Kamu Harus Tahu, Tubuh Kamu Itu Bukan Gurauan, Bukan Juga Etalase Toko

07.54



Saya sebetulnya kurang mengidolakan Simone de Beauvoir. Tapi untuk saat ini, sepertinya memang saya harus menulis dengan sedikit bumbu dari dia.

Jadi begini ya. Kamu yang perempuan pasti pernah digodain di tengah jalan.Disuit-suitin gitu. Dipanggil-panggil sama kumpulan lelaki yang tidak kamu kenal. Karena kamu menganggap itu tidak penting, jadi kamu kira itu hal biasa. Yasudah. Cuma nyuit-nyuitin, kan? Biasa itu mah. Kebanyakan lelaki kan makhluk visual.

Tapi sebenarnya, itu bukan hal biasa ya. Kalau saya sih, maunya laki-laki itu sadar, kalau perbuatan mereka itu bisa masuk kategori perbuatan tidak menyenangkan. Ya iyalah. Kamu lagi jalan kaki. Tiba-tiba tanpa permisi mereka memberi kode kalau kamu menarik hati mereka, gitu. Kalau kamu semestinya nengok dan mau memberikan sekilas senyuman, atau malah mau diajak kenalan.

Halo? Setiap orang punya hak untuk merasa aman dan nyaman, dan percaya kalau tidak ada orang di jalan yang mengobyektifikasi tubuh mereka di dalam otak. Menelanjangi dengan mata.



Makanya setiap kali ada orang yang menggoda saya di jalan, saya selalu mengumpat dengan kata sebangsa "anjing" dan kawan-kawannya, serta pasang muka jutek. Kasar? Ya mau bagaimana lagi. Tubuh saya itu ya punya saya. Saya punya otoritas untuk melarang orang menjadikan saya obyek, yang mereka tonton dan nikmati. Sebagai manusia, saya punya hak untuk merasa nyaman. Untuk tidak dianggap menarik dan diundang untuk berkenalan dengan orang asing.

Simone de Beauvoir, feminis eksistensialis asal Prancis yang juga "pacarnya" Sartre (dan dimakamkan di makam yang sama) itu pernah berkata seperti ini: man attaches himself to woman -- not to enjoy her, but to enjoy himself. Jadi ketika ada orang yang menggoda kamu, yang menjadikan kamu candaan seksual, yang memotret kamu terus dijadikan obyek seksual di dalam perbincangan dengan kawan-kawannya, itu artinya dia mau menikmati dirinya sendiri. Ya buat kesenangannya sendiri. Dia tidak peduli kamu senang atau tidak.

Yang jelas, kalau kamu waras, kamu sebetulnya tidak senang.


Sayangnya dunia ini makin lama makin tidak waras. Atau banyak yang sudah sadar kalau tidak waras, tapi pura-pura baik-baik saja. Banyak yang menganggap kalau menggoda perempuan, atau menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan gurauan adalah hal biasa. Oh my gosh. Meminjam istilah Pak Ahok: biasa nenek lu! Coba kalau yang digoda adalah ibu kamu? Kakak perempuan kamu? Coba kalau yang tubuhnya dijadikan bahan gurauan itu adalah ibu kamu? Anak perempuan kamu? Kamu akan tetap melanjutkan gurauan itu? Hanya orang yang tidak pantas disebut orang lagi yang bisa begitu.

Okelah, kalian yang berpikiran sempit itu bisa bilang kalau"gitu doang mah biasa, namanya juga cowo". Tapi kalau tradisi "namanya juga cowo" itu diteruskan, mau berapa bajingan lagi yang memenuhi dunia yang sudah penuh dan harusnya punya seleksi alam yang lebih ketat lagi lantaran tidak semua orang pantas untuk hidup? Mau sampai kapan para wanita, -yang nantinya akan melahirkan anak untuk kamu para pria, yang dulu dan nantinya jadi orang yang melahirkan kamu, menyusui kamu, mengurus ompol dan pampers kamu, mengajari kamu dari bayi yang tadinya hanya bisa nangis dan minta, jadi seorang manusia yang bisa menghasilkan- dijadikan obyek gurauan dan kesenangan yang seolah setara sama rokok yang barusan kamu buang di selokan setelah dihisap dan dinikmati, atau seperti video game yang kamu mainkan saat sedang bosan? Mau sampai kapan kita menjadikan kelakuan para orang kurang ajar ini sebagai sesuatu yang wajar, sewajar hujan deras Bulan Maret? Mau sampai kapan? Sampai kiamat, iya?

Dan sekali lagi, tulisan ini bukan tulisan yang menggambarkan feminisme garis keras atau feminisme jenis apapun. Tidak perlu juga saya berteriak pakai quote-nya Beauvoir: on ne naît pas femme, on le devient -kita tidak dilahirkan menjadi perempuan, tetapi kita menjelma jadi perempuan (menggunakan artikel maskulin "le"dalam Bahasa Prancis. Menyamakan perempuan dengan lelaki) untuk menegaskan kalau "woy, kita perempuan juga makhluk di dunia". Ini 2016, orang ngomong nggak cuma bisa pakai mulut, tapi tinggal ngetik, dan seharusnya oknum pria brengsek itu tahu kalau perempuan juga manusia yang perlu dihormati tubuhnya. Bukan dijadikan meme berbau seks yang kelihatannya berlendir itu, atau dipanggil-panggil di jalan seperti wanita panggilan yang mau diapain aja. Kecuali kalau kalian, pria brengsek, bisa lahir selain dari rahim ibu (yang tentunya berjenis kelamin perempuan).


Jadi mulai besok, buat kamu yang suka nyuit-nyuitin perempuan di jalan, atau bikin meme yang menggunakan tubuh perempuan, mending kamu jual otak ngeres kamu itu di toko online (kalau laku, paling juga enggak). Dan buat para perempuan, jangan mau terima kalau digoda lelaki di jalan, karena tubuhmu bukan gurauan murahan!

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe