisa menyalahkan pemerintah yang tak memberikan pendidikan wirausaha cukup, pemerintah yang memiliki standar ganda terkait hal ini -di mana Kemkominfo mendukung usaha transportasi daring semacam ini, tetapi sebaliknya, ditolak oleh Kemenhub terkait masalah undang-undang- namun sekali lagi, ini negara besar dengan kompleksitas kepentingan. Kita juga bisa menyalahkan para kaum buruh, dalam hal ini supir-supir taksi yang kehilangan penumpang: kenapa sih kalian tidak kreatif, gabung Grab Car kek, Grab Taxi kek atau menjadi pengemudi ojek online sekalian. Tetapi juga tidak semudah itu keluar dari pekerjaan dan bertaruh untuk hal yang baru. Lagipula, tidak semua orang Indonesia cukup terdidik untuk memahami bahwa globalisasi menuntut kita untuk banyak berubah, mengikuti zaman yang larinya begitu cepat ini.

Atau mau menyalahkan kapitalis? Apakah ada yang salah dengan berinovasi dan berinvestasi di negara yang mengusung konsep demokrasi pancasila? Lagipula, konsumen akan memilih hal yang sekiranya cocok dan mempermudah kehidupan.

Lantas, siapa yang salah? Mungkin kita yang terlalu mudah menyalahkan orang tanpa sempat berkaca dan bertanya: apa yang bisa aku lakukan untuk tidak tertindas oleh perubahan zaman? Lagipula, mengapa tidak mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan win-win solution: misalnya, pengusaha taksi menjadi penyedia transportasi, dan aplikasi transportasi daring ini menjadi wadah untuk menghubungkan masyarakat dengan penyedia transportasi tersebut. Saling bekerja sama. Tapi terkadang, hidup memang tak semudah membuat konklusi dalam diskusi atau esai panjang. Dan kerjasama korporasi tidak semudah kerja kelompok yang kita terapkan saat Sekolah Dasar dulu


Foto: berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe