Pelangi dan Tabula Rasa

20.34



Terima kasih kepada media baik pers maupun sosial, kampanye dukungan LGBT pun semakin gencar saja dari hari ke hari. Maklum, kata mereka, dukungan terhadap LGBT adalah bentuk bahwa kita menghargai hak asasi manusia. Dan ajakan bagi mereka untuk "sembuh" adalah salah satu bentuk pencideraan terhadap HAM. "Karena, jadi berbeda adalah pilihan, tau! Dan itu bukan karena mereka sakit!"


Sejujurnya, secara medis saya pun tidak tahu apakah LGBT termasuk penyakit ataupun bukan, dan bukan dalam koridor saya untuk membahas hal itu. Yang jelas saya tahu adalah bahwa sekali lagi, vagina ya pasangannya penis. Dan manusia menikah/kawin, pada dasarnya untuk berkembang biak. Kalaupun ada yang tidak bisa memiliki keturunan, itu lain soal. Setidaknya, mereka tidak salah masuk lubang, dan kehamilan masihbdapat diusahakan dengan cara-cara tertentu. Kalau LGBT? Memangnya bisa, LGBT pakai sistem bayi tabung?

Terlepas dari itu semua, entahlah, saya percaya pendapat John Locke, seorang pemikir asal Inggris pada abad ke-17, bahwa pada dasarnya manusia adalah kertas putih (tabula rasa), dan pengetahuan serta pengalaman hidup yang akan membentuk dirinya. Termasuk menjadi LGBT. Memang di dalam diri manusia ada hormon lelaki dan hormon perempuan. Dan persentasenya berbeda-beda setiap manusia. Tapi menjadi apa dan bagaimana, itu tergantung kita dan lingkungan kita. Contohnya seperti kita ingin menjadi pelukis. Mungkin tidak semua orang punya bakat melukis. Tetapi jika dilatih, dia akan bisa melukis.

Sama seperti orang yang terkena gangguan kepribadian. Ada beberapa gangguan kepribadian, yang berasal dari hormon, bukan (kalau saya tidak salah)? Seperti bipolar misalnya. Namun mengapa orang dengan gangguan kepribadian disarankan untuk sembuh, disarankan untuk minum obat, sedangkan LGBT tidak? Kalau memang semua yang membuat kita tidak "normal", tidak seperti manusia pada umumnya adalah masalah hormon, mengapa hanya satu pihak saja yang disuruh berobat, dan lainnya tidak?

Pada dasarnya, kita semua lahir seperti kertas putih. Tabula rasa. Memang kertas-kertas itu tidaklah sama. Tetapi akan menjadi apa, akan diisi apa, itu tergantung kita dan lingkungan. Masalah bentuk itu hanyalah salah satu faktor saja. Karena manusia, toh bukan benda mati yang tidak bisa memilih eksistensinya, bukan?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe