Gurauan Seks dan Bumbunya yang Renyah

07.45



Tubuh perempuan selalu renyah untuk dikunyah dalam berbagai hal. Tak sekadar diskursus serius, tetapi juga lelucon yang secara subyektif kita sebut sebagai lelucon murahan. Contohlah, gambar-gambar lelucon pasca digusurnya Kalijodo.

Salah satu contoh gurauan tentang Kalijodo yang banyak beredar di media sosial
Tentunya kita semua tahu Kalijodo terkenal dengan kafe-kafe prostitusinya. Maka, usai digusur, isu prostitusi menjadi isu paling seksi dan menyenangkan untuk dibahas. Bahkan menyebar berbagai meme dan gurauan perihal prostitusi tersebut. Iya, lagi-lagi menyangkut para PSK, tubuh PSK, baju seksi PSK, dan sebagainya yang lezat dan bersifat seksual. Padahal penggusuran itu tak cuma berkaitan dengan praktek prostitusi saja.
Penggusuran Kalijodo
Iya, seks memang selalu diperbincangkan secara asyik. Mungkin kalau perbincangan diibaratkan proses makan, dan seks adalah makanannya, maka seks adalah camilan renyah yang gurih, yang menggemukkan, tak sehat, tapi enak dimakan saat sedang bersantai nonton televisi. Layaknya seseorang yang tahu bahwa junk food atau keripik kentang kemasan adalah sesuatu yang tak sehat, bukan makanan bergizi, tetapi selalu terasa gurihnya.

Dan kalau keripik kentang menggunakan micin sebagai bumbu, maka seks memiliki bumbu tabu. Iya, tabu. Kalau saja seks tidak tabu, kalau saja tidak dianggap sesuatu yang "mesum", mungkin kita akan membicarakan seks sama seperti membicarakan ponsel terbaru.


Tabu merupakan pelarangan yang telah "disepakati" secara sosial terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh masyarakat. Dalam Sosiolinguistik, Sumarsono mengatakan bahwa ada tiga jenis tabu.

Yang pertama adalah taboo of fear, tabu untuk melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan celaka. Contohnya seperti larangan menggunakan baju hijau saat pergi ke Laut Selatan, karena akan menimbulkan kemarahan Nyi Roro Kidul yang akan menyeret kita ke laut. Kemudian taboo of delicacy , yang merujuk pada eufemisme [ungkapan yg lebih halus sbg pengganti ungkapan yg dirasakan kasar, yg dianggap merugikan atau tidak menyenangkan], seperti misalnya ungkapan sakit jiwa untuk menyebutkan kata gila, atau PSK untuk pelacur. Dan yang terakhir adalah taboo of propriety, yakni tabu yang berkaitan dengan seks, dengan bagian tubuh, dan kata-kata makian yang tidak pantas.


Tabu, yang berasal dari salah satu rumpun bahasa Polynesia taboo, adalah kata-kata yang diketahui oleh penutur, tetapi dihindari dalam sebagian atau semua bentuk atau konteks dalam sebuah tuturan karena alasan agama, kepantasan, kesantunan, dan sebagainya (Matthews,1997:371). Maka dari itu, seharusnya aturan tabu menjadi tameng untuk kita tidak melakukan hal-hal yang mengandung tabu itu sendiri. Tetapi manusia suka melakukan hal-hal yang dilarang: manusia menyukai tantangan. Larangan sendiri adalah salah satu tantangan, bagaimana manusia dapat melakukan sesuatu, menembus batas larangan tersebut. Termasuk soal seks. Dan juga memperbincangkannya, serta mengguraukan hal tersebut.

Masalahnya mungkin adalah, sampai kapan kita membicarakan hal-hal yang begitu dangkal menyoal tubuh? Sampai kapan kita akan menjelek-jelekkan prostitusi, pelaku dan penikmatnya, tetapi di sisi lain kita menikmatinya?

Foto: berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe