Saya Mau Jadi Kaya Seperti Mereka

09.43



Kita harus berterima kasih kepada Instagram karena berkat aplikasi tersebut, kita dapat secara visual menyelami kehidupan orang-orang yang sebelumnya tidak tersentuh. Seperti misalnya si-anak-gaul-kelas-sebelah. Atau selebriti. Bahkan sosialita, dengan nama keluarga sepanjang KRL yang kehidupannya tak tersentuh kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Sewaktu belum ada Instagram, siapa coba yang tahu anak si konglomerat ini gaulnya ke mana? Siapa yang tahu kalau mereka barusan ikut Coachella dengan atasan rumbai-rumbai? Siapa yang tahu kalau mereka baru beli jam anyar dengan harga setara rumah KPR di kota satelit Jakarta? Tidak banyak yang tahu kan? Bagaimana bisa tahu, kelasnya kan berbeda. Plaza Indonesia, bagi mereka setara warung galon depan rumah masyarakat menengah.

Apalagi, banyak di antara mereka yang instagramnya tidak dikunci. Jadi, "kaum-kaum proletar" seperti (mungkin) kita ini bisa dengan leluasa melihat rekam jejak kemewahan itu. Hermes yang bertebaran di mana-mana dan Charlotte Olympia yang dipakai untuk sekadar beli camilan. Juga muka yang sepertinya kok tidak pernah jadi muka bantal, rambut yang tidak pernah kena bad-hair-day, serta kulit yang tidak pernah bersisik ataupun kena knalpot. Siapa coba, yang tidak mau hidup seperti itu?

Maka dari itu, jangan heran kalau kemudian banyak komentar-komentar dari rakyat kelas menengah, yang dibumbui dengan jutaan kekaguman dan ketidakpercayaan semacam "Husband future be like...", atau "Gimana sih biar bisa cantik kayak kakak..", atau "Hebat banget, udah cakep, bisa main musik, kaya pula!" atau lagi,  "Keluarga idaman banget sih!".

Tidak ada yang salah dengan pujian. Bahkan menurut saya, pujian ini jauh lebih baik ketimbang nyinyiran pedas para haters yang secara langsung ditujukan di kolom komentar instagram (please deh, kalau mau ngomongin orang yang pinter dikit, jangan frontal dan bikin malu orang yang bersangkutan). Tapi pujiannya terkadang berlebihan sekali. Seolah para konglomerat bertabur kilau di Instagram itu adalah malaikat yang tidak luput dari kesalahan. Ya sebetulnya sih memang bisa dimaklumi, karena kita masih merasa terbatasi oleh sistem-sistem kelas. Dan seperti yang Karl Marx katakan, sistem kelas ini sudah ada sejak jaman bercocok tanam, saat mulai ada sistem tuan pemilik lahan dan pekerjanya.

Well, hingga kini pun, konglomerat-konglomerat itu adalah orang -orang dan anak-anaknya yang memiliki sesuatu kan? Bukan sekadar tanah kaalu sekarang. Tapi perusahaan. Company.

Konglomerat memang punya kehidupan yang keren. Yang jelas kelihatannya lebih berkilau dibanding kita yang kaum menengah. Lebih mudah mendapatkan akses ke mana-mana. Tapi kalau dibilang menjadi mereka adalah sesuatu yang ideal, mungkin kurang tepat. Selalu ada kekurangan dalam diri setiap orang. Makanya saya selalu muak tiap kali ada orang, yang, gara-gara kebanyakan melihat kehidupan glamor di media sosialnya, jadi berharap ketinggian. "Pengen dilamar sama anaknya 10 besar terkaya Indonesia". Atau "pengen punya pacar cantik kayak anaknya yang punya media ini".

Oh geez. Berkacalah. Selain memang setiap orang punya kelasnya sendiri dalam mencari pasangan, tidak selamanya punya pacar konglomerat itu asyik. Siapa yang tahu kalau ada harga yang harus dibayar mahal, dengan memiliki pasangan seorang konglomerat? Apalagi kalau kitanya bukan dari kalangan yang sepadan. Apa ya, kamu juga tidak tahu kan, uang mereka dari mana? Apakah permasalahan keluarganya kompleks? Atau, apakah dia doyan jajan? Siapa yang tahu?

Jadi, daripada kalian bermimpi bersanding, atau jadi konglomerat, lebih baik sekarang kalian masukkan ponsel ke tas, dan cari hal yang lebih realistis di sekitar kalian.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe