Perkawinan Dua Paham di Cina

09.56



Kita mengenal dua aliran yang "bermusuhan": kapitalisme dan komunisme. Keduanya memang terlihat berseberangan. Kapitalisme kesannya lebih terbuka (terutama dalam hal ekonomi), tetapi penuh dengan persaingan dan kelas sosial. Sementara itu, komunisme lebih tertutup, seolah membunuh kreativitas. Tapi, tidak ada jurang kelas.

Dan kalau mendengar kata komunisme, pada beberapa waktu, pikiran kita mungkin akan tertuju pada Cina.

Cina terlepas dari era dinasti usai Partai Komunis Cina, yang dipimpin oleh Mao Zedong berhasil.menguasai Cina daratan dan mendirikan Republik Rakyat Cina. Komunisme ala Zedong melarang kepemilikan privat, tetapi berbeda dengan Uni Soviet yang berfokus pada buruh, Zedong berfokus pada kesejahteraan pertanian. Sayangnya, kebijakan ini justru membunuh masyarakat. Semua orang dipaksa bertani. Padahal tidak semua orang bisa bertani. Belum lagi kebijakan lain yang sifatnya militer dan menekan masyarakat.

Sepeninggal Mao Zedong (yang diiringi dengan berbagai kisah tragis, seperti istrinya -Madame Mao- yang kemudian menyusul dengan cara bunuh diri dan meninggalkan catatan tentang kesetiaannya kepada Zedong) , Cina kemudian dipimpin oleh Deng Xiaoping. Sistem pemerintahan Cina masih menganut komunisme. Namun, Xiaoping menyadari pentingnya meningkatkan perekonomian dengan cara menarik banyak investor. Di sinilah mulai ada perkawinan dua aliran yang berseberangan: komunisme dalam pemerintahan, dan kapitalisme dalam ekonomi.

Sistem yang dianut oleh Xiaoping ini juga diteruskan oleh Jiang Zemin, dengan Prinsip tiga representasi yang memperbolehkan para kapitalis menjadi anggota partai. Kemudian Hu Jintao, penerusnya, berpendapat bahwa masyarakat haruslah harmonis agar penyakit kapitalis tidak menjangkiti dan menghancurkan mereka.

Sementara itu, Xi Jinping, yang memimpin Cina saat ini, semakin menekankan paham komunis itu di pemerintahan: menghilangkan para koruptor, mulai dari level teri hingga hiu. Baik dengan hukuman penjara seumur hidup, maupun hukuman mati. Mungkin kalian masih ingat dengan kasus pasangan Bo Xilai yang tak hanya melakukan korupsi, tetapi juga pemerasan dan pembunuhan terhadap rekan bisnis. Jinping tak pandang bulu terhadap koruptor, dan meskipun hal ini kelihatannya kurang manusiawi, tetapi bagi Jinping, dan mungkin bagi Cina, ini langkah yang baik untuk menata hal-hal yang sebelumnya berantakan

Namun untuk ekonomi, Xi Jinping masih merangkul investor, meskipun jelas tak sebebas negara semacam Amerika Serikat. Tapi Cina menjadi lebih ramah secara ekonomi. Tidak lagi tertutup meskipun banyak sektor penting masih dimiliki oleh negara.

Kemudian, apakah perkawinan dua aliran ini berhasil? Tergantung sudut pandang kita. Namun dari segi ekonomi, hal ini berhasil. Ekonomi Cina meningkat pesat, tetapi tanpa kehilangan jati dirinya. Hanya saja, entahlah apakah akan berhasil diterapkan di negara lain, termasuk Indonesia. Mengingat setiap negara memiliki keunikan budaya sendiri, dan paham-paham ibarat busana: tak semua orang cocok mengenakannya, meskipun terlihat indah.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe