Goyang Itik Zaskia yang Berjasa Menumbuhkan Nasionalisme Instan

12.54



Masyarakat Indonesia mendadak jadi nasionalis saat Zaskia, penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang itiknya itu, mengucapkan gurauan yang menyinggung lambang negara. Salah satu yang membuat masyarakat geram adalah saat penyanyi berusia dua puluh lima tahun ini menyebut bahwa lambang sila ke-5 Pancasila adalah "bebek nungging". Meskipun Zaskia telah meminta maaf berkali-kali terkait hal tersebut, tetapi masyarakat, termasuk yang memiliki jabatan penting di pemerintahan, sulit untuk memaafkan. Mungkin ungkapan yang pas untuk hal ini adalah "kalau dengan minta maaf semuanya selesai, untuk apa ada polisi?"


Tapi sebetulnya toh kemarahan ini tidak murni karena masyarakat begitu cinta dengan NKRI dan segala simbolnya. Banyak yang cenderung marah karena ikut-ikutan. Iya dong. Selebriti itu kan asyik buat disalahkan dan dicari-cari kesalahannya. Soalnya selebriti menampilkan citra sempurna, dan manusia tidak bisa menerima kalau ada orang yang seperti itu. Pastilah sisi buruknya ada. Nggak mungkin ada orang yang cakepnya paripurna, yang terkenal tapi nggak punya kekurangan.

Tentu saja kita tidak bisa membenarkan apa yang diucapkan oleh Zaskia. Hal semacam ini bisa jadi pelajaran buat dia, untuk berhati-hati saat bercanda. Atau malah, tidak usah berusaha keras untuk melucu, karena profesi dia toh penyanyi bukan pelawak. Tidak semua orang tahu cara melawak yang tepat kan?

Tapi ketika Zaskia sudah minta maaf, harusnya sih mudah bagi kita untuk memaafkan. Toh kesalahan dia tidak berdampak langsung terhadap hidup kita. Hanya saja memang ada sebagian orang yang sengaja memanjang-manjangkan masalah. Ya modusnya karena cinta tanah air. Padahal mungkin mereka belum berbuat apa-apa untuk tanah air.

Manusia memang mudah menyalahkan orang dan tiba-tiba terkena nasionalisme akut. Padahal tanpa adanya masalah ini, biasanya juga mereka jelek-jelekkan tanah air mereka sendiri. Yang Indonesia tidak maju lah, negara miskin lah (padahal negara kita ini termasuk negara yang cukup nyaman untuk ditinggali). Atau melanggar peraturan, buang sampah sembarangan, serta mengatakan hal-hal sampah baik di dunia nyata maupun maya. Sulit memang untuk mengeja kesalahan sendiri. Sementara itu dengan lancar kita menyebutkan kesalahan orang lain.

Maka dari itu, kadang saya berpikir kalau sebagian besar masyarakat kita butuh meditasi.

Ada sebuah cara meditasi yang menarik dalam tradisi Korean Seon. Namanya Hwadu. Juga terkenal dalam Rinzai Zen di Jepang, serta Chan Buddhism di China dengan nama Hua Tou yang dipelopori oleh Hsu Yun . Meditasi ini dapat dilakukan dengan cara duduk, berdiri, ataupun berjalan. Tetapi kita harus memusatkan pikiran kita pada sebuah pertanyaan. Iya, pertanyaan. Seperti "siapakah diri saya? Apakah itu? Apakah ini? Siapa yang menggerakkan tubuh ini?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengantarkan kita pada sebuah keraguan. Tapi bukan berarti keraguan itu berkonotasi negatif. Layaknya Socrates yang gemar mempertanyakan segala sesuatu, keraguan akan mengantarkan kita pada pencerahan tentang kebenaran: bahwa tidak semua hal yang kita dengar, yang kita lihat, yang kita baca adalah benar secara mutlak. Bahwa setiap hal selalu memiliki sisi benar dan sisi salah. Abu-abu.


Saat kita telah mampu menjadi bijak, kita dalam dengan jeli menelaah setiap hal yang disajikan kepada kita. Tidak lagi sekadar menilai dengan emosi semata, atau dengan dalih "ikut-ikutan orang". Kebanyakan rasa marah yang timbul dari diri kita sebetulnya juga tak lepas dari peran orang lain. Untuk itu, mempertanyakan banyak hal, termasuk diri sendiri,akan mampu membuat kita lebih jernih dalam bertindak dan tentunya, berpikir. Sejernih bayangan rembulan musim gugur di permukaan air, begitu yang diibaratkan oleh Hsu Yun.

Nah, saat kamu marah atas sesuatu atau seseorang yang tidak kamu kenal langsung, sudahkah kamu berpikir jernih?

Foto: berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe