Social Climber, Pemujaan Berlebih Atas Kapital Sosial

12:17


Iya, gue kenal banget sama anaknya si pengusaha itu! Ama yang anak menteri juga. Mereka kan satu tongkrongan sama gue!

Saya sudah sering mendengarkan kalimat itu keluar dari orang-orang sekitar. Berteman dengan anak menteri lah, kenal dengan petinggi ini lah, satu pergaulan dengan anak pengusaha ini, lah. Kalimat-kalimat yang membanggakan teman sendiri itu diucapkan seolah diri mereka sendiri lah yang membanggakan. Padahal, mereka tidak sehebat kawan-kawan mereka yang punya kedudukan tinggi itu.

Saat masih lugu dulu, jujur saya heran. Kenapa kamu harus bangga saat teman kamu anaknya konglomerat, atau teman kamu punya pengaruh di pemerintahan? Bukankah itu bukan diri kamu? Mengapa kamu tidak membanggakan dirimu sendiri saja? Belakangan saya sadar kalau memiliki teman yang berasal dari kalangan atas, terutama di kota besar, merupakan faktor yang bisa menaikkan status sosialmu. Ada pula sih yang berteman dengan maksud lain, misalnya mendapatkan link untuk bisa bekerja di suatu tempat yang berprospek besar, misalnya. Tapi kebanyakan sih, berteman karena ingin meningkatkan status sosial.


Kemudian saya jadi teringat perkataan Pierre Bourdieu, salah satu filsuf dan sosiolog Prancis, terkait masalah arena dan kapital. Dunia ini adalah arena sosial di mana orang-orang bersaing di dalamnya dengan membawa kapital-kapital tertentu. Mendengar kata kapital, pikiran kita biasanya akan tertuju pada sesuatu dalam bentuk uang atau barang. Padahal, kapital tidak hanya menyangkut benda fisik saja.

Menurut Pierre Bourdieu, ada beberapa jenis kapital. Yang pertama, adalah kapital ekonomi, yakni kapital yang berbentuk kepemilikan uang dan barang. Kemudian, kapital budaya, yang berbentuk pendidikan, keahlian, dan latar belakang keluarga. Juga ada kapital simbolik yang berbentuk nama baik, penghargaan, dan pujian dari orang lain. Dan yang terakhir adalah kapital sosial yang berupa jaringan pertemanan.

Untuk itu, tidak heran sih kalau banyak orang yang kemudian berlomba-lomba untuk berteman dengan mereka yang dianggap berpengaruh. Soalnya, itu juga merupakan salah satu modal untuk bertahan di arena sosial. Apalagi kan, sekarang adalah jaman di mana kehidupan orang mudah untuk diakses lewat jejaring sosial. Pastinya setiap orang ingin menampilkan sisi terbaik hidupnya di jejaring sosial. Salah satunya adalah, menampilkan kehidupan yang berkelas tinggi, berkisar di antara orang-orang yang memiliki kasta tinggi.
Banyak yang pengen jadi temen mereka, sih...

Permasalahannya sekarang adalah, banyak orang, terutama di kota besar, yang kemudian menganggap bahwa kapital sosial adalah kapital paling penting dan paling menunjukkan siapa diri kita. Bahkan banyak orang yang kemudian memaksakan diri untuk berkecimpung di kelas sosial yang jauh di atas kemampuannya. Contohnya, dalam pergaulan sosialita. Kita tentunya tahu bahwa sosialita perempuan identik dengan barang-barang branded seperti Hermes misalnya. Tapi jelas tidak semua orang mampu membeli tote bag Hermes, yang memiliki rentang harga seratus juta hingga satu milyar itu. Jadilah kemudian banyak orang yang membuka jasa penyewaan tas. Taglinenya bisa jadi seperti ini: kalau bisa nyewa, ngapain beli?
Hermes Kelly yang seharga mobil

Orang-orang yang suka bergaul di kelas sosial yang jauh berada di atasnya ini biasa disebut social climber. Pemanjat tangga sosial. Konotasi social climber ini cukup buruk. Pasalnya, social climber dianggap sebagai orang yang sok kaya, cari perhatian, bermulut besar, materialistis, dan pandai menjilat. Social climber dianggap tidak tulus dan ada maunya. Mereka bergaya layaknya orang yang memiliki banyak uang, padahal uang mereka habis untuk bergaya dan menunjukkan status sosial, agar bisa dekat dengan orang-orang yang berada di kasta sosial yang tinggi.


Melihat fenomena social climber dan dahaga sebagian masyarakat atas kapital sosial, rasanya sekarang sulit bagi kita untuk menilai seseorang hanya dari penampilan dan pergaulannya saja. Soalnya, seseorang bisa saja mengunggah foto-foto dirinya yang tengah berada di tempat mewah, bersama orang-orang kalangan atas, tetapi belum tentu dia sekaya itu. Karena hal tersebut hanyalah caranya untuk menunjukkan bahwa dia memiliki kapital sosial yang besar, bahwa dia dikenal banyak orang berpengaruh. Di satu sisi, sebetulnya itu adalah pilihan hidup. Tapi di sisi lain, entahlah, memangnya nyaman hidup dengan membohongi diri sendiri agar diterima orang lain?

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe