Who to Know : Jacques Derrida

14.03



Everything is arranged so that it be this way, this is what is called culture

Apa yang kalian pahami sebagai kebenaran? Sesuatu yang Anda kalian lihat dengan mata kepala sendiri? Atau sesuatu yang telah turun temurun dianggap sebagai kebenaran?

Sebetulnya, konsep kebenaran itupun bias. Adanya keyakinan penuh atas suatu hal sebagai kebenaran, akan membuat pencarian kita terhenti. Lagipula, belum tentu yang kita anggap kebenaran itu betul-betul sebuah kebenaran. Ataupun bila memang itu sebuah kebenaran, maka bisa jadi bila dilihat dari sisi lain, bukan hanya itulah satu-satunya kebenaran. Tetapi, ada kebenaran lain.

Jacques Derrida, seorang filsuf asal Prancis yang lahir pada tahun 1930 di Aljazair, menggunakan konsep dekonstruksi untuk "mengobrak-abrik" berbagai kebenaran. Yang paling terkenal darinya adalah, dalam teks. Seperti misalnya konsep penanda dan petanda

Beberapa filsuf post-modernisme seperti Saussure, menekankan relasi antara penanda/signifier (alat ekspresi), dan petanda/signified (yang diekspresikan) secara obyektif. Sederhananya begini saja. Ketika kita menyebutkan kucing, yang terpikir di benak kita adalah seekor hewan mamalia berekor berbulu yang lebih kecil daripada harimau -intinya seperti kucing yang kita kenal selama ini-

Menurut Derrida, arti sendiri tergantung pada situasi di mana dan kapan teks tersebut dibuat. Tidak selamanya kucing memiliki makna seperti itu.  Dan arti dari suatu bahasa tidak dapat diartikan begitu saja hanya menggunakan sistem penanda dan petanda. Untuk itu, dalam komunikasi, bisa saja terjadi perbedaan penafsiran akan suatu hal, dan hal itu wajar terjadi karena antara kedua belah pihak, pemberi informasi dan penerima, memiliki perbedaan tertentu.

Contoh sederhananya begini saja. Misalnya, kalian berkata begini pada orang yang berbeda generasi dengan kalian "Si Adi itu brengsek banget gokilnya". Brengsek sendiri, bagi sebagian besar orang dengan generasi yang lebih tua, memiliki konotasi negatif. Brengsek merujuk kepada sifat yang buruk, merugikan, dan tidak disenangi orang lain. Padahal, yang kalian maksud adalah, bahwa si Adi begitu lucu, dengan kelucuan yang kreatif hingga membuat kalian terpingkal-pingkal.

Dan atas pemikirannya ini, Derrida sering dikaitkan dengan teks dan bahasa. Padahal, dekonstruksi tak sekadar berguna dalam membedah teks saja. Dekonstruksi juga berguna dalam membedah berbagai masalah sosial. Membuat kita lebih bijak dalam melihat suatu masalah, karena dalam dekonstruksi, kebenaran dibedah sedemikian rupa, dan hal-hal yang telah turun temurun diyakini dirombak. Dekonstruksi membuat kita menyadari bahwa segala hal dan permasalahan tidak hanya terdiri atas satu sisi semata.

Dekonstruksi tidak hanya mengenai analisis teoritis, yang mempertanyakan makna dan hakikat dari sebuah teks atau wacana, tetapi dekonstruksi juga mengenai bagaimana menulis atau memulai sebuah teks. Dekonstruksi bukan merupakan tabula rasa, dan ia berbeda dengan kritik , karena dekonstruksi sendiri juga mendekonstruksi kritik dan kritik memiliki sebuah akhir dan bersifat menghakimi, sementara dekonstruksi meyakini bahwa tidak ada akhir dan tidak ada kebenaran dan kesalahan.

Dalam teorinya ini, Derida juga menciptakan sebuah kata baru, yakni  differance. Kata differance diciptakan Derrida untuk menunjuk bagaimana makna diturunkan dari penundaan dan tidak pernah hadir sepenuhnya, melainkan selalu tertunda). Istilah Différance, dapat dibedakan dalam empat arti yaitu: pertama, différance menunjuk kepada apa yang menunda kehadiran.. Kedua, différance adalah gerak yang mendiferensiasikan. Ketiga, différance adalah produksi semua perbedaan yang merupakan syarat untuk timbulnya setiap makna dalam setiap struktur. Keempat, différance bukan merupakan asal-usul. 

Derida, masih dengan dekonstruksinya, juga menyangkal adanya berkah. Ya, berkah. Hal-hal dalam kehidupan yang kita anggap sebagai hadiah tanpa pengirim. Menurut Derrida, bila berkah tersebut benar-benar merupakan berkah, maka tak ada kewajiban bagi kita untuk memintanya, dan tidak ada imbalan apapun atas pemberian berkah tersebut. Padahal, tidak ada di dunia ini hal yang semacam itu, karena semua kesenangan selalu memiliki konsekuensi dan diperoleh setelah perjuangan sekian lama. Untuk itu, dalam teori dekonstruksinya, Derrida menyebutkan bahwa tidak ada yang namanya berkah.


Meski begitu, tetap ada kritik terhadap dekonstruksi. Dekonstruksi dianggap tak memiliki dasar, dan dalam beberapa kasus, justru membuat salah besar menjadi bias. Dalam hukum misalnya. Dekonstruksi membuat kita mempertanyakan, benarkah seorang penjahat itu bersalah? Pantaskah dia dihukum? Ya, terkadang dekonstruksi tak dapat digunakan secara mentah-mentah. 

Namun tetap saja, dekonstruksi Derrida ini merupakan sebuah terobosan baru, tak hanya bagi filsafat barat pada masa itu yang terlalu berpegang pada metafisika (keberadaan atas suatu hal), dan logosentrisme (aliran yang menganggap bahwa setiap rumus ataupun konsep memiliki kebenaran tunggal), tetapi juga bagi pemikiran manusia: bahwa kita semestinya secara kritis mempertanyakan berbagai hal yang terjadi di sekitar kita.

Sumber:
http://kunangkunangbesar.blogspot.co.id/2012/04/menolak-logosentrisme.html?m=1
The Greatest Philosophers : 100 Tokoh Filsuf Barat dari Abad 6 SM - Abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis oleh Kumara Ari Yuana

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe