Rumahmu, Teringat Selalu

23:17






Mungkin beberapa kenangan selayaknya dibekukan. Bukannya apa. Hanya saja, bila mencair, dia akan berubah menjadi genangan air mata.

Aku masih ingat saat pertama kita bertemu. Sederhana saja. Waktu itu sore yang hangat, sebentar lagi akan matang langitnya. Aku berjalan-jalan menghabiskan sisa-sisa luang di hariku.
Suasana masih sama seperti yang lalu. Bu Asih dan warung jusnya, Pak Supri yang baru pulang kerja, dan anak-anak main sepeda. Sore yang selalu sama, berulang-ulang, tapi bagiku suatu repetisi yang menyenangkan. Aku suka menghirup udara sekitar rumahku yang ramah. Lalu semuanya berjalan serupa, sampai aku bertemu sesuatu yang sebelumnya tak pernah kulihat.
Itu kamu.

Kupikir, kamu mungkin orang yang baru. Dan memang begitu keadaannya. Aku suka tertarik dengan beberapa hal yang asing. Dan itu termasuk kamu. Jadi apabila pada suatu hari kamu bertanya apakah pada pandangan pertama kamu memesonaku, aku tak tahu jawaban mana yang betul. Mungkin iya, tetapi bukan pesona semacam "kepadamu jatuh cinta aku pada pandangan pertama". Tidak seperti itu, barangkali lebih tepat disebut penasaran.

Maka dari itu, aku sering lewat di depan rumahmu. Membuat kita makin lekat saja berkenalan. Aku pura-pura akan pergi ke minimarket, dan terpaksa harus lewat depan rumahmu. Padahal aku hanya ingin bertemu wajah denganmu. Lalu kita jadi lebih dekat. Kamu bilang, kamu sedang habiskan liburanmu di sini. Di rumah pamanmu. Dan kemudian kamu bilang kamu jatuh cinta kepada kotaku. Kubilang dalam hati, aku jatuh cinta kepadamu.

Lantas kuajak kamu ke berbagai tempat. Sekadar makan malam singkat di angkringan, atau menghabiskan waktu menawar barang di pasar tengah kota yang buka hingga malam. Padaku kamu bilang bahwa andaikata waktu bisa dibekukan, sehingga liburan tak kunjung usai. Mendengarnya, aku gembira tiada tara.

Tapi waktu mengalir. Seperti air kelapa muda yang suka kita teguk di beberapa kesempatan. Segala hal yang menyenangkan selalu mengalir lebih cepat. Dan lantas berubah menjadi genangan.
Di akhir bulan, kamu pulang. Aku membayangkan hari-hari yang merentang penuh kekosongan. Tapi kupikir lagi, jarak bisa dilipat dengan berbagai hal: pesan singkat, dunia maya. Jadi aku rasa kita tidak akan betul-betul berpisah.

Sayangnya, semakin besar jarak dan waktu, semakin besar pula kecepatanmu untuk menghilang dari kehidupanku. Pada suatu waktu, kepadaku kamu berkata bahwa mungkin kamu sibuk, jadi bisa saja berlibur setahun lagi, atau tahun depannya lagi. Aku tak ingin sekadar menunggu. Maka sempat pada suatu waktu kususul kamu ke kotamu. Tapi pertemuan kita tidak sehangat sebelumnya. Begitulah. Kecepatanmu berubah, berakselerasi terlampau lekas.


Maka, saat ini, acap kali aku lewat di depan rumah pamanmu, aku selalu ingat saat pertama kita bertemu. Dan senyumanmu saat itu, membuatku sulit untuk membekukan kenangan itu. 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe