Standar Ganda Kematian

19:16



Ada banyak kejadian penting terkait kematian akhir-akhir ini: mulai dari kematian Mirna, gempa bumi di Taiwan, hingga kasus penabrakan oleh Toyota Fortuner yang terjadi di Kalijodo.

Orang-orang pun kemudian menyayangkan hal ini.  Sama halnya seperti yang sebelum-sebelumnya. Kematian memang memiliki konotasi negatif, dan selalu dihindari. Padahal sejak awal, kita sudah tahu bahwa kematian suatu saat akan datang.

Heidegger, seorang filsuf asal Jerman, pernah berkata bahwa keberadaan manusia merupakan keberadaan menuju mati. Dan kematian itu bukan sekadar sesuatu yang akan terjadi di masa depan, tetapi selalu hadir bahkan di saat kita masih hidup. Mengapa? Karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Bisa saja sedetik setelah membaca tulisan ini, bisa saja setelah kita divonis dengan penyakit tertentu. Tidak ada hal yang bisa menghindarkan kita dari kematian. Bahkan obat dan dokter sekalipun. Atau teknologi canggih yang bisa memodifikasi metabolisme organ. Maka dari itu, Heidegger mengatakan bahwa kematian lebih baik diterima dengan cara mempersiapkan diri sebaik-baiknya, kapanpun. Dengan begitu, kita bisa menjadi manusia yang utuh.

Pendapat Heidegger ini sebetulnya sangat cocok diterapkan di Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara beragama, di mana agama senantiasa mengajarkan kita bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk kematian, dengan berbuat sebaik-baiknya saat hidup. Agama pun turut mengajarkan bahwa kematian adalah takdor yang tak bisa dihindari. Sayangnya, keyakinan ini tidak diimplementasikan di Indonesia. Kendati mengaku beragama (dan seringkali fanatik dengan hal tersebut), tetapi tetap saja banyak yang menyalahkan orang lain dalam kematian.

Dalam kasus Toyota Fortuner misalnya. Memang sih, pelaku menabrak korban karena mabuk. Dan orang mabuk tidak boleh mengemudikan kendaraan. Selayaknya juga, dia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tetapi melihat orang-orang yang mengaku percaya pada takdir, lantas mengingkari kepercayaannya sendiri dengan menyalahkan seseorang sebagai satu-satunya penyebab kematian, rasanya aneh. Rasanya seperti gemas dan ingin melihat logika macam apa yang mereka pakai.

Mengapa kalau menyangkut kematian, orang suka menetapkan standar ganda? Dan mengapa mereka tidak menyadari hal tersebut? Seharusnya mereka memilih: mau mempercayai kematian sebagai sesuatu yang sudah ditetapkan (seperti yang diajarkan oleh agama dan juga dikatakan oleh Heiddeger), ataukah ingin seperti Sartre, dengan konsep kebebasannya, termasuk bahwa kematian manusia adalah pilihannya sendiri?

Terkadang sih, saya berpikir bahwa, mungkin manusia ditakdirkan untuk mati, karena kalau hidup terlalu lama, dunia akan penuh dengan standar ganda, dan dunia seperti itu tidak nyaman untuk dihuni.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe