Mengapa Hidup Untuk Travelling?

16:29



Sebagian besar dari kira pasti akan merasa senang saat ditawari untuk melakukan travelling. Pasalnya, travelling identik dengan sesuatu yang seru, yang bisa melepaskan kita dari rutinitas harian.

Tapi bagaimana kalau travelling itu sendiri menjadi rutinitas kita? Mungkin tidak banyak dari kita yang mau. Apalagi bila konsepnya backpacker, atau menggunakan transportasi selain pesawat. Mobil, misalnya. Atau sepeda. Dan bicara soal sepeda, masih ingatkah kalian dengan tragedi kematian dua pasangan istri asal Inggris yang berkeliling dunia dengan sepeda?

Keduanya tewas tertabrak truk di Thailand, usai melakukan perjalanan keliling dunia dengan sepeda selama 18 bulan. Terlepas dari kejadian tersebut, tapi cerita tentang pasangan tersebut sangat unik, mengingat saat ini, sepeda agak jarang digunakan untuk perjalanan yang jauh.


Dan tak hanya sepeda. Ada pula seorang pria (yang lagi-lagi) asal Inggris, John Beeden yang menyebrangi Lautan Pasifik dengan perahu kecil selama 209 hari.


Kalau dipikir-pikir, travelling seperti yang mereka lakukan jelas menguras tenaga. Dan tentunya tidak bisa membuat kita menjadi bak pangeran dan ratu saat liburan, seperti yang dibayangkan oleh banyak orang saat mendengar kata travelling. Tapi mengapa mereka memutuskan untuk melakukan hal itu?

Jawabannya mungkin adalah, kepuasan.

Saat travelling, kita melihat banyak hal. Mungkin laut. Atau pepohonan. Juga kebudayaan baru dan tempat-tempat yang berbeda dengan rumah kita. Maka dari itu, tak salah kalau travelling dianggap sebagai salah satu proses pembelajaran yang membuat pikiran kita lebih terbuka. Puaslah kemudian rasa ingin tahu kita kepada banyak hal.


Travelling, juga membuat kita lebih mudah untuk menjadi diri sendiri, dan secara bebas mengatur apa yang akan kita lakukan, kapan kita bangun tidur, dan sebagainya. Kita mendapatkan kepuasan karena merasa lebih bebas.

Dan yang terakhir, tantangan. Dalam setiap travelling, pasti ada tantangan. Bagi yang berwisata secara sederhana, seperti misalnya pesan tiket pesawat-kamar hotel, dsb, ada kepuasan setelah kita bisa menabung dan mendapatkan tiket serta kamar hotel saat travelling. Itu versi sederhananya. Untuk para backpackers, apalagi yang menggunakan cara ajaib saat travelling seperti contoh-contoh di atas, pastinya akan lebih banyak tantangan. Mulai dari bagaimana bisa menakhlukkan medan, bagaimana bisa bertahan dengan uang seadanya, dan bagaimana secara kreatif dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan keterbatasan.


Tantangan memang suka dianggap menyebalkan. Tapi tantangan adalah salah satu hal yang membuat hidup manusia dapat disebut hidup. Jadi, tidak heran bukan, kalau banyak orang yang tetap mencari tantangan, bahkan saat travelling sekalipun? Bukan karena mereka tidak suka liburan. Tapi seperti kata Albert Camus, filsuf Prancis yang terkenal dengan absurditasnya, hidup akan terlalu mudah tanpa cinta, keindahan, dan tentunya, tantangan.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe