Bagaimana Cara Membuka Otak Seorang Teroris?

14:56


Saking terbiasanya dengan berita tentang terorisme dan pelakunya, rasa simpati kita pun berkurang saat menonton atau membaca berita. Apalagi semenjak munculnya ISIS, yang secara dangkal melakukan berbagai tindakan yang jelas-jelas melanggar kebebasan Hak Asasi Manusia.

Kita memang kesal dengan ISIS. Tapi kita sudah terbiasa dengan hal tersebut, sehingga kegeraman kita pun berkurang. Bukan salah kita sebetulnya. Manusia didesain untuk terbiasa dengan suatu hal jika telah melihat, merasakan, mendengar, dan menjalani hal tersebut dalam kurun waktu tertentu. Para terorislah yang harus bertanggung jawab: kepada korban dan kerusakan yang ditimbulkan, serta kepada rasa simpati yang ditumpulkan.

Seperti ledakan bom di Bandara dan Stasiun Metro di Brussels, Belgia, yang menewaskan setidaknya 23 orang dan melukai puluhan orang pada Hari Selasa, 22 Maret 2016 lalu. Teror ini diakui oleh ISIS sebagai perbuatan mereka. Tanpa perlu banyak membaca berita, sebetulnya kita paham apa yang diinginkan oleh ISIS: menebarkan teror agar masyarakat ketakutan dan menyadari keberadaan mereka. Ketakutan akan melumpuhkan manusia sekuat apapun fisik mereka.

Para pelaku terorisme merasa yakin dengan ideologi mereka, dan berpikir bahwa orang lain yang tidak mengikuti mereka adalah sekumpulan orang bodoh dan tidak pantas berada di dunia. Padahal dunia ini terdiri atas berbagai manusia dengan beragam latar belakang dan pola pikir. Selama tidak merugikan dan mengganggu orang lain serta bertentangan dengan hukum alam, tak selayaknya orang-orang tersebut diganggu dan dirampas hak-haknya.


Tetapi para pelaku terorisme terlampau buta dan menganggap mereka satu-satunya pemegang kebenaran. Otak yang semestinya dapat digunakan untuk berpikir dan menelaah informasi, dibiarkan teronggok begitu saja. Mereka mengedepankan prasangka dan menganggap bahwa kebenaran bersifat tunggal dan menjadi hak mereka seutuhnya. Serupa yang pernah dikatakan oleh Voltaire, prasangka digunakan oleh orang-orang bodoh sebagai alasan. Untuk melakukan banyak hal yang dengan tameng kebenaran.

Manusia seringkali juga mementingkan pendidikan yang sifatnya teknis. Padahal manusia membutuhkan pendidikan yang mampu membuatnya berpikir dengan lebih terbuka dan mendalam. Menganalisis seseorang, suatu hal dan juga kejadian dengan mendalam dan bijak.

Lagipula, meski otak manusia terletak di ruang yang tertutup, tak berarti dia juga mesti bersifat tertutup.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe