Tentang Gerhana 1983 dan Masyarakat yang Mudah Membagi Cerita

17:52


Banyak di antara kita yang merasa bahwa kita yang hidup pada masa kini memiliki intelektualitas yang lebih tinggi ketimbang orang-orang di masa lalu, lantaran kita memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap informasi. Tetapi sayangnya, informasi juga dapat membodohi kita.

Tentunya kita semua tahu bagaimana citra Soeharto di mata banyak masyarakat Indonesia: buruk dan mengerikan. Termasuk apa yang diperintahkannya saat gerhana matahari total yang berlangsung di Indonesia tahun 1983 di Pulau Jawa. Pemerintah saat itu melarang masyarakat untuk melihat gerhana karena menyebabkan kebutaan. Bahkan, dilansir dari vik.kompas.com, beliau hanya menonton gerhana dari televisi.

Namun beredar banyak tulisan bahwa pemerintahan Soeharto saat itu melarang masyarakat untuk keluar rumah melihat gerhana karena takut akan mengganggu peneliti. Ya, jadi tulisan-tulisan itu membuat kita serta merta percaya bahwa larangan itu merupakan sebuah konspirasi. Konspirasi, gemar sekali kita dengan kata tersebut. Seolah membuat kita memiliki kesempatan untuk melihat bahwa dunia ini lebih ajaib daripada apa yang selama ini kita lihat.


Banyak penulis yang tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi saat itu (karena mereka lahir di era 90an). Tetapi dengan lantang mereka menulis dan meyakini bahwa pelarangan 1983 merupakan kebohongan besar pemerintah, tak ada argumentasi lain yang lebih benar ketimbang itu. Intinya, pemerintah licik, pemerintah hanya menganggap rakyatnya sebagai sampah yang harus disembunyikan di dapur saat tamu datang berkunjung ke rumah. Tanpa keraguan. Termasuk mereka yang langsung membagikan berita tersebut ke media sosial dengan berbagai komentar sok idealis itu.

Mungkin, kalau René Descartes masih hidup dan mengetahui hal ini, dia akan geleng-geleng kepala dan menon-aktifkan akun media sosial. Bagaimana ya? Otak manusia tak hanya diciptakan untuk menerima informasi, tetapi juga meragukannya. Seperti yang pernah dikatakan olehnya: if you would be a real seeker after truth, it is necessary that at least once in your life you doubt, as far as possible, all things. Kalau mau menjadi pencari kebenaran yang sebenar-benarnya, setidaknya sekali saja kamu meragukan sesuatu dalam hidup, tentang segala hal, sejauh mungkin.

Sayangnya, tidak banyak manusia yang menjadi peragu saat berhadapan dengan sesuatu/seseorang yang mereka benci, atau sesuatu/seseorang yang pada akhirnya mereka benci karena sudah dibenci oleh publik terlebih dahulu. Sepertinya juga bukan hanya hukum yang terkadang suka berat sebelah, tetapi juga otak manusia dalam mencerna informasi. Padahal mereka hafal betul teori pengolahan data, sayangnya hanya diterapkan saat membuat skripsi dan bukannya untuk menelaah fenomena kehidupan.

Foto: berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe