Eksitasi Kota Besar Zootopia

19:32


A city is a large community where people are lonesome together - Herbert Prochnow

Usai menonton Zootopia di layar bioskop, saya masih mencari-cari potongan adegan-adegan di dalamnya yang diunggah di Youtube. Bukan karena saya tidak menyimak dengan baik. Namun kekocakan yang ditawarkan oleh Zootopia sangatlah unik dan tidak banal.

Film Zootopia besutan Disney, yang meraup pendapatan lebih dari 73 juta dollar Amerika dalam tiga hari sejak penayangannya ini memang memiliki premis yang sederhana. Dengan konsep anthropomorphisme di mana semua hewan telah berevolusi dan bertingkah laku seperti manusia, seekor kelinci desa bernama Judy Hopps bercita-cita ingin menjadi polisi. Namun dalam dunia itu, profesi polisi biasa dilakoni oleh hewan-hewan kuat dan besar, seperti banteng, kerbau, gajah, harimau, dan singa. Tidak mungkin seekor kelinci menjadi polisi. Seekor kelinci lebih baik di desa dan menjadi petani, seperti yang dikatakan oleh orangtua Judy Hopps.


Tapi Judy Hopps tetap bersikeras menjadi polisi. Saat dewasa, dia pun memasuki akademi kepolisian, di mana Hopps menjadi satu-satunya taruna yang kecil, yang berfisik lemah. Namun keinginan kuat dan sifat yang tak pantang menyerah membuatnya sukses jadi lulusan terbaik, dan menjadi polisi di Zootopia, kota besar yang jadi dambaannya sejak dulu, yang dia anggap sebagai tempat di mana semua binatang dapat menjadi apapun. Place where everyone can be everything.


Nyatanya toh Zootopia tak seperti apa yang dibayangkan oleh Judy. Sama seperti ekpektasi orang-orang yang berurbanisasi ke kota besar.

Sebetulnya, banyak orang yang tertarik dengan isu rasisme yang tidak menggurui di film ini. Tetapi saya pribadi lebih tertarik dengan eksitasi, ketertarikan Judy Hopps terhadap Zootopia. Melihat Judy Hopps seperti melihat saya yang dulu merasa girang pindah ke Jakarta.

Mengapa ya, kota besar selalu penuh dengan harapan? Padahal kita sendiri pun tahu, bahwa semakin besar sebuah kota, semakin banyak pula konfliknya. Jawabannya mungkin karena kota besar menawarkan banyak kesempatan. Semu ataupun tidak, sukar ataupun tidak untuk digapai, toh kesempatan itu ada.

Banyak profesi yang ada di kota besar, tetapi tidak terdapat pada kota kecil. Misalnya saja, selebriti, model yang membawakan brand-brand mewah, apapun itu. Kota kecil tak menyediakannya karena ya, sekali lagi, sudutnya hanya itu-itu saja, keperluannya ya itu-itu saja. Maka dari itu Judy Hopps sang kelinci pun merasa kalau kelinci bisa jadi polisi hanya kalau pergi ke Zootopia. Kalau dia tetap di desanya, dia akan jadi petani. Dan memang sebetulnya dia tidak salah. Tetapi tidak semua dari kita bisa menjadi Judy Hopps.


Berbeda dengan penduduk kota kecil, mereka yang berada di kota besar lebih apatis dan cuek. Tapi tidak saat hal tersebut menyangkut kesuksesan orang lain dan kelanggengan mereka sendiri. Contohlah Judy Hopps yang meskipun telah menjadi lulusan terbaik di Akademi Kepolisian, tetapi justru disuruh menjaga parkir di hari pertamanya bertugas karena dia adalah seekor kelinci, dan seekor kelinci tidak mungkin bisa menangani kasus mamalia hilang. Menembus batas stereotip dan kelanggengan yang ada di kota besar tidak mudah, meskipun keberagaman lebih banyak ada di sana. Judy Hopps pun harus melewati berbagai rintangan dan berkali-kali berusaha untuk mendapatkan kepercayaan sebagai seorang polisi yang mampu diandalkan. Rela mengesampingkan rasa malu dan ragu pada diri sendiri. Dan juga menggunakan strategi cerdas (ini penting. Kota besar bukan tempat untuk mereka yang lugu dan kurang bijak menggunakan keluguannya itu)

Tapi sebetulnya tidak ada yang salah dengan aktivitas "hijrah". Hijrah, ke sebuah tempat yang lebih besar, justru akan membuat kita lebih mengenal dunia dan potensi kita. Hanya saja, harapan muluk bahwa kota besar adalah kota yang mampu menerima perbedaan, dan jauh lebih baik daripada kota kecil, pada segi apapun, nampaknya juga tidak bisa dibenarkan. Kota besar bukanlah tempat bagi mereka yang ingin mencapai kebebasan absolut tanpa intervensi pihak lain, bukan juga tempat bagi mereka yang langsung ingin merasakan kemewahan. Kota besar adalah sebuah labirin di mana untuk mencapai hal tersebut, kita harus bisa memilah mana jalan yang tepat, mana jalan buntu. Kebebasan absolut itu tidak pernah ada, bahkan meskipun dikatakan bahwa masyarakat kota besar lebih cuek, lebih berpikiran maju. Tidak pernah ada. Karena makhluk hidup, manusia dalam hal ini, tak akan lengah dengan kekurangan orang lain.


Untuk itu, tak salah rasanya kalau kota besar lebih cocok bagi mereka yang realistis. Bagi mereka yang tahu bahwa untuk menjadi apapun tak sekadar bisa dicapai dengan hanya duduk dan menikmati gemerlap lampu, atau punya keyakinan kuat tanpa adanya mental baja. Kota besar itu bak perempuan cantik: terlihat indah bila dipandang dari luar, tapi ketika menjalin hubungan dengannya, yakinkah kamu kalau kamu tidak akan mudah merasa sakit hati? Yakinkah dia sempurna luar dalam? Nampaknya tidak.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe