Skandal Masa Lalu yang Sulit Untuk Dilupakan

13.30


Apa yang letaknya paling jauh dari kita?

Sebagian besar orang akan menjawab dengan beberapa tempat yang jauh, katakanlah negara lain, atau planet lain, atau apapun yang jaraknya terlampau panjang dari kita. Namun tidak dengan Al Ghazali, yang selama ini kita kenal sebagai seorang filsuf dan teolog Persia pada abad pertengahan. Menurut Al Ghazali, sesuatu yang letaknya paling jauh dari kita adalah masa lalu.

Kendati manusia bisa berubah, tetapi masa lalu tak dapat diubah. Bahkan masyarakat pun terkadang sulit melepaskan kita dari masa lalu kita. Terlebih masa lalu yang buruk. Ya, begitu mudah bagi manusia untuk mengingat keburukan seseorang.

Contohlah beberapa skandal yang pernah menghebohkan negara kita. Skandal video tak senonoh dari artis papan atas. Skandal penipuan, dan sebagainya. Meski pelakunya mungkin sudah berubah dan berjanji tak akan mengulangi lagi, tetapi masyarakat akan selalu menjadi juri dari kehidupan kita. Sekali kita berbuat salah, selamanya masyarakat akan menujukan pandangan pada hidup kita. Seolah usai melakukan sebuah kesalahan besar, kita tak boleh lagi melakukan kesalahan, atau orang akan kembali memberi penilaian buruk kepada kita.

Terutama masa lalu yang berkaitan dengan skandal seksual.

Seperti yang telah dijelaskan pada artikel ini, hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas masuk dalam tatanan tabu. Maka dari itu, masa lalu yang berkaitan dengan skandal seksual tak akan mudah "dimaafkan" oleh orang. Berbeda dengan masa lalu sebagai seorang penjudi, seseorang yang suka bertengkar dengan orang, dan sebagainya. Meskipun tak akan dilupakan masyarakat, tetapi setidaknya masyarakat akan mudah untuk menerima kembali.

Coba deh, kita tanyakan pada masyarakat,  berapa di antara mereka yang mau menjadikan, katakanlah seorang mantan pemeran video porno, sebagai menantu?

Maka dari itu, kasus pengunggahan foto-foto tak senonoh seorang netizen di Facebook, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh masyarakat, tentunya tak akan mudah dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Terlebih, dikatakan bahwa dia adalah anak di bawah umur di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Jawa Barat.

Andaikan saja suatu saat anak itu mengakui kesalahannya, sudah meminta maaf kepada orangtua, lingkungan, dan masyarakat, sudah berubah, bahkan mungkin lebih relijius, tetap akan ada masyarakat yang menjulukinya dengan julukan sebagai perempuan yang kurang baik. Akan ada pula masyarakat yang mengingatkannya akan skandalnya di masa lalu, saat dia berbuat kesalahan.

Adil? Tentu tidak. Tapi beginilah hidup. Kita hidup di tengah masyarakat yang menyuruh kita untuk bijak, tetapi mereka sendiri bahkan tak tahu bagaimana caranya bersikap bijak. Kita hidup di tengah masyarakat yang tahu bahwa kita dan mereka adalah manusia biasa, tetapi ingin melihat sosok kita sebagai malaikat yang tak punya cela.

Untuk itu, rasanya tidak salah, kalau Al Ghazali bilang bahwa masa lalu itu jauh, jauh sekali.

Foto: Berbagai Sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe