Who To Know: Socrates

12:28



Satu-satunya hal yang saya ketahui adalah bahwa saya tidak tahu apapun

Saat membicarakan filsafat, sulit rasanya untuk lepas dari nama Socrates. Dia memang hanya satu dari sekian filsuf di masa sebelum masehi, yang berasal dari Yunani. Namun berbeda dari filsuf Yunani lain, dia lebih tertarik pada pembahasan tentang bagaimana menjalani hidup. Dan pembahasan itu senantiasa melawan hal-hal yang sebetulnya telah langgeng pada saat itu. Seperti misalnya konsep kekayaaan, kebaikan, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, Socrates sering dijuluki sebagai pelopor filsafat etika. Filsafat etika sendiri pada dasarnya adalah filsafat yang membahas perihal "hidup yang baik". Mungkin kalau dibandingkan dengan metafisika (yang biasa dibahas oleh filsuf Yunani lain), filsafat etika lebih kepada penerapan.

Socrates sering mengajak masyarakat untuk berdialog dengan cara bertanya. Ya, bertanya. Persis seperti apa yang pernah dikatakan olehnya "Satu hal yang saya tahu di dunia ini adalah bahwa saya tidak tahu". Ketidaktahuan biasanya identik dengan kebodohan, sesuatu yang negatif. Padahal, sebetulnya bisa saja hal itu positif, asalkan kita selalu tahu bahwa kita tidak tahu.

Lalu apa yang terjadi bila kita tahu bahwa kita tidak tahu? Kita akan selalu mencari. Salah satunya dengan bertanya. Seperti Socrates yang selalu bertanya hingga membuat seseorang menjadi ragu akan keyakinannya sendiri. Kalau dirumuskan, kira-kira seperti ini konsep dialog Socrates:


Seseorang: Perempuan itu jelek
Socrates: Darimana kamu tahu dia jelek?
Seseorang: Dia tidak enak dilihat
Socrates: Siapa yang melihatnya?
Seseorang: Aku
Socrates: Kalau aku merasa suka melihatnya, apakah dia masih jelek? Dan apakah dia lalu menjadi cantik?
Seseorang: Orang lain juga bilang dia jelek
Socrates: Orang yang mana? Apakah dia yabg menetapkan standar-standar tertentu tentang kejelekan atau keburukan? Apakah standar itu berlaku umum? Atau sudah tertulis?
Seseorang:...

Banyak hal yang menurut kita merupakan kebenaran Padahal, hal tersebut hanyalah masalah persepsi saja. Manusia adalah makhluk yang subyektif, meskipun memiliki panca indera. Untuk itu, kita harus selalu bersifat kritis dan skeptis, agar kita tidak serta merta menelan bulat-bular apa yang dikatakan orang lain.

Lewat pertanyaan, Socrates mengajak kita untuk kembali pada kodrat kita sebagai manusia: berpikir untuk bisa menjalani hidup. Sayangnya, hal yang dilakukan Socrates ini tak dapat diterima oleh beberapa pihak, termasuk oleh penguasa saat itu, sehingga Socrates pun terpaksa harus menjalani persidangan, yang membawanya pada hukuman mati: meminum anggur yang telah diracun.

Sumber Foto: Berbagai Sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe